<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665</id><updated>2012-02-17T05:41:53.780+02:00</updated><category term='fragmen'/><title type='text'>:: Lembar Mawas ::</title><subtitle type='html'>Sebuah permulaan hidup baru, sebuah lambaian selamat jalan untuk yang telah lewat, sebuah garis demarkasi dalam dimensi waktu, sebuah tapal batas, sebuah gelombang kesadaran yang mengganggu tidur pulas, sebuah keinginan untuk secara sederhana memaknai hidup</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2186195211475508142</id><published>2009-05-22T19:28:00.000+03:00</published><updated>2009-05-22T19:34:40.389+03:00</updated><title type='text'>Asal Usul Mimpi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;MeoNk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir, tidak ada kalimat yang lebih melankolis daripada ini: kita hidup hanya sekali. Hanya sekali. Tidak ada perulangan. Dan bagiku, sisi terburuk dari kenyataan bahwa kita hidup hanya sekali adalah bahwa kita dalam hidup ini tak bisa menjadi banyak hal, menjadi ini, menjadi itu, hidup di sini, hidup di situ, bersama ini, bersama itu, bersama dia, bersama kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncullah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidupku yang singkat ini aku tak bisa sekaligus menjadi ini dan itu, berada di sini (Kairo) dan di situ (Jakarta), bersama dia dan bersamamu. Bahkan nyatanya aku tak sedang menjadi itu, tak sedang berada di sana, tak sedang bersamamu. Maka muncullah mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dunia kasat mata yang hanya berada dalam pedalaman diri kita, di mana di dalamnya kita bisa menjadi apa saja sesuka kita, berada di mana saja sesuka kita, bersama siapa saja yang kita sayangi. Maka dalam dunia mimpi itu, aku menjadi kawan mainmu, berada di sampingmu, bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia mimpi itu, kita bahagia, bermain bersama, heboh sekencangnya, berteriak sekuatnya, menertawakan hidup, mencibir dunia nyata, memelihara dan menjaga dan menimang-nimang impian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia mimpi itu, kau tersenyum, cemberut, mencubitiku, mengejarku, merobohkanku. Dalam dunia mimpi itu, kau sama cantiknya dengan dirimu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2186195211475508142?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2186195211475508142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2186195211475508142' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2186195211475508142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2186195211475508142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2009/05/asal-usul-mimpi.html' title='Asal Usul Mimpi'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4764672757562133978</id><published>2009-03-08T13:43:00.001+02:00</published><updated>2009-03-08T13:46:13.217+02:00</updated><title type='text'>Arti Sebuah Nama</title><content type='html'>"Apalah arti sebuah nama?" tanya Shakespeare. Tidak ada yang peduli dengan arti sebuah nama. Orang hanya peduli pada nama sebagai sebuah tanda yang berdiri untuk mewakili wujud lain. Tidak ada yang peduli arti kata Faizah (wanita penakluk); orang hanya peduli fungsi kata tersebut yang mewakili wujud sosok gadis cantik mahasiswi fakultas Syariah Islamiyah al-Azhar tingkat III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia sastra, para penulis kisah seringkali memanfaatkan fungsi nama sekaligus arti nama tersebut untuk menyampaikan sebuah pesan tersirat, tersembunyi, atau untuk mengukuhkan pesan yang tersurat. Paling tidak, penulis kisah akan selalu berhati-hati memberi nama para tokohnya dengan nama yang sesuai dengan konteks, misalnya nama para tokoh dalam novel yang baik selalu menggambarkan latar belakang para tokoh tersebut (paling tidak, menggambarkan latar belakang kebangsaan para tokoh). Sangat aneh seorang tokoh yang berkebangsaan Polandia dalam sebuah kisah bernama Joko Edan. Aneh pula tokoh laki-laki bernama Sulisiowati. Para penulis peduli pada fungsi nama. Hanya sedikit yang peduli pada arti nama-nama tersebut. Penulis novel Etoile Errante (Bintang Jatuh), salah satunya. Le Clezio, penulis novel tersebut, yang memenangkan nobel sastra 2008 kemarin, memilih nama Esther sebagai nama tokoh utamanya. Esther adalah nama Yahudi yang berarti "Bintang Kecil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan tentang fungsi kata (dan nama) juga bisa membawa kita kembali pada perseteruan teologis yang terjadi berabad silam antara Mu'tazilah dan lawan tandingnya: Asy'ariah. Di samping itu, perbincangan tentang hal ini juga bisa membawa kita menilik fungsi doa/mantra/jampi-jampi/puisi. Bagaimana bisa hanya kata-kata yang dilafalkan dengan cara tertentu bisa menimbulkan efek yang berlainan? Esther, sang tokoh dalam novel Etoile Errante, berkomentar tentang doa-doa yang diucapkan seorang Rabi dalam bahasa Ibrani, "Aku tak paham artinya, tapi mendengarnya hatiku menjadi tentram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalah arti sebuah nama?" pertanyaan itu muncul lagi. Entahlah. Tapi sebuah perusahaan penghasil panci asal Perancis pernah tak berhasil memasarkan hasil produksinya di Indonesia gara-gara merk dagang yang mereka pakai. Mengapa? Karena merk panci yang hendak mereka pasarkan di Indonesia itu adalah "SILIT".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4764672757562133978?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4764672757562133978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4764672757562133978' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4764672757562133978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4764672757562133978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2009/03/arti-sebuah-nama.html' title='Arti Sebuah Nama'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2969925642698953364</id><published>2009-03-08T05:17:00.000+02:00</published><updated>2009-03-08T07:10:14.510+02:00</updated><title type='text'>Aplikasi Analisa Referensi dan Diferensi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan tugas dari Makar untuk menulis kritik sastra atas teks cerpen karya Arif Friyadi. Saya menyanggupinya dengan dasar bahwa hal ini adalah hal baru yang menarik. &lt;/span&gt;Ini bagi saya adalah kesempatan yang tak sering bisa saya dapatkan, untuk belajar hal-hal baru yang menarik perhatian. Maka bermodal keinginan, minat dan sedikit keberanian mencoba hal baru, saya menulis kritik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang harus saya sampaikan adalah bahwa saya tidak memiliki basis ilmu kritik sastra yang mapan. Saya mencomot dari berbagai bacaan yang meresap dan membentuk cara berpikir saya. Berkenaan dengan hal ini, saran dan kritik dari siapapun amat saya tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aplikasi Analisa Referensi dan Diferensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Studi Kasus Teks “Takkan Putus Kubersyukur”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan memungkiri keterbatasan ruang lingkup kritik yang akan saya bangun, dan saya tidak akan mengambil alasan keterbatasan ruang rubrik. Ini murni bersumber dari keterbatasan metodologis saya sebagai pengkritik. Titik fokus kritik saya adalah teks. Tapi selain teks saya juga akan menyinggung tentang konteks di mana teks tersebut dilahirkan. Dalam kritik ini saya sama sekali tidak mengupas sang pengarang, dengan satu alasan pokok bahwa tugas sang pengarang selesai setelah teks dilahirkan. Ada dua sisi teks yang hendak saya bahas, referensi dan diferensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebelum masuk pada kritik teks, saya merasa perlu menjelaskan apa yang saya maksud dengan dua terma yang saya sebut barusan, referensi dan diferensi. Referensi bisa kita anggap sebagai rujukan seseorang dalam menulis sesuatu. Tapi di sini saya menggunakan terma referensi untuk menunjukkan aspek-aspek yang membentuk sebuah teks yang akan dikritisi. Jadi, karena tulisan ini mencoba mengkritik sebuah teks karya sastra, maka referensi yang saya maksud adalah aspek-aspek yang ada dalam teks karya sastra tersebut. Dalam tulisan ini saya membatasi referensi pada tiga aspek; ide cerita, narasi dan tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terma diferensi digunakan J. Derrida untuk menunjuk pada perbedaan pelafalan sebuah kata sehingga menghasilkan makna yang berbeda (dalam tataran bahasan lisan) atau perbedaan huruf sebuah kata sehingga menghasilkan simbol untuk hal-hal yang berbeda. Sebuah contoh akan memperjelas apa yang dimaksud; perbedaan kata “makan” dan “makam” menghasilkan makna yang berbeda. Dalam kritik ini saya menggunakan terma diferensi untuk merujuk pada ciri khas sebuah teks karya sastra sehingga membedakan teks karya sastra tersebut dengan jenis teks karya sastra yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kritik ini referensi akan mendapatkan porsi yang banyak, sedangkan diferensi hanya sekadarnya saja saya bahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Referensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I.I Ide Cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks “Takkan Putus Kubersyukur” bercerita tentang kekaguman si Aku terhadap sebuah keluarga muda yang sakinah. Dia iri (dengan konotasinya yang baik), berharap mendapatkan kebahagiaan yang sama, dan berkesimpulan bahwa kunci keberhasilan sebuah keluarga sakinah adalah tak berhenti bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Aku suatu saat bertandang ke rumah sebuah keluarga, dijamu, dan mereka berbicara tentang kehidupan keluarga sang tuan rumah. Sang penulis, seperti kebanyakan penulis pop bertemakan keluarga, pertama-tama memilih sudut pandang sang istri, sehingga memungkinkannya untuk bisa mengeksplorasi “Perasaan”. Penulis tidak menceritakan awal pertemuan sang suami-istri. Dia langsung menggambarkan peristiwa “penembakan” dan kesepakatan berkomitmen. Penulis tidak menyinggung soal pernikahan, tapi langsung mengeksplorasi pandangan hidup sang pasangan tentang keluarga sakinah; penerimaan yang tulus sang istri terhadap sang suami apa adanya, sikap bersyukur sang istri atas apa yang telah dianugerahkan Allah padanya. Semua itu ditutup penulis dengan desahan si Aku yang kagum dan berharap merasakan kebahagiaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis bisa dikatakan bahwa pondasi dasar cerita dalam teks cerpen “Takkan Putus Kubersyukur” adalah perjamuan dalam bentuknya yang sederhana; si Aku yang bertamu, si tuan rumah yang menjamu. Di atas pondasi dasar cerita inilah teks cerpen ini membangun kisahnya dari awal sampai akhir. Dan bangunan kisah itu secara urut dan secara garis besar terdiri dari, pertama, kilas balik (dengan percakapan yang tidak sesuai konteks), kedua, percakapan dalam perjamuan, dan ketiga, perenungan (percakapan diri) dan pengambilan kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang bisa kita lihat bersama, ide cerita teks “Takkan Putus Kubersyukur” amat sederhana. Yang saya maksud amat sederhana adalah bahwa dalam teks tersebut tidak ada komplikasi atau perumitan, baik perumitan itu berdasar pada objek cerita atau perumitan itu berasal dari eksplorasi penulis atas sebuah objek yang menarik perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I.II Narasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilas balik mendapatkan porsi yang besar dalam teks cerpen ini. Hal ini sama sekali bukan masalah, andai saja ditempatkan pada tempatnya yang pas. Dalam kasus teks cerpen ini, kilas balik justru ditempatkan di muka, jauh sebelum pondasi dasar cerita; sesuatu yang amat mengganggu dan merusak keutuhan narasi. Kesalahan ini diperparah dengan adanya peristiwa yang diceritakan (tentang bagaimana sang suami melamar sang istri, lengkap dengan percakapan, yang si penutur, karena teks cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), seharusnya tidak tahu-menahu, dan kalau tahu pun tidak ada gunanya memaparkannya dalam teks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini terjadi karena penyampaian cerita yang menurut saya tidak tepat. Ketidaktepatan penyampaian cerita yang saya maksud adalah penggabungan dua sudut pandang penceritaan dalam satu cerita. Kedua sudut pandang itu adalah sudut pandang orang ketiga sebagai dalang atau observer yang serba tahu dan sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang ketiga sebagai yang serba tahu tampak mulai awal teks sampai titik di mana si Aku muncul sebagai seorang yang bertamu. Dan sudut pandang orang pertama muncul setelahnya, sampai akhir teks. Ada beberapa kemungkinan mengapa ketidaktepatan penyampaian cerita terjadi dalam teks “Takkan Putus Kubersyukur”. Hal itu mungkin muncul dari ketidakberhasilan penulis dalam bereksperimen. Atau, kemungkinan paling sederhana, bisa jadi hal itu muncul dari kecerobohan penulis yang tidak memperhatikan sudut pandang penceritaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf pembuka, yang diberi posisi khusus oleh pengarang dengan mencetaknya miring, bagi saya datar. Berisi berita tentang sebuah fakta, sikap mendukung, dan alasan atas sikap tersebut. Datar. Tidak ada yang berusaha diperhalus, apalagi disembunyikan untuk dipaparkan di tengah atau di akhir kisah. Satu paragraf awal saya pikir sudah cukup mewakili semua inti kisah. Ada dua hal tentang paragraf pembuka ini. Pertama, ia gagal memancing rasa penasaran dan minat baca pembaca (karena semuanya gamblang dan tampak sederhana, tidak kompleks, tidak menyentuh aspek psikologi pembaca). Kedua, ia gagal memancing pembaca untuk berpikir (karena semuanya sudah tersedia dalam teks, tak ada ruang untuk bertanya, atau celah yang sengaja dibiarkan kosong terselip).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tampak ingin membangun romantisme khas percintaan, tapi dia tahu batas. Gaya penuturannya santun, dan khas. Dia mampu membangun romantisme dengan gayanya sendiri. Aspek religiusitas dieksplorasi sampai pada ujung batas kemampuan. Penulis juga mampu membangun rasionalitasnya sendiri yang juga khas. Sayang, perjamuan, yang dalam teks cerpen ini merupakan pondasi dasar cerita, tak dibangun dengan narasi yang kuat. Perjamuan tampak hanya dijadikan sekadar alat untuk menyampaikan ide. Hal ini bisa dipahami kalau kita meletakkan teks cerpen ini dalam konteks kelompok masyarakat tempat ia dihasilkan, dan hal ini akan saya bahas dalam bagian diferensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ending bagi saya juga tampak mengganggu, lemah, mudah ditebak dan tidak memuaskan. Hanya perenungan singkat yang tidak mampu membuahkan kepuasan pembaca. Tapi tetap memiliki gaya khasnya sendiri. Soal gaya khas ini pun akan saya coba bahas di bagian diferensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I.III Tema&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks cerpen “Takkan Putus Kubersyukur” pada dasarnya menawarkan pada pembaca akan sebuah pemikiran religius bahwa kunci kebahagiaan di dunia (dan tentu di akhirat) adalah bersyukur. Sebuah petikan ayat al-Qur’an menjadi dasar pokok: “Bersyukurlah maka Kami tambah nikmat Kami, dan berkufurlah maka siksa Kami amatlah pedih”. Pijakan epistem pemikiran ini bersumber dari norma keislaman. Pesan dari teks cerpen tersebut jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bergeser pada pembicaraan tentang bentuk penyampaian, sebetulnya ada opsi lain bentuk penyampaian pesan-pesan yang bersifat religius. Misalnya, dengan bentuk teks liberal yang menurut saya justru lebih bebas menyampaikan pesan apa saja, termasuk pesan religius. Dan lagi, keuntungan lain yang jauh lebih besar dari bentuk penyampaian liberal adalah daya jangkau ruang pembaca. Hal ini saya amati jarang diperhatikan oleh para penulis semacam saudara saya Arif Friyadi. Tapi selera adalah hal lain. Nyatanya, Arif Friyadi lebih memilih bentuk penyampaian yang tidak hendak menyembunyikan simbol-simbol religiusitas yang paling mencolok; mulai dari penamaan tokoh cerita hingga ayat-ayat suci al-Qur’an, bahkan kisah sahabat nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak merambah keluar konteks, pembahasan tentang tema saya cukupkan sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Diferensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II.I Sastra Sebagai Media Dakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diferensi yang paling mencolok dalam kasus teks “Takkan Putus Kubersyukur” ini adalah pandangan bahwa teks cerpen bukanlah sekadar karya sastra melainkan lebih merupakan media dakwah. Sebetulnya, media dakwah adalah kata lain dari media penyampaian ide. Hanya saja, media dakwah memiliki makna yang lebih khusus dan sempit. Paling tidak ada dua ciri khas media dakwah. Pertama, ia membatasi dirinya sendiri. Kedua, ia bersifat dogmatis, dalam arti tidak memberikan kesempatan pada pembaca untuk berfikir sendiri, untuk menyimpulkan sendiri, untuk membentuk nilai sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II.II Konteks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan tentang konteks di mana sebuah teks dihasilkan sebetulnya amatlah penting demi memahami secara utuh makna sebuah teks tersebut, dan memahami mengapa teks tersebut lahir dan mengambil bentuknya yang khusus. Tapi butuh riset yang lebih mendalam kalau saya harus membahasnya lebih detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis teks “Takkan Putus Kubersyukur” adalah ketua FLP cabang Mesir, dan ia menulis teks tersebut dengan sasaran pembaca pertama-tama dan terutama adalah orang-orang FLP sendiri. Dengan memahami konteks ini kita bisa memahami mengapa “Takkan Putus Kubersyukur” lahir dengan bentuknya yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II.III Gaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif Friyadi telah menemukan gayanya sendiri. Teks “Takkan Putus Kubersyukur” merupakan contoh teks yang mengamini adagium bahwa nilai sebuah sastra bukan di keindahan bahasanya, tapi dalam makna dan pesan yang dikandungnya. Sang pengarang banyak mengutip ayat-ayat suci al-Qur’an tidak untuk memperindah bahasa teks, tapi untuk menguatkan pesan yang dikandungnya. Salut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, dalam dunia penulisan karya fiksi, saya betul-betul harus mengakui peran penting selera sang pengarang dalam menentukan bentuk utuh sebuah teks. Dan kalau sudah soal selera, siapa bisa menimbang-nimbang dan membanding-bandingkannya dengan selera orang lain? Toh selera tak bisa dibujuk, dirayu, apalagi digugat. Pada titik ini, kritik sastra seperti bualan saja. Jangan pedulikan. Abaikan. Jadi, saat saya hendak menulis kritik atas karya sahabat saya Arif Friyadi, saya berkata pada diri saya sendiri, “Abaikan seleramu!” Mengapa? Karena selera kami, saya dan Arif Friyadi, dalam bersastra, sederhananya berbeda. Dan perbedaan saya pikir adalah hal paling wajar yang terjadi pada umat manusia. Referensi kami dalam menulis pun, sederhananya, tak sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2969925642698953364?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2969925642698953364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2969925642698953364' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2969925642698953364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2969925642698953364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2009/02/aplikasi-analisa-referensi-dan.html' title='Aplikasi Analisa Referensi dan Diferensi'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5897179148788756779</id><published>2009-03-06T00:20:00.002+02:00</published><updated>2009-03-06T00:23:47.745+02:00</updated><title type='text'>Masisir yang Gagap dan Pak Dubes yang Prihatin</title><content type='html'>Ada perdebatan tentang nilai sebuah laporan perjalanan sebagai sumber data untuk penelitian. Apakah isi laporan perjalanan bisa dipercaya menggambarkan secara utuh kondisi sebuah masyarakat? Pada akhirnya, sang penulis laporan perjalanan hanyalah pelancong, wisatawan, pengunjung, yang tentu tak tahu pasti kondisi masyarakat yang dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selalu ada yang menarik dari sebuah laporan perjalanan. Selalu akan ada kejutan di dalamnya, karena itulah inti dari sebuah laporan perjalanan: sesuatu yang mengejutkan. Kalau ada laporan perjalanan yang tak mampu mengejutkan pembacanya, tak lakulah ia, tak mendapatkan pembacalah ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu dan Kamis (18-19/02) kemarin, Jawapos memuat sebuah laporan perjalanan yang ditulis oleh salah satu wartawannya yang berkunjung ke Mesir. Dan Masisir terkejut oleh isinya, tergagap oleh kenyataan-kenyataan yang sebetulnya merupakan kenyataan diri mereka sendiri. Banyak yang merasa terpukul, tentu. Banyak yang tercenung. Saya membayangkan, selalu ada yang juga tersenyum. Ada kalangan yang terkena imbas. Ada juga yang cuci tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan pertama dari laporan tersebut sudah cukup memetakan pihak-pihak yang dikisahkan. Ada pihak pelaku sebagai keseluruhan yang dikisahkan, ada pihak yang mengaku prihatin, ada segelintir nara sumber dari pelaku, dan tentu saja ada pihak pendongeng. Pembukaan pertama tersebut pun menggambarkan sudut penceritaan dari laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa obrolan dengan kawan-kawan, saya memerhatikan banyak dari mereka yang menaruh perhatian pada sisi data. “Tak valid. Tak lengkap,” kata si A yang selalu mencoba tenang. “Memojokkan,” kata si B yang seringkali melibatkan emosi. “Omong kosong,” timpal saya bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang lain malah mengumbar emosi. “Kardono (wartawan penulis laporan) tidak tahu apa yang sudah dia tulis. Fachir tak tahu akibat apa yang bisa ditimbulkan dari pernyataan-pernyataannya,” serapahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh serapahnya ini saya jadi berpikir. Barangkali kawan saya ini benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan perjalanan tidak pernah mencoba untuk membeberkan fakta. Laporan perjalanan lebih ingin menyampaikan kesan. Itu yang harus pertama-tama diperhatikan. Begitulah sikap sejarawan dalam menghadapi laporan-laporan perjalanan yang ditulis para peziarah, pelancong, pengembara, pelaut, siapapun, dalam suatu masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan perjalanan yang dimuat Jawapos tersebut tidak pernah membeberkan data. Si penulis hanya mengandalkan wawancara. Ada sudut pandang yang sudah dikantongi, dan dari sudut pandang itulah keluar pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara tersebut. Dalam laporan yang saya singgung, sudut pandang si penulis jelas ada dua. Pertama menyinggung soal pendidikan formal di al-Azhar, kedua tentang pemasukan finansial Masisir. Wilayah fokusnya pun amat sempit. Yang pertama hanya menyinggung problematika pendidikan—saya seolah tahu dari siapa materi ini dicekokkan pada si penulis catatan. Yang kedua soal pemasukan Masisir yang berkaitan dengan si penulis sendiri sebagai wisatawan—guide, transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardono hanya ingin menyampaikan kesannya selama dia berada di Mesir tentang masyarakat Indonesia dari sudut pandang yang sebelumnya telah dia pilih. Hanya kesan. Tidak ada yang perlu dikuatirkan. Tapi Masisir jelas kuatir—tampak dari perbincangan saya dengan kawan-kawan. Lantas, apa yang mereka kuatirkan? Justru kesan itu yang mereka kuatirkan. Mengapa? Karena kesan tak pernah mencakup keseluruhan. Karena kesan tak pernah peduli pada keutuhan. Karena kesan selalu melibatkan bias: sudut pandang yang sempit yang sudah dipilihkan, kecenderungan si penulis yang ikut bermain, tidak adanya bebas nilai—kesan selalu bersifat normatif, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lid pembukaan laporan pertama sudah mendebarkan: “Langkah Kedubes Mesir di Jakarta melakukan tes penerimaan mahasiswa baru Al-Azhar secara langsung dan mengesampingkan hasil seleksi Depag bukan tanpa alasan. Sebab, lebih separo dari total 5.000 mahasiswa Indonesia yang belajar di kampus saat ini bermasalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembeberan sebuah fakta, tentu saja dengan mudah kita bisa mempertanyakannya. Tapi untuk apa? Laporan semacam ini bukan merupakan sumber data yang komprehensif. Ingin tahu soal kebijakan Kedubes Mesir di Jakarta paling bagus datangi langsung Kedubes Mesirnya. Ya, yang menguatirkan adalah kesan yang timbul dari laporan tersebut: lebih dari separo mahasiswa Indonesia bermasalah. Bagaimana masyarakat di Indonesia membacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya sekali lagi bergumam, “Barangkali benar apa yang diserapahkan kawan saya: Kardono tidak tahu apa yang telah dia tulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal prestasi akademik, Kardono hanya mengandalkan apa yang disampaikan pak Dubes. Ini mengherankan. Siapa sebetulnya yang lebih tahu soal prestasi akademik Masisir? Siapa yang lebih tahu problematikanya? Tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas Kardono hanya mengandalkan apa yang disampaikan pak Dubes. Dan, coba tebak, apa yang disampaikan oleh pak Dubes? Benar sekali! “Belum ada perubahan sejak saya menjadi Dubes di sini pada Oktober 2007 lalu,” katanya seperti yang dikutip Kardono. ''Yang lancar kuliahnya paling banter hanya 40 persen, lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa untungnya pak Dubes membeberkan semua ini pada Kardono, sang wartawan? Secara langsung jelas tak akan membantu peningkatan prestasi Masisir. Jadi, secara langsung hal ini tak ada untungnya bagi Masisir. Bagaimana dengan pak Dubes sendiri, apakah hal ini ada untungnya bagi dia? Saya tidak tahu. Yang jelas pak Dubes berhasil membangun kesan kepedulian dan keprihatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-dimuat di TeROBOSAN barusan :D -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5897179148788756779?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5897179148788756779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5897179148788756779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5897179148788756779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5897179148788756779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2009/03/masisir-yang-gagap-dan-pak-dubes-yang.html' title='Masisir yang Gagap dan Pak Dubes yang Prihatin'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-468137259193230280</id><published>2009-03-02T22:59:00.000+02:00</published><updated>2009-03-02T23:01:39.899+02:00</updated><title type='text'>Les,</title><content type='html'>Aku merasa harus menulis sesuatu. Barangkali tentang kita, tentang apa sebenarnya yang terjadi antara kita. Atau barangkali tentang hal yang lain. Tentang cuaca buruk dua hari ini, barangkali. Aku masuk angin, kau tahu. Batuk, pilek, tenggorokanku seperti ditusuk. Semalam hidungku malah benar-benar tersumbat. Kau bisa bayangkan, aku tidur dengan mulut terbuka agar tetap bisa bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tetap bisa bernafas. Betapa tak menyenangkannya, membayangkan kemungkinan bahwa hidupku hanya sekadar untuk bernafas. Sumpah, aku tidak ingin hidup yang seperti itu. Aku ingin sesuatu yang lain, yang lebih dari hanya sekadar bertahan. Barangkali menyerang. Tapi tanpa ada yang harus kalah. Atau mengalah. Seperti hubungan kita, aku tak ingin ada yang kalah, aku tak ingin walau hanya sekadar ada yang mengalah. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku harap kita bisa menoleh ke belakang, sejenak, mengambil pelajaran, kemudian bersama-sama menghadap lurus tegak ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, tidak banyak yang tersisa dari memori kita bersama. Sudah hampir dua tahun aku menyingkir. Sudah hampir dua tahun kau tak peduli. Sesekali kita bertemu. Tapi hanya sekadar bertemu. Tidak ada yang benar-benar merupakan pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang tersisa dari memori kita bersama. Dan waktu dua tahun barangkali cukup untuk menghapus segala yang tersisa itu. Dengan suratku ini, aku ingin menyampaikan keinginanku, atau ketidakinginanku. Aku tak ingin hal itu terjadi. Aku tak ingin waktu menghapus sedikit kenangan akan saat-saat yang kita bagi bersama, atau hal-hal yang kita bagi bersama. Aku berhutang budi padamu—itu pada dasarnya. Maka aku tak bisa mengabaikanmu. Tak ingin mengabaikanmu. Sesekali, di kala malam begitu buruk, aku terkadang merindukanmu. Benar-benar merindukanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memang bukan orang terdekatku. Kau juga bukan gadis yang kuharap jadi pujaanku. Tapi kau punya tempatmu sendiri dalam sejarah hidupku. Tempat yang istimewa. Setiap orang memiliki tempatnya yang istimewa. Yang lain dari yang lain. Kau, dalam sejarah hidupku, tak bisa digantikan. Oleh siapapun. Bahkan oleh Pradnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa memilikimu, apapun yang telah terjadi, atau kemudian terjadi. Di saat-saat tertentu aku merasa kehilangan kamu. Saat kau bilang kau sedih dan menceritakan masalahmu, aku juga merasa sedih, walau untuk alasan yang berbeda. Tapi memang harus kuakui, aku tak seperti yang kau harapkan. Maksudku, tak seperti yang bisa diharapkan dari seorang kawan. Aku tak pernah ada saat kau membutuhkanku. Kau bilang aku sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkadang juga merasa demikian. Tapi kadang juga tidak. Dua tahun terakhir ini aku memang mencoba menyibukkan diri dengan hal-hal yang kuharap berguna. Aku mulai bertemu dengan kawan-kawan yang memiliki kesamaan tujuan dan perspektif. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada yang mendalami politik, ada yang tertarik filsafat, ada yang mencoba memahami ekonomi dunia, ada yang konsen mencerna ilmu ketuhanan, banyak yang suka puisi. Mereka sama-sama memiliki satu tujuan. Aku bergabung, dan tenggelam. Aku lupa pada yang lain. Aku tak lagi peduli pada keseharian, tak lagi terganggu oleh masa silam. Konsentrasiku terfokus pada masa depan. Dan aku bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, dua tahun yang lalu, aku masih tak bisa berdamai dengan masa lalu. Dan kau kuhitung sebagai bagian dari masa laluku. Pada titik ini, aku meminta maaf padamu. Maafkanlah aku. Kau tentu tahu mengapa aku begitu sengit pada masa lalu. Saat itu. Dua tahun yang lalu. Tapi kini sudah tidak. Sekarang aku sudah tenang, menemukan hal-hal baru yang lebih menarik untuk diresahkan. Bagaimanapun, masalalukulah yang mengantarkanku sampai pada masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga mulai membaca buku lagi, mulai menulis lagi, mulai mencintai lagi. Barangkali ini cintaku yang terakhir. Aku amat bahagia. Masalah selalu datang, tapi aku bisa bahagia menghadapi semuanya. Dan sampailah aku pada titik di mana aku merasa tidak adil dengan masa laluku. Aku merasa terlalu menyalahkan masa lalu. Aku merasa terlalu banyak yang terkena imbas. Aku merasa ini adalah sebuah kesalahan, dan aku ingin memperbaikinya. Barangkali karena itulah aku menulis surat ini. Untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku tak ingin kehilangan lagi. Karena aku tak ingin kehilangan kamu. Aku tahu, banyak sisi dari kepribadianku yang tak kausuka. Banyak hal yang telah kulakukan, yang kauharap tak pernah kulakukan. Tentang hal itu aku sedikit banyak telah berubah. Hah, waktu merubah segalanya. Segalanya. Aku hanya bisa berharap apa yang berubah dari diriku adalah sesuatu yang memang harus dirubah, untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih bahagia, lebih bisa disebut khalifatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tampak bahwa aku benar-benar mengharapkan yang lebih baik untuk hubungan kita, maka aku juga akan menyebutkan hal ini: aku merasa memilikimu, suatu saat dulu aku pernah melakukan kesalahan besar, kau tampak susah memaafkan, aku memberimu waktu dan kau mengambil waktumu, kita bersahabat lagi, aku melakukan kesalahan lagi—beberapa kali—dan selalu kau butuh waktu dan selalu kau pada akhirnya memaafkanku dan sampailah waktunya aku menghindarimu—dua tahunan yang lalu. Apa yang ingin aku sampaikan adalah ini: sebagaimana banyak sisi dari kepribadianku yang tak cocok denganmu, ada juga sisi kepribadianmu yang tak cocok denganku. Tapi itu baik-baik saja. It’s fine. Kalau semuanya cocok bisa-bisa aku malah mencintaimu dan kau mencintaiku—sesuatu yang tak bakalan terjadi. Intinya adalah: kita move on, menjadi kawan yang baik, yang bisa saling mengerti, yang berusaha ada untuk satu sama lain, yang care, yang dewasa, yang saling menghormati, dan yang mengerti batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, aku takkan menulis surat ini dengan tulisan tangan di atas kertas, memasukkannya ke dalam amplop dan mengirimkannya padamu. Kau sendiri yang bilang, kalau kaurindu padaku kau membuka blogku dan membaca-baca tulisanku. Katamu itu bisa sedikit mengobati rasa rindumu. Jadi aku menaruhnya di sini saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian,&lt;br /&gt;Nadhief Shidqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nb: aku sedikit terlalu banyak minum saat menulis surat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-468137259193230280?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/468137259193230280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=468137259193230280' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/468137259193230280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/468137259193230280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2009/03/les.html' title='Les,'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2210889683137414648</id><published>2008-12-07T00:37:00.000+02:00</published><updated>2008-12-07T00:42:55.561+02:00</updated><title type='text'>Bahasa Indonesia yang Tiarap</title><content type='html'>Pembukaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutur bahasa seseorang, pada tahap individu, mencerminkan cara berpikir orang tersebut. Dan struktur bahasa sebuah komunitas bahasa, mencerminkan kemampuan komunitas tersebut dalam menyerap, menganalisa dan mendeskripsikan alam eksternal dan konsep internal—kesadaran kedirian—para anggotanya. Kecanggihan struktur (tata bahasa) sebuah bahasa lebih mencerminkan kemampuan para penggunanya dalam mencerap alam luar dan kesadaran diri daripada mencerminkan kecanggihan bahasa itu sendiri, karena bahasa adalah produk budaya, alat yang tercipta oleh manusia. Demikian halnya, ketidakmampuan sebuah bahasa dalam menangkap kenyataan alam luar (yang dalam konteks kekinian makin hari makin berubah pesat) dan mengkonseptualisasikannya menjadi kesadaran diri mencerminkan ketidakmampuan para pengguna bahasanya dalam menciptakan sendiri konsep yang menggambarkan alam luar (semisal modernitas, postmodernitas, tehnologi, konsep kesadaran psikologis, sistem filsafat, dan lain sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai turunan dari induk bahasa melayu, sebetulnya bahasa Indonesia memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Ia banyak terpengaruh oleh bahasa Sansekerta, Arab, budaya Hindu-India, bahasa Eropa terutama Inggris, Cina, dan budaya-bahasa lokal. Nusantara, dalam sejarahnya, merupakan deretan pelabuhan—lebih dari sekadar deretan pulau—yang ramai dikunjungi oleh banyak bangsa. Dan bangsa-bangsa tersebut sedikit banyak meninggalkan pengaruhnya terhadap budaya—dan bahasa—Nusantara. Proses asimilasi ini berjalan lancar, lambat tapi pasti, selama berabad-abad, hingga pertemuan dengan budaya lain (khususnya penjajah) menimbulkan luka mendalam dan trauma komunal, juga perlawanan terhadap budaya tersebut, dan mengantarkan bangsa Indonesia pada kesadaran nasional di awal abad ke-20. Dan kesadaran nasional inilah yang kemudian memunculkan kesadaran akan jatidiri budaya nasional, hingga membuahkan kesadaran akan pentingnya bahasa sebagai alat pemersatu. Tapi kalau hendak diperbandingkan dengan bahasa lain, Arab, misalnya, bahasa Indonesia bisa dikatakan tidak memiliki sejarah yang terkonstruk dengan baik. Bahasa Arab memiliki sejarah yang amat panjang. Dan secara struktural (gramatikal) tersusun rapi setelah timbul sebuah kesadaran jatidiri komunal sebagai sebuah bangsa (Arab) pada abad kedua/ketiga hijriah. Kita lihat, sejak dini orang-orang Arab sudah disibukkan dengan problematika bahasa, dan menyadari arti penting dari bahasa itu sendiri, sebagai alat komunikasi, media konseptual (penyampaian wahyu Ilahi), dan yang lebih penting sebagai jatidiri mereka di kancah sejarah. Mereka bahkan sudah sedemikian majunya hingga membedah dengan begitu canggih konsep kiasan, menganalisa dari mana sebuah kata memperoleh maknanya, bagaimana sebuah kata memiliki makna yang bergeser dari makna aslinya, syarat sebuah bahasa bisa digunakan, dan lain sebagainya. Tapi, untuk bahasa Indonesia, tampaknya belum ada pakar bahasa yang berminat untuk meneliti secara pantas dan tuntas struktur bahasa Indonesia dan problematikanya. Padahal sebetulnya akhir abad ke-20 membawa angin segar bagi penelitian struktur bahasa dengan minat para filosof dan ilmuwan banyak terfokus pada bahasa sebagai fenomena budaya paling khas manusia, sehingga muncul dan berkembanglah filsafat dan ilmu bahasa (linguistik)—terutama di daratan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Arab, sebagai bahasa yang tak diteliti dengan baik dan bahasa yang mendapatkan perhatian yang amat besar, barangkali mempunyai justifikasinya sendiri. Konteks kesadaran jatidiri berbahasa masing-masing bangsa, Indonesia dan Arab, memang lain. Bahasa arab, mendapatkan perhatian yang besar oleh para penggunanya, dalam konteks bahasa Arab sebagai bahasa di mana wahyu Ilahi diturunkan. Ilmu bahasa Arab kemudian pesat berkembang demi pendayagunaan bahasa tersebut sebagai alat istidlal akan keesaan Tuhan dan keadilan-Nya (lihat sejarah Mu’tazilah), hingga struktur bahasanya pun canggih tertata rapi. Dan pendayagunaan tersebut tetap lestari sampai beberapa dekade. Pada perkembangannya, bahasa Arab juga didayagunakan sebagai bahasa filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal-hal semacam ini tidak pernah dialami oleh bahasa Indonesia. Dalam konteksnya, bahasa Indonesia hanya mampu didayagunakan oleh para penggunanya sebagai sekadar bahasa pemersatu dalam rangka perjuangan kemerdekaan. Setelah kemerdekaan diraih, para penggunanya kemudian tidak mendapatkan sebuah lingkungan yang kondusif untuk mendayagunakan bahasa Indonesia dalam rangka memajukan hal-hal yang berguna. Sastra Indonesia berkembang lambat, terkontrol oleh pemerintah, dan sama sekali tidak menghasilkan sistem berpikir mandiri atau sistem filsafat tertentu yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur bahasa Indonesia memiliki banyak sekali kelemahan—walau kadang bisa dipandang sebagai fleksibilitas—yang menyebabkan para penggunanya tidak bisa mengekspresikan banyak hal yang bisa diekspresikan dalam bahasa lain. Bahasa Indonesia tidak mengenal perbedaan kata ganti kedua tunggal untuk lelaki dan perempuan. Bahasa Indonesia hanya menyediakan kata “dia”. Dengan demikian orang tidak bisa memanfaatkan perbedaan “dia-lelaki” dengan “dia-perempuan” dalam bahasa Indonesia, padahal perbedaan tersebut menyediakan banyak sekali ragam ekspresi yang bisa digunakan dan dimanfaatkan, apalagi dalam sebuah narasi. Pada gilirannya, kelemahan struktur bahasa Indonesia ini mengakibatkan kelemahan dayaguna oleh para penggunanya. Atau sebaliknya, justru kelemahan dayaguna para penggunanyalah yang menyebabkan struktur bahasa Indonesia lemah dan tidak memiliki karakter kuat. Sebuah contoh mungkin akan memperjelas apa yang penulis maksudkan. Dua orang bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si A ingin mengutarakan isi hatinya pada si B, gadis yang ia taksir. Si A berkata, “Kamu tahu apa isi hatiku?”&lt;br /&gt;Si B penasaran, tapi dia hanya bisa menjawab, “Tidak.”&lt;br /&gt;Si A kemudian berkata, “Aku mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan yang sering dipakai oleh para pengguna bahasa Indonesia untuk mengutarakan ketidaktahuan adalah kata “tidak” atau “tidak tahu”. Bandingkan dengan pendayagunaan bahasa oleh pengguna bahasa lain, Inggris misalnya. Mereka sering menggunakan ungkapan yang memiliki makna yang lebih dari sekadar “tidak tahu” untuk mengungkapkan ketidaktahuan. Dalam percakapan di atas, misalnya, kita akan menemukan seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: “Kamu tahu apa isi hatiku?”&lt;br /&gt;B: “AKU HARAP AKU TAHU.” (I wish I know)&lt;br /&gt;A: “Aku mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah disinggung di pembukaan, tutur bahasa seseorang mencerminkan cara berpikir orang tersebut. Dan pada skala komunal, mencerminkan budaya yang paling dicerap oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Masisir, kita tidak mudah menemukan tutur kata, baik lisan maupun tulisan, yang mencerminkan proses pembelajaran pencerapan (asimilasi) budaya asing (Arab dan Inggris pada khususnya). Dalam keseharian, kita berinteraksi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang statis dan pop. Hal ini sampai pada taraf tertentu masih bisa dianggap normal dan sehat. Namun, dalam karya-karya sastra Masisir, kita juga kesulitan menemukan pendayagunaan struktur bahasa yang mencerahkan dan maju. Kebanyakan para penulis Masisir masih menggunakan struktur bahasa yang amat sederhana, dangkal, apa adanya dan lugu. Hal ini, selain mencerminkan kenyataan bahwa masyarakat kita di Mesir tidak pernah memunculkan diskursus budaya (yang erat kaitannya dengan jatidiri bahasa) dalam sejarah pemikirannya, juga menunjukkan sempitnya eksplorasi bacaan Masisir. Secara epistemologis, bagi Masisir, sumber pengetahuan sangatlah minim: teks keagamaan (wahyu dan hadits), buku-buku diktat kuliah, dan pidato atau pernyataan representasi KBRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosakata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam kosakata, adopsi seolah-olah adalah jalan satu-satunya bahasa Indonesia agar tetap bisa menyerap, menganalisa dan mendeskripsikan atau mengkopseptualisasikan dunia luar yang terus berubah di luar kendali bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki kosakata asli (turunan Melayu) yang kaya tentang penggambaran kondisi mental dan perasaan manusia. Tapi bahasa Indonesia mengadopsi dari bahasa Arab untuk menunjukkan entitas akal (aql), pikiran (fikr), bahkan keadilan (adl). Apalagi dalam ranah tehnologi, kita melihat ketidakmampuan bahasa Indonesia dalam menyediakan kosakata hingga terpaksa mengadopsi—hal yang lumrah, dan wajar, karena tehnologi bukan anak kandung budaya Indonesia. Juga dalam ranah ilmu pengetahuan, kita melihat kenyataan menyakitkan bahwa budaya Indonesia, yang merupakan kampung halaman bahasa Indonesia, tidak memiliki andil setitik nila pun dalam melahirkan, mengasuh, dan membesarkan ilmu pengetahuan. Daftar nama-nama cabang ilmu pengetahuan dalam bahasa Indonesia kebanyakan merupakan hasil adopsi dari bahasa lain—bahkan tidak ada satu pun nama cabang ilmu pengetahuan yang merupakan kata asli bahasa Indonesia (Melayu). Bahkan ilmu pun berasal dari bahasa lain (Arab: ilm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menilai bahwa struktur bahasa Indonesia yang sangat longgar (kalau tidak mau menyebutnya sangat sederhana) justru menguntungkan bagi perkembangan bahasa Indonesia itu sendiri. Misalnya dalam hal pengadopsian, struktur bahasa Indonesia tidak begitu memberi aturan-aturan yang jelas untuk sebuah kosakata asing bisa diadopsi dan di-Indonesiakan, kecuali sedikit aturan yang muncul dari logat orang Indonesia dalam melafalkan kosakata asing tersebut. Penulis termasuk orang yang setuju dengan penilaian ini. Namun di sisi lain, banyak juga kalangan pemerhati bahasa Indonesia yang kuatir dan was-was akan kerapuhan identitas bahasa Indonesia di hadapan (gempuran?) pengaruh bahasa dan budaya asing. Mereka memiliki keinginan kuat untuk membendung arus bahasa (dan budaya) asing. Tapi menurut penulis mereka tak memiliki alat apa-apa untuk membendungnya. Bahasa Indonesia hanya bisa tiarap, menunggu proses pemberadaban yang lebih maju mampir sebentar di kesadaran komunal bangsa Indonesia. Kapan? Meneketehe.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2210889683137414648?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2210889683137414648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2210889683137414648' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2210889683137414648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2210889683137414648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/12/bahasa-indonesia-yang-tiarap.html' title='Bahasa Indonesia yang Tiarap'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5706603618005266679</id><published>2008-11-27T22:46:00.002+02:00</published><updated>2008-11-27T22:55:09.209+02:00</updated><title type='text'>Tak Habis Pikir</title><content type='html'>Pada keputusan pendeportasian hari itu (25/11), ada sebuah dosa besar yang takkan pernah terlupakan. Takkan pernah. Oleh ingatan kolektif masyarakat Indonesia yang ada di Mesir, oleh orang-orang yang bersimpati pada sesama, oleh kemanusiaan, oleh catatan sejarah. Dan ada luka di sana. Luka sebab keputusasaan di satu pihak dan ketidakpedulian di pihak lain. Saya tidak bicara tentang pelanggaran hukum. Karena saat penangkapan sudah terjadi, maka yang paling urgen untuk dibicarakan, dan diperbuat, adalah cara penanganan. Peristiwa penangkapan cukup dijadikan pelajaran, dan setelahnya, usaha yang harus muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbicara soal bang Bobby. Saya tidak mengenalnya sebagai pribadi. Tapi saya mengenalnya sebagai warga negara Indonesia. Saya mengenalnya sebagai seorang warga yang patut—sungguh patut—untuk dilindungi oleh perwakilan pemerintahan Indonesia di Mesir sini. Dan setelah peristiwa ketidakpedulian itu, saya juga mengenalnya sebagai simbol kesia-siaan berharap pada KBRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah pihak yang akan menyalahkan bang Bobby, perihal penangkapannya akibat telat mengurus visa? Saya jawab: ada. Tentu saja ada! Dan saya adalah salah satunya. Tapi dia sudah membayar lunas kesalahannya. Tuntas. Dan tidak ada kesalahan yang tidak bisa ditebus. Percayalah. Lantas, kenapa tetap ada deportase—sebuah harga tebusan yang menurut saya terlalu mahal? Ada jawaban: ‘Secara hukum memang begitu aturannya. Dan bukan kamu yang bikin aturan. Lantas kamu mau apa?’ Oh, bukan maksud hati hendak sok berwenang. Yang ingin saya utarakan adalah, dalam hubungan diplomasi antar negara, ada yang namanya lobi. Dan Indonesia punya lembaga perwakilan diplomasi di sini. Simak seorang petugas Mesir yang menangani kasus ini berkata, “Coba paling lambat seminggu setelah dipenjara kedutaan Indonesia mengurusi kasus Bobby, dia kemungkinan besar tidak perlu dideportase.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpedulian pemerintah akan nasib warganya bagi saya adalah dosa besar. Dan siapa yang tidak hendak setuju akan hal ini? Istri bang Bobby galau luar biasa saat dikabari oleh bang Bobby bahwa dirinya dibawa ke Mugamma. Kuatir minta ampun suaminya dideportase. Dalam kondisi seperti itu, praktis harapan satu-satunya adalah KBRI. Dan saat seorang pegawai KBRI dihubungi, setelah beberapa nomor telepon pegawai lain coba dihubungi dan tidak ada yang diangkat, yang didapatkan hanyalah ini, “Ya kalau sudah dibawa ke Mugamma ya berarti dideportase.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nada tak acuh di sana. Ada rona ketidakpedulian. Dan, saya pikir, ada dosa besar di sana. Saya jadi teringat perkataan ramah Kepala Bagian Konseler pada sebuah kesempatan, “Tugas kekonsuleran yang saya emban antara lain adalah melindungi warga negara Indonesia yang ada di sini.” Saya hendak bergumam pada tembok kamar mandi, karena saat menulis ini saya sedang berada di kamar mandi, duduk di atas kloset, sedang buang air besar, “Ya, usaha-usaha memang sudah dilakukan. Pak Thomas dan Bu Nelly muncul di hari penangkapan dan sempat membuntuti truk polisi tempat orang-orang yang terkena penjaringan diangkut. Pak Hilman juga muncul malam itu di kantor polisi distrik 6 Nasr City, tempat di mana orang-orang itu ditampung. Pasti juga ada usaha-usaha diplomasi lain yang saya tidak ketahui.” Lalu saya juga hendak bertanya padanya, pada tembok kamar mandi yang bisu ini, “Tapi apakah usaha-usaha itu sudah maksimal? Sudah maksimal? SUDAH MAKSIMAL?” Tentu saja tembok ini tidak bisa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha-usaha itu saya pikir adalah usaha-usaha yang tanpa ruh. Usaha-usaha mekanistis. Usaha-usaha yang hanya menggugurkan kewajiban. Usaha-usaha yang dianggap sebagai beban tambahan. Simak lagi ucapan ini: “Ya kalau sudah dibawa ke Mugamma ya berarti dideportase.” Dan simak lagi perkataan petugas Mesir ini: “Coba paling lambat seminggu setelah dipenjara kedutaan Indonesia mengurusi kasus Bobby, dia kemungkinan besar tidak perlu dideportase.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga ucapan seperti ini, “Wah, kita sibuk. Sibuk persiapan acara besok.” Acara apa memangnya? Kalau ada yang belum tahu, saya beritahu: perayaan ulang tahun Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir. Entah yang ke berapa. Apa ini penting? Yang jelas, menurut seseorang, lebih penting daripada hanya sekadar untuk menjenguk warganya di penjara, atau untuk bahkan sekadar memikirkan mengirim makanan untuknya, atau untuk menemaninya saat dibawa ke Mugamma seperti yang dilakukan beberapa duta-duta besar negara yang lain, atau untuk perwujudan kecil-kecilan lain dari bentuk kepedulian. Syarat apa lagi yang belum terpenuhi untuk mengambil kesimpulan bahwa ada dosa besar telah dilakukan? Dilakukan oleh siapa? Siapa lagi!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mahasiswa. Saya dianjurkan berpikir. Dan saya tak habis pikir. Saya bersumpah, ada semacam cacat moral di lembaga perwakilan pemerintahan Indonesia itu. Saya jadi makin tak percaya. Saya jadi makin tergila-gila. Di saat deportase mengancam salah satu warganya, pak Dubes, dengan ketidakpedulian yang angkuh, merayakan ultahnya. Padahal saya yakin, salah satu alasan mengapa Dubes ada di sini adalah untuk melindungi warganya, bukan untuk merayakan ulang tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimanapun juga, kita sebagai warga Indonesia patut bangga. Ternyata Dubes kita lebih sibuk daripada duta-duta besar negara Malaysia, Ukraina, Rusia, atau Kazakistan. Masih sempat-sempatnya mereka menjenguk warga mereka yang dipenjara di kantor polisi distrik 6 itu. Sempat-sempatnya mereka mendampingi warga mereka yang hendak dideportase di gedung Mugamma itu. Kurang kerjaan aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, saya sadar sesadar-sadarnya, betapa tampak nyinyirnya saya. Betapa sarkastiknya saya. Betapa tampak naifnya saya. Barangkali, seperti inilah rasanya amarah yang meluap-luap itu.&lt;br /&gt;Dan, biasanya, amarah butuh objek kemarahan. Jadi, marah pada siapakah saya? TIDAK PADA SIAPA-SIAPA. Atau, katakanlah, saya marah pada kucing. Atau berang-berang. Atau apalah terserah, pokoknya yang tidak bisa memahami bahasa saya, bahasa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebentar. Apa urusan saya marah-marah? Apa hak saya? Siapa saya? Ah, untuk soal itu, anggap saja ini adalah kebebasan berekspresi. Sebagaimana saya berhak buang air besar sambil ngupil, atau sambil bernyanyi, atau sambil menangis, atau sambil memikirkan jumlah utang, saya juga berhak buang air besar sambil merasakan amarah yang meluap-luap. Atau sebetulnya cuma masygul. Ah, anggap saja angin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Bobby, sebagai simbol kesia-siaan berharap pada KBRI, kini (27/11) tinggal menunggu jam. Tiket pesawat sudah dipesankan untuk kepulangan hari Jum’at besok (28/11). Masih ada hari ini. Dan apakah kita masih BISA berharap pada KBRI? Masih MAU berharap pada KBRI? SEMOGA ya. Terlambat? SEMOGA tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, barangkali pertanyaan yang penting bukanlah kenapa masyarakat Indonesia di Mesir jadi masygul. Jawabannya saya pikir sudah jelas. Ada pertanyaan yang lebih penting: kenapa sampai ada orang yang merasa perlu menulis kemasygulan itu dan mempublikasikannya? Walau saya cuma tahu sedikit semiotika, saya yakin tulisan sampah saya ini bisa diperlakukan sebagai tanda.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5706603618005266679?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5706603618005266679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5706603618005266679' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5706603618005266679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5706603618005266679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/11/tak-habis-pikir.html' title='Tak Habis Pikir'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-7213528997113527383</id><published>2008-09-14T06:02:00.000+02:00</published><updated>2008-09-14T06:07:52.924+02:00</updated><title type='text'>15 Mei 2008</title><content type='html'>Apakah kesempatan itu mitos? Siapakah yang hendak menjawab pertanyaan ini? Saya? Ibu yang melahirkan saya? Ayah yang mendidik dan membesarkan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu, mitos adalah sebuah konsep. Konsep apa? Secara sederhana mungkin saya bisa menjawab bahwa mitos adalah konsep penandaan yang terdiri dari lapisan kedua setelah semantika. Metabahasa. Sebuah tanda yang terdiri dari penanda dan petanda dicuri oleh mitos untuk ia jadikan penanda, dan kemudian (sang mitos itu) mencuri referensi lain untuk ia jadikan petanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah kesempatan itu mitos? Kalau saya yang mengajukan pertanyaan ini, siapakah yang harus menjawabnya? Mungkinkah ada orang yang jadi teramat peduli untuk menjawab pertanyaan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada orang yang percaya bahwa hidup adalah kesempatan? Saya akan menjawabnya: ada. Ya, hidup adalah kesempatan. Tapi, apakah kesempatan itu mitos? Jadi, apakah hidup itu mitos? Semua jadi tidak begitu nyata lagi kalau dimampatkan dalam sebuah konsep yang tak memiliki ruh dan pijakan. Hidup yang paling nyata, pada dasarnya, adalah kehidupan sehari-hari; bangun tidur, makan, minum, kencing, berak, kentut, menguap, mandi, gatal, garuk-garuk, meludah, gosok gigi, baca koran, pergi ke tempat kerja, atau sekolah, atau kafe, pulang dengan sedikit lelah, mematikan lampu dan tidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua tentang hidup ini akan menjadi berkabut kalau kita mulai berbicara tentang pikiran, perasaan, intuisi, imajinasi, rumus matematika, puisi, mimpi. Karena hidup bukan konsep, maka seharusnya hidup bukanlah mitos. Lantas, apa yang menyebabkan kesempatan menjadi mitos bagi saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah benar kesempatan adalah mitos bagi saya? Sial, saya harus menjawabnya “Ya”. Jadi, saya teramat peduli dengan diri saya sendiri. Pada kenyataannya, saya takut mati. Dan pada dasarnya, siapa yang tidak kuatir atas hal-hal yang misterius? Dan bukankah yang paling misterius bagi manusia adalah kematian? Apakah ada orang hidup yang memiliki pengalaman kematian? Seseorang, setelah mati, tidak lagi memiliki kesempatan untuk bercerita pada orang lain tentang kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya takut mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, saya tidak mengutarakan hal ini dengan semacam antusiasme yang ganjil. Menurut saya biasa-biasa saja. Saya takut mati. Itu saja. Mengapa? Karena saya masih ingin hidup. Untuk apa? Barangkali, untuk mendapatkan kesempatan. Barangkali, untuk berjuang melawan mitos. Kesempatan untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahu lebih banyak tentang kamu, Ndut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah kesempatan itu mitos? Siapakah yang hendak menjawab pertanyaan ini untuk saya? Saya sendiri? Ibu yang melahirkan saya? Ayah yang mendidik dan membesarkan saya? Barangkali, kamulah yang bisa menjawabnya, Ndut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Kutulis coretan ini lama. Berbulan-bulan yang lalu. Aku menemukannya di sebuah folder dokumen yang sudah lama tak aku buka. Barangkali aku menuliskannya di saat-saat aku minta bantuanmu untuk bisa menemukan apa sebenarnya yang aku inginkan, Ndut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-7213528997113527383?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/7213528997113527383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=7213528997113527383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7213528997113527383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7213528997113527383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/09/15-mei-2008.html' title='15 Mei 2008'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5049146791627749289</id><published>2008-09-03T19:07:00.000+02:00</published><updated>2008-09-03T19:26:54.082+02:00</updated><title type='text'>Mengingat Ibu</title><content type='html'>Bagaimana seorang anak mengingat ibunya? Bagaimana saya mengingat ibu saya? Wanita pertama yang saya kenal adalah, tentu saja, ibu. Dan yang saya ingat dari sosok seorang ibu adalah dia, wanita, yang pertama-tama adalah memakaikan saya baju. Apa yang pertama kali ibu lakukan terhadap saya adalah membelai dan menyusui saya, tapi hal-hal semacam ini masuk dalam pengetahuan saya bukan lewat jalur memori atau ingatan, melainkan melalui pengertian-pengertian yang ditransfer oleh orang lain kepada saya. Yang kedua, ibu adalah wanita yang menyuapi saya makanan. Yang ketiga, ibu adalah wanita yang selalu saja berteriak-teriak dengan muka pucat saat saya kecil menggenjot pedal sepeda roda tiga saya terlalu kencang. Yang keempat, ibu adalah wanita yang setiap sore mencari saya untuk diajak pulang dari mana pun tempat saya bermain—herannya, dia selalu menemukan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya berusia enam atau tujuh tahun, ibu bagi saya adalah wanita yang seringkali menghukum saya dengan cubitan di pantat. Dia tak lagi merupakan wanita yang menyusui saya, yang menyuapi saya, yang menimang saya. Ibu bagi saya kemudian muncul lebih sebagai sosok penegak hukum dalam rumah. Sejak saya kelas tiga SD, ibu makin ketat menegakkan hukum, dan dialah yang menunggui saya belajar dan mengerjakan PR di malam hari. Kalau saya sedang malas belajar atau tak mau mengerjakan PR, ibu adalah wanita yang mengeluarkan ancaman. Seringkali ancaman itu berupa hukuman fisik. Tapi tak jarang juga ibu mengeluarkan ancaman hukuman mental, yang bagi saya lebih menakutkan. Yang jelas, setiap ancaman selalu membikin saya merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya naik kelas enam SD, ibu bagi saya adalah sosok wanita yang suatu saat pernah menyiram saya dengan air bak mandi. Saat itu saya, dengan tanpa niat melakukan kesalahan, menciprati rambut basah bibi saya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Saya suka bermain kejar-kejaran, dan dengan menciprati rambut basah bibi, saya berharap bibi saya berteriak dan mulai mengejar saya dengan sambil mengeluarkan ancaman-ancaman lucu, “Awas kalau ketangkap! Bibi cium, nanti!” misalnya. Tapi dugaan saya salah. Bibi malah marah besar, dan melaporkan perbuatan saya kepada ibu. Dan ibu, tanpa memberi saya kesempatan untuk menjelaskan apa yang baru saja saya lakukan dan mengapa saya melakukannya, langsung menyeret saya ke kamar mandi dan menyirami saya dengan air dengan begitu murka—ibu juga mengeluarkan kata-kata menuduh, menyinggung kenakalan-kenakalan saya yang sudah lewat, dan membentak. Sampai sekarang, ingatan akan peristiwa tersebut masih begitu melekat erat, dan saya terkejut akan besarnya efek ingatan akan peristiwa tersebut pada kondisi mental saya khususnya dalam memandang konsep wanita pada umumnya dan pada konsep ibu pada khususnya dan pada ibu saya sendiri pada lebih khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas SD, saya mulai jarang bertemu dengan ibu, karena saya dititipkan di sebuah pesantren. Dan saat saya pulang liburan, ibu bagi saya adalah seorang wanita yang menanyakan apakah saya kerasan, apakah saya suka makanan yang disediakan di pesantren, apakah saya masih minum susu setiap pagi, apakah saya bisa mengikuti “pelajaran agama” yang diberikan, apakah saya tidak melanggar aturan pesantren, apakah saya tidak nakal. Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ibu dengan jujur, tapi kalau saya pikir saya akan dimarahi dan dihukum kalau jawaban saya jujur, saya berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saya lulus SMP, saya melanjutkan studi di Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Dalam satu tahun, saya libur dua kali. Dan dalam liburan tersebut, ibu bagi saya adalah sosok wanita yang selalu memeluk dan mencium saya begitu bertemu. Saya sangat suka saat ibu mengelus pipi atau membelai rambut saya. Seringkali saya menidurkan diri di pangkuannya, agar dia membelai rambut saya. Saya merasa terlindungi, dan di saat seperti itu saya selalu mencoba meyakinkan diri bahwa perlakuan kasar ibu pada saya saat saya masih kecil, hukuman-hukuman, cubitan di pantat, siraman air, dan bentakan, hanyalah mimpi buruk yang sudah berakhir. Saat berada di Al-Amien, ibu bagi saya juga merupakan sosok wanita yang berteriak bahagia dalam telpon saat saya kabari hasil ujian saya. Tiga empat kali saya sampaikan kabar gembira, ibu kemudian merupakan sosok wanita yang seringkali membanggakan anak lelakinya. Saat liburan, ibu selalu mengajak saya ke pengajian, ke rumah para saudara dan kenalan ibu, atau ke arisan, dan tak habis-habisnya bercerita pada sahabat-sahabatnya tentang diri saya, anak lanangnya. Kalau sudah begitu, saya tersipu. Saya malu. Pipi saya merona, dan berharap dia menyudahi obrolannya, atau mengganti topik pembicaraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah saya duduk di bangku kuliah, ibu tak pernah lagi menghukum saya, mencubit pantat saya, menghardik atau membentak saya. Ibu menggunakan cara lain dalam mengungkapkan rasa sayangnya pada saya. Cara yang lebih lembut. Cara yang lebih halus. Cara yang lebih memberdayakan simbol. Cara yang terasa lebih hangat dan nikmat. Dengan menangis, misalnya. Atau dengan cara menyerahkan hidup saya pada pemiliknya sendiri: saya. Ada sekali peristiwa yang begitu kuat melekat pada ingatan saya, kaitannya dengan membuat ibu menangis. Saat itu saya masih belajar di Al-Amien, dan sedang liburan akhir tahun. Di ruang kerja ayah, di hadapan ibu, saya mengatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah bisa berkembang dalam rumah