Kau tak perlu memaafkanku. Biarlah kesalahan itu jadi sejarah yang tak terhapus. Suatu saat nanti, kalau aku lupa diri, kau bisa mengingatkanku di mana letak sejarah itu kita simpan, biar kubaca ulang, biar kuingat ulang, biar kusesali kembali, biar kupelajari lagi.
Kau Pertama, aku memang sedang menghindarimu. Kau seperti horor masa lalu yang sedang aku elak. Bukan kesalahanmu. Kau lebih semacam tumbal. Itulah kenapa sesalku berlipat. Itulah kenapa menghindarimu jadi begitu masuk akal bagiku. Aku butuh waktu. Dan butuh cara untuk meludahkan racun yang selama ini selalu aku simpan di bawah lidahku.
Kau Kedua, aku sudah bisa memahami apa yang telah terjadi di antara aku, kau dan dia. "Suatu saat kita akan tertawa mengingat hari ini," katamu. Ya. Aku tertawa.
Kau Ketiga, aku tahu kau hanya cari alasan saat itu. Kesalahan paling besarku padamu adalah pergi ke rumahmu. Aku seharusnya tak perlu tahu di mana letak perkebunan tebu itu. Aku seharusnya tak boleh tahu manisnya hidanganmu. Berkali-kali, kita hanya berdua di atas kursi. Kesalahan paling krusialku adalah menginterpretasikan kecantikanmu dengan tidak adil. Nomor telepon genggammu masih aku simpan, juga beberapa suratmu. Entah kapan akan aku bakar. Aku belum sempat.
Aku benci mendengar apa yang keluar dari mulut wanita itu, Kau. Aku juga benci melihatmu menunggu. Katanya kau menangis lama. Sudahlah.
Kau Keempat, oh, muncul juga kau akhirnya. Tak jadi kita bikin pengumuman orang hilang. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Tentang hari-hari kita, tentang kerja-kerja kita,kesamaan-kesamaan antara kita, tentang perbedaan-perbedaan antara kita, tentang pondasi yang ingin aku ratakan untuk kemudian aku bangun pondasi yang baru. Kau tahu, pondasi yang aku bangun untuk bisa kita duduki bersama ternyata selama ini rapuh. Mungkin bisa diperbaiki. Tapi aku ingin menghancurkannya. Proyek penghapusan sisi gelap, katakanlah seperti itu. Biar semuanya benderang. Seratus Cara Hidup Senang-mu pasti hanya bualan, bukan?
Kau Kelima, sudah sampaikah ke Weimar? Kubaca berkali-kali Wanita Hujan-mu, sambil bertanya-tanya kapan aku bosan. Sampai ke Weimar, jangan lupa naiki pohon siwalanmu. Dari atasnya, intiplah arah Barat. Kalau kita beruntung, kau bisa melihat pelangi yang kucat putih kemarin. Hari ini semoga catnya sudah kering. Coba tebak ada tulisan apa di atas putih pelangiku? Ya, ya, tulisan itu untukmu.
Kau Keenam dan Ketujuh, jangan tunggu apa yang akan aku katakan. Karena aku tidak akan mengatakan apa-apa pada kalian berdua. Janji butuh bukti. Bukan begitu?
Oya, semua, beri aku selamat! Aku sudah tahu apa yang aku inginkan!
Saturday, February 02, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment