Friday, May 22, 2009

Asal Usul Mimpi

MeoNk,

Aku pikir, tidak ada kalimat yang lebih melankolis daripada ini: kita hidup hanya sekali. Hanya sekali. Tidak ada perulangan. Dan bagiku, sisi terburuk dari kenyataan bahwa kita hidup hanya sekali adalah bahwa kita dalam hidup ini tak bisa menjadi banyak hal, menjadi ini, menjadi itu, hidup di sini, hidup di situ, bersama ini, bersama itu, bersama dia, bersama kamu.

Maka muncullah mimpi.

Dalam hidupku yang singkat ini aku tak bisa sekaligus menjadi ini dan itu, berada di sini (Kairo) dan di situ (Jakarta), bersama dia dan bersamamu. Bahkan nyatanya aku tak sedang menjadi itu, tak sedang berada di sana, tak sedang bersamamu. Maka muncullah mimpi.

Ia dunia kasat mata yang hanya berada dalam pedalaman diri kita, di mana di dalamnya kita bisa menjadi apa saja sesuka kita, berada di mana saja sesuka kita, bersama siapa saja yang kita sayangi. Maka dalam dunia mimpi itu, aku menjadi kawan mainmu, berada di sampingmu, bersamamu.

Dalam dunia mimpi itu, kita bahagia, bermain bersama, heboh sekencangnya, berteriak sekuatnya, menertawakan hidup, mencibir dunia nyata, memelihara dan menjaga dan menimang-nimang impian kita.

Dalam dunia mimpi itu, kau tersenyum, cemberut, mencubitiku, mengejarku, merobohkanku. Dalam dunia mimpi itu, kau sama cantiknya dengan dirimu.

Sunday, March 08, 2009

Arti Sebuah Nama

"Apalah arti sebuah nama?" tanya Shakespeare. Tidak ada yang peduli dengan arti sebuah nama. Orang hanya peduli pada nama sebagai sebuah tanda yang berdiri untuk mewakili wujud lain. Tidak ada yang peduli arti kata Faizah (wanita penakluk); orang hanya peduli fungsi kata tersebut yang mewakili wujud sosok gadis cantik mahasiswi fakultas Syariah Islamiyah al-Azhar tingkat III.

Benarkah demikian?

Dalam dunia sastra, para penulis kisah seringkali memanfaatkan fungsi nama sekaligus arti nama tersebut untuk menyampaikan sebuah pesan tersirat, tersembunyi, atau untuk mengukuhkan pesan yang tersurat. Paling tidak, penulis kisah akan selalu berhati-hati memberi nama para tokohnya dengan nama yang sesuai dengan konteks, misalnya nama para tokoh dalam novel yang baik selalu menggambarkan latar belakang para tokoh tersebut (paling tidak, menggambarkan latar belakang kebangsaan para tokoh). Sangat aneh seorang tokoh yang berkebangsaan Polandia dalam sebuah kisah bernama Joko Edan. Aneh pula tokoh laki-laki bernama Sulisiowati. Para penulis peduli pada fungsi nama. Hanya sedikit yang peduli pada arti nama-nama tersebut. Penulis novel Etoile Errante (Bintang Jatuh), salah satunya. Le Clezio, penulis novel tersebut, yang memenangkan nobel sastra 2008 kemarin, memilih nama Esther sebagai nama tokoh utamanya. Esther adalah nama Yahudi yang berarti "Bintang Kecil".

Perbincangan tentang fungsi kata (dan nama) juga bisa membawa kita kembali pada perseteruan teologis yang terjadi berabad silam antara Mu'tazilah dan lawan tandingnya: Asy'ariah. Di samping itu, perbincangan tentang hal ini juga bisa membawa kita menilik fungsi doa/mantra/jampi-jampi/puisi. Bagaimana bisa hanya kata-kata yang dilafalkan dengan cara tertentu bisa menimbulkan efek yang berlainan? Esther, sang tokoh dalam novel Etoile Errante, berkomentar tentang doa-doa yang diucapkan seorang Rabi dalam bahasa Ibrani, "Aku tak paham artinya, tapi mendengarnya hatiku menjadi tentram."

"Apalah arti sebuah nama?" pertanyaan itu muncul lagi. Entahlah. Tapi sebuah perusahaan penghasil panci asal Perancis pernah tak berhasil memasarkan hasil produksinya di Indonesia gara-gara merk dagang yang mereka pakai. Mengapa? Karena merk panci yang hendak mereka pasarkan di Indonesia itu adalah "SILIT".

Aplikasi Analisa Referensi dan Diferensi

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tugas dari Makar untuk menulis kritik sastra atas teks cerpen karya Arif Friyadi. Saya menyanggupinya dengan dasar bahwa hal ini adalah hal baru yang menarik. Ini bagi saya adalah kesempatan yang tak sering bisa saya dapatkan, untuk belajar hal-hal baru yang menarik perhatian. Maka bermodal keinginan, minat dan sedikit keberanian mencoba hal baru, saya menulis kritik tersebut.

Satu hal yang harus saya sampaikan adalah bahwa saya tidak memiliki basis ilmu kritik sastra yang mapan. Saya mencomot dari berbagai bacaan yang meresap dan membentuk cara berpikir saya. Berkenaan dengan hal ini, saran dan kritik dari siapapun amat saya tunggu.


Aplikasi Analisa Referensi dan Diferensi
Studi Kasus Teks “Takkan Putus Kubersyukur”

Pengantar

Saya tidak akan memungkiri keterbatasan ruang lingkup kritik yang akan saya bangun, dan saya tidak akan mengambil alasan keterbatasan ruang rubrik. Ini murni bersumber dari keterbatasan metodologis saya sebagai pengkritik. Titik fokus kritik saya adalah teks. Tapi selain teks saya juga akan menyinggung tentang konteks di mana teks tersebut dilahirkan. Dalam kritik ini saya sama sekali tidak mengupas sang pengarang, dengan satu alasan pokok bahwa tugas sang pengarang selesai setelah teks dilahirkan. Ada dua sisi teks yang hendak saya bahas, referensi dan diferensi.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebelum masuk pada kritik teks, saya merasa perlu menjelaskan apa yang saya maksud dengan dua terma yang saya sebut barusan, referensi dan diferensi. Referensi bisa kita anggap sebagai rujukan seseorang dalam menulis sesuatu. Tapi di sini saya menggunakan terma referensi untuk menunjukkan aspek-aspek yang membentuk sebuah teks yang akan dikritisi. Jadi, karena tulisan ini mencoba mengkritik sebuah teks karya sastra, maka referensi yang saya maksud adalah aspek-aspek yang ada dalam teks karya sastra tersebut. Dalam tulisan ini saya membatasi referensi pada tiga aspek; ide cerita, narasi dan tema.

Terma diferensi digunakan J. Derrida untuk menunjuk pada perbedaan pelafalan sebuah kata sehingga menghasilkan makna yang berbeda (dalam tataran bahasan lisan) atau perbedaan huruf sebuah kata sehingga menghasilkan simbol untuk hal-hal yang berbeda. Sebuah contoh akan memperjelas apa yang dimaksud; perbedaan kata “makan” dan “makam” menghasilkan makna yang berbeda. Dalam kritik ini saya menggunakan terma diferensi untuk merujuk pada ciri khas sebuah teks karya sastra sehingga membedakan teks karya sastra tersebut dengan jenis teks karya sastra yang lain.

Dalam kritik ini referensi akan mendapatkan porsi yang banyak, sedangkan diferensi hanya sekadarnya saja saya bahas.

I. Referensi

I.I Ide Cerita

Teks “Takkan Putus Kubersyukur” bercerita tentang kekaguman si Aku terhadap sebuah keluarga muda yang sakinah. Dia iri (dengan konotasinya yang baik), berharap mendapatkan kebahagiaan yang sama, dan berkesimpulan bahwa kunci keberhasilan sebuah keluarga sakinah adalah tak berhenti bersyukur.

Si Aku suatu saat bertandang ke rumah sebuah keluarga, dijamu, dan mereka berbicara tentang kehidupan keluarga sang tuan rumah. Sang penulis, seperti kebanyakan penulis pop bertemakan keluarga, pertama-tama memilih sudut pandang sang istri, sehingga memungkinkannya untuk bisa mengeksplorasi “Perasaan”. Penulis tidak menceritakan awal pertemuan sang suami-istri. Dia langsung menggambarkan peristiwa “penembakan” dan kesepakatan berkomitmen. Penulis tidak menyinggung soal pernikahan, tapi langsung mengeksplorasi pandangan hidup sang pasangan tentang keluarga sakinah; penerimaan yang tulus sang istri terhadap sang suami apa adanya, sikap bersyukur sang istri atas apa yang telah dianugerahkan Allah padanya. Semua itu ditutup penulis dengan desahan si Aku yang kagum dan berharap merasakan kebahagiaan yang sama.

Praktis bisa dikatakan bahwa pondasi dasar cerita dalam teks cerpen “Takkan Putus Kubersyukur” adalah perjamuan dalam bentuknya yang sederhana; si Aku yang bertamu, si tuan rumah yang menjamu. Di atas pondasi dasar cerita inilah teks cerpen ini membangun kisahnya dari awal sampai akhir. Dan bangunan kisah itu secara urut dan secara garis besar terdiri dari, pertama, kilas balik (dengan percakapan yang tidak sesuai konteks), kedua, percakapan dalam perjamuan, dan ketiga, perenungan (percakapan diri) dan pengambilan kesimpulan.

Seperti yang bisa kita lihat bersama, ide cerita teks “Takkan Putus Kubersyukur” amat sederhana. Yang saya maksud amat sederhana adalah bahwa dalam teks tersebut tidak ada komplikasi atau perumitan, baik perumitan itu berdasar pada objek cerita atau perumitan itu berasal dari eksplorasi penulis atas sebuah objek yang menarik perhatiannya.

I.II Narasi

Kilas balik mendapatkan porsi yang besar dalam teks cerpen ini. Hal ini sama sekali bukan masalah, andai saja ditempatkan pada tempatnya yang pas. Dalam kasus teks cerpen ini, kilas balik justru ditempatkan di muka, jauh sebelum pondasi dasar cerita; sesuatu yang amat mengganggu dan merusak keutuhan narasi. Kesalahan ini diperparah dengan adanya peristiwa yang diceritakan (tentang bagaimana sang suami melamar sang istri, lengkap dengan percakapan, yang si penutur, karena teks cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), seharusnya tidak tahu-menahu, dan kalau tahu pun tidak ada gunanya memaparkannya dalam teks).

Semua ini terjadi karena penyampaian cerita yang menurut saya tidak tepat. Ketidaktepatan penyampaian cerita yang saya maksud adalah penggabungan dua sudut pandang penceritaan dalam satu cerita. Kedua sudut pandang itu adalah sudut pandang orang ketiga sebagai dalang atau observer yang serba tahu dan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang ketiga sebagai yang serba tahu tampak mulai awal teks sampai titik di mana si Aku muncul sebagai seorang yang bertamu. Dan sudut pandang orang pertama muncul setelahnya, sampai akhir teks. Ada beberapa kemungkinan mengapa ketidaktepatan penyampaian cerita terjadi dalam teks “Takkan Putus Kubersyukur”. Hal itu mungkin muncul dari ketidakberhasilan penulis dalam bereksperimen. Atau, kemungkinan paling sederhana, bisa jadi hal itu muncul dari kecerobohan penulis yang tidak memperhatikan sudut pandang penceritaan.

Paragraf pembuka, yang diberi posisi khusus oleh pengarang dengan mencetaknya miring, bagi saya datar. Berisi berita tentang sebuah fakta, sikap mendukung, dan alasan atas sikap tersebut. Datar. Tidak ada yang berusaha diperhalus, apalagi disembunyikan untuk dipaparkan di tengah atau di akhir kisah. Satu paragraf awal saya pikir sudah cukup mewakili semua inti kisah. Ada dua hal tentang paragraf pembuka ini. Pertama, ia gagal memancing rasa penasaran dan minat baca pembaca (karena semuanya gamblang dan tampak sederhana, tidak kompleks, tidak menyentuh aspek psikologi pembaca). Kedua, ia gagal memancing pembaca untuk berpikir (karena semuanya sudah tersedia dalam teks, tak ada ruang untuk bertanya, atau celah yang sengaja dibiarkan kosong terselip).

Penulis tampak ingin membangun romantisme khas percintaan, tapi dia tahu batas. Gaya penuturannya santun, dan khas. Dia mampu membangun romantisme dengan gayanya sendiri. Aspek religiusitas dieksplorasi sampai pada ujung batas kemampuan. Penulis juga mampu membangun rasionalitasnya sendiri yang juga khas. Sayang, perjamuan, yang dalam teks cerpen ini merupakan pondasi dasar cerita, tak dibangun dengan narasi yang kuat. Perjamuan tampak hanya dijadikan sekadar alat untuk menyampaikan ide. Hal ini bisa dipahami kalau kita meletakkan teks cerpen ini dalam konteks kelompok masyarakat tempat ia dihasilkan, dan hal ini akan saya bahas dalam bagian diferensi.

Ending bagi saya juga tampak mengganggu, lemah, mudah ditebak dan tidak memuaskan. Hanya perenungan singkat yang tidak mampu membuahkan kepuasan pembaca. Tapi tetap memiliki gaya khasnya sendiri. Soal gaya khas ini pun akan saya coba bahas di bagian diferensi.

