MeoNk,
Aku pikir, tidak ada kalimat yang lebih melankolis daripada ini: kita hidup hanya sekali. Hanya sekali. Tidak ada perulangan. Dan bagiku, sisi terburuk dari kenyataan bahwa kita hidup hanya sekali adalah bahwa kita dalam hidup ini tak bisa menjadi banyak hal, menjadi ini, menjadi itu, hidup di sini, hidup di situ, bersama ini, bersama itu, bersama dia, bersama kamu.
Maka muncullah mimpi.
Dalam hidupku yang singkat ini aku tak bisa sekaligus menjadi ini dan itu, berada di sini (Kairo) dan di situ (Jakarta), bersama dia dan bersamamu. Bahkan nyatanya aku tak sedang menjadi itu, tak sedang berada di sana, tak sedang bersamamu. Maka muncullah mimpi.
Ia dunia kasat mata yang hanya berada dalam pedalaman diri kita, di mana di dalamnya kita bisa menjadi apa saja sesuka kita, berada di mana saja sesuka kita, bersama siapa saja yang kita sayangi. Maka dalam dunia mimpi itu, aku menjadi kawan mainmu, berada di sampingmu, bersamamu.
Dalam dunia mimpi itu, kita bahagia, bermain bersama, heboh sekencangnya, berteriak sekuatnya, menertawakan hidup, mencibir dunia nyata, memelihara dan menjaga dan menimang-nimang impian kita.
Dalam dunia mimpi itu, kau tersenyum, cemberut, mencubitiku, mengejarku, merobohkanku. Dalam dunia mimpi itu, kau sama cantiknya dengan dirimu.
Friday, May 22, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)