I.III Tema

Teks cerpen “Takkan Putus Kubersyukur” pada dasarnya menawarkan pada pembaca akan sebuah pemikiran religius bahwa kunci kebahagiaan di dunia (dan tentu di akhirat) adalah bersyukur. Sebuah petikan ayat al-Qur’an menjadi dasar pokok: “Bersyukurlah maka Kami tambah nikmat Kami, dan berkufurlah maka siksa Kami amatlah pedih”. Pijakan epistem pemikiran ini bersumber dari norma keislaman. Pesan dari teks cerpen tersebut jelas.

Kalau kita bergeser pada pembicaraan tentang bentuk penyampaian, sebetulnya ada opsi lain bentuk penyampaian pesan-pesan yang bersifat religius. Misalnya, dengan bentuk teks liberal yang menurut saya justru lebih bebas menyampaikan pesan apa saja, termasuk pesan religius. Dan lagi, keuntungan lain yang jauh lebih besar dari bentuk penyampaian liberal adalah daya jangkau ruang pembaca. Hal ini saya amati jarang diperhatikan oleh para penulis semacam saudara saya Arif Friyadi. Tapi selera adalah hal lain. Nyatanya, Arif Friyadi lebih memilih bentuk penyampaian yang tidak hendak menyembunyikan simbol-simbol religiusitas yang paling mencolok; mulai dari penamaan tokoh cerita hingga ayat-ayat suci al-Qur’an, bahkan kisah sahabat nabi Muhammad.

Agar tidak merambah keluar konteks, pembahasan tentang tema saya cukupkan sampai di sini.

II. Diferensi

II.I Sastra Sebagai Media Dakwah

Diferensi yang paling mencolok dalam kasus teks “Takkan Putus Kubersyukur” ini adalah pandangan bahwa teks cerpen bukanlah sekadar karya sastra melainkan lebih merupakan media dakwah. Sebetulnya, media dakwah adalah kata lain dari media penyampaian ide. Hanya saja, media dakwah memiliki makna yang lebih khusus dan sempit. Paling tidak ada dua ciri khas media dakwah. Pertama, ia membatasi dirinya sendiri. Kedua, ia bersifat dogmatis, dalam arti tidak memberikan kesempatan pada pembaca untuk berfikir sendiri, untuk menyimpulkan sendiri, untuk membentuk nilai sendiri.

II.II Konteks

Pembahasan tentang konteks di mana sebuah teks dihasilkan sebetulnya amatlah penting demi memahami secara utuh makna sebuah teks tersebut, dan memahami mengapa teks tersebut lahir dan mengambil bentuknya yang khusus. Tapi butuh riset yang lebih mendalam kalau saya harus membahasnya lebih detail.

Penulis teks “Takkan Putus Kubersyukur” adalah ketua FLP cabang Mesir, dan ia menulis teks tersebut dengan sasaran pembaca pertama-tama dan terutama adalah orang-orang FLP sendiri. Dengan memahami konteks ini kita bisa memahami mengapa “Takkan Putus Kubersyukur” lahir dengan bentuknya yang demikian.

II.III Gaya

Arif Friyadi telah menemukan gayanya sendiri. Teks “Takkan Putus Kubersyukur” merupakan contoh teks yang mengamini adagium bahwa nilai sebuah sastra bukan di keindahan bahasanya, tapi dalam makna dan pesan yang dikandungnya. Sang pengarang banyak mengutip ayat-ayat suci al-Qur’an tidak untuk memperindah bahasa teks, tapi untuk menguatkan pesan yang dikandungnya. Salut.

Penutup

Pada akhirnya, dalam dunia penulisan karya fiksi, saya betul-betul harus mengakui peran penting selera sang pengarang dalam menentukan bentuk utuh sebuah teks. Dan kalau sudah soal selera, siapa bisa menimbang-nimbang dan membanding-bandingkannya dengan selera orang lain? Toh selera tak bisa dibujuk, dirayu, apalagi digugat. Pada titik ini, kritik sastra seperti bualan saja. Jangan pedulikan. Abaikan. Jadi, saat saya hendak menulis kritik atas karya sahabat saya Arif Friyadi, saya berkata pada diri saya sendiri, “Abaikan seleramu!” Mengapa? Karena selera kami, saya dan Arif Friyadi, dalam bersastra, sederhananya berbeda. Dan perbedaan saya pikir adalah hal paling wajar yang terjadi pada umat manusia. Referensi kami dalam menulis pun, sederhananya, tak sama.