seperti rumah ibu, karena dalam rumah ibu saya tidak menemukan adanya syarat dan pra-syarat yang memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang, dan karenanya saya tidak betah berada lama-lama di rumah. Saat itu, tanpa saya duga sebelumnya, ibu kaget, mukanya tegang, kedua matanya berbinar, bangkit dari tempat duduknya, beranjak ke dapur dan menangis tersedu-sedu. Saya butuh waktu yang lama untuk bisa memahaminya: ibu sangat menyayangi saya. Saya butuh beberapa hari untuk bisa memahami mengapa ibu menangis begitu, itu pun karena ibu sendiri memberi penjelasan, “Ibu bisa menerima rumah ini kaubilang tidak disinari ilmu pengetahuan, Nak. Tapi jangan sekali-kali kau mengatakan bahwa kau tidak kerasan di rumah sendiri. Apa dosa ibu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, setelah mengkonstruk ingatan tentang ibu, bagi saya, beliau adalah sosok wanita yang selalu menyayangi saya dengan caranya sendiri. Boleh saya terkadang merasa tidak suka dengan caranya (betapa tidak nyamannya saya dicubit pantat, betapa kikuknya saya dibicarakan di depan lubang hidung saya sendiri), tapi ibu hidup dalam dunia yang bukan dunia saya, dunia yang memiliki tata caranya sendiri, simbol-simbolnya sendiri, aturan mainnya sendiri, dan norma-normanya sendiri. Saya bisa memakluminya. Dan saya bersyukur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5049146791627749289?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5049146791627749289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5049146791627749289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5049146791627749289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5049146791627749289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/09/mengingat-ibu.html' title='Mengingat Ibu'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-3397979239978091393</id><published>2008-08-20T18:57:00.001+03:00</published><updated>2008-08-20T18:57:51.553+03:00</updated><title type='text'>Hidup, Emak</title><content type='html'>Emak!&lt;br /&gt;Aku yang pernah mendekam&lt;br /&gt;sembilan bulan dalam perutmu!&lt;br /&gt;Harusnya aku tahu&lt;br /&gt;itulah sorga&lt;br /&gt;yang hanya datang padaku&lt;br /&gt;sekali waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka begitu dewasa&lt;br /&gt;kubikin-bikin cerita bualan&lt;br /&gt;tentang sorga artifisial&lt;br /&gt;dengan penuh gambar nostalgia&lt;br /&gt;yang binal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emak!&lt;br /&gt;Aku yang pernah menyusu&lt;br /&gt;lima tahun pada putingmu!&lt;br /&gt;Harusnya aku tahu&lt;br /&gt;itulah air paling putih&lt;br /&gt;yang sempat mengaliri darahku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hidup, emak, hanya berisi air tuba,&lt;br /&gt;yang lama-lama&lt;br /&gt;makin berkuasa&lt;br /&gt;dan membabi-buta&lt;br /&gt;menjajah aorta&lt;br /&gt;dalam tubuhku yang kosong daya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-3397979239978091393?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/3397979239978091393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=3397979239978091393' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3397979239978091393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3397979239978091393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/08/hidup-emak.html' title='Hidup, Emak'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-6973763623987623921</id><published>2008-08-20T18:26:00.000+03:00</published><updated>2008-08-20T18:27:05.671+03:00</updated><title type='text'>Sisa</title><content type='html'>Aku telah melakukan kesalahan besar hari ini. Harusnya aku bangun tadi. Harusnya aku tak tidur pagi. Dan harusnya tubuh lelah tak perlu jadi pembenaran. Aku harus minta maaf, walau aku tahu, seperti kata Om Solah dan Hayla, permintaan maaf tak menghapus jejak kesalahan. Ia tetap menyisakan bekas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-6973763623987623921?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/6973763623987623921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=6973763623987623921' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6973763623987623921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6973763623987623921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/08/sisa.html' title='Sisa'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2450940271859784564</id><published>2008-08-20T16:50:00.000+03:00</published><updated>2008-08-20T16:51:49.516+03:00</updated><title type='text'>Warna-Warni Bentuk Kebertuhanan</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu saya menonton film Hena Maysara, yang berkisah tentang kehidupan kaum urban pinggiran kota Kairo, yang dikungkung kemiskinan dan kepasrahan, yang akrab dengan kekerasan dan kesemrawutan, hashish dan senjata tajam, keterbelakangan dan fundamentalisme. Apa yang bisa saya ambil sebagai pelajaran dari film tersebut adalah bahwa manusia tak pernah selamanya baik, juga tak pernah selamanya jahat. Manusia yang selamanya baik, atau selamanya jahat, hanya ada dalam sinetron-sinetron Indonesia, telenovela Amerika Latin, atau dalam cerita-cerita yang ditulis orang FLP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam film tersebut, digambarkan bagaimana anak-anak muda yang tak punya pekerjaan itu mengisi waktu mereka. Bangun siang-siang, keluar rumah, nongkrong di kafe, menghisap hashish, bertengkar, terlibat urusan hutang-piutang dengan gangster jalanan, begadang dan bercinta dengan tetangga mereka yang pelacur yang bertarif lima pounds Mesir. Di saat yang sama mereka tetap mengikuti tradisi-tradisi keagamaan kampung dari mana mereka berasal, membantu kawan mereka yang butuh bantuan, salat sesekali, dan menyembelih kurban saat hari raya Adha. Di jalanan mereka bertahlil, saat bertengkar mereka bersalawat nabi, selepas bercinta mereka memohon ampun pada Tuhan. Dikisahkan juga dalam film tersebut hubungan anak-anak muda itu dengan kelompok fundamentalis Islam garis keras yang begitu akrab. Bahkan imam kelompok tersebut menyebut mereka sebagai “Orang-orang muslim yang terhormat, yang lurus di jalan Allah, tipe mujahidin sejati, saudara-saudara kita yang patut dipuji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan saya adalah, “Seperti apa gambaran Tuhan bagi orang-orang semacam itu? Apakah Tuhan mereka adalah Tuhan yang sama yang saya sembah sesekali dan saya maki di kali yang lain?” Barangkali sama. Barangkali tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti Irak yang mengkaji kecenderungan materialisme dalam filsafat Islam dengan menggunakan metode materialisme-historis, Hussein Murwa, menjawab, “Tidak.” Menurutnya, Tuhan sebuah kaum adalah cerminan dari kondisi sosial-historis kaum tersebut. Tuhan kaum borjuis tidak sama dengan Tuhan kaum proletar. Tuhan badui tidak sama dengan Tuhan penduduk kota. Saya setuju dengan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Murwa menunjukkan bagaimana banyaknya tuhan-tuhan yang berbeda yang disembah oleh kabilah-kabilah yang berbeda pula pada masa pra-Islam merupakan wujud manifestasi dari perpecahan antar kabilah. Pada masa yang biasa disebut Jahiliyyah tersebut, kabilah-kabilah yang ada di jazirah Arab memang seperti hidup sendiri, terisolasi, dan memenuhi kebutuhan hidup mereka secara mandiri. Maka dari itulah bentuk kebertuhanan yang mereka praktekkan tak mengenal konsep tauhid—persatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama-agama tauhid—Yahudi, Nasrani dan Islam—muncul di tengah-tengah komunitas yang tak bersatu, dan memiliki visi untuk mempersatukan komunitas tersebut di bawah panji kekuasaan satu Tuhan. Saat Musa datang menyerukan pada kaumnya untuk menyembah Tuhan yang satu, pada dasarnya dia mengajak kaumnya yang terjajah dan diperbudak Fir’aun untuk bersatu padu melawan tirani tersebut. Muhammad memiliki fisi yang sama, menyatukan para kabilah yang terpecah-belah, membangun satu imperium ketuhanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa religiusitas—dalam hal ini saya artikan sebagai kebertuhanan—tidak pernah berada di luar ranah sejarah kemanusiaan. Kebertuhanan selalu merupakan hasil budaya, tak pernah suci dari campur tangan manusia, dan selalu berubah mengikut berubahnya keadaan sosial-historis sebuah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang gurun akan memiliki cerita tentang jin-jin gurun, orang yang hidup di pedesaan tropis akan memandang takjub pada pohon-pohon besar, dan orang-orang Mesir akan sangat menghormati sungai Nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para agamawan, khususnya dari agama-agama Samawi, tentu tidak setuju dengan pendapat ini, karena bertentangan dengan apa yang mereka yakini benar. Saya pikir hal ini wajar. Klaim kebenaran yang dibawa masing-masing agama saya pikir sah, dan tidak aneh, dan dalam beberapa sisi malah merupakan nilai positif. Pada masa-masa awal kemunculannya, klaim kebenaran ini justru malah wajib. Tapi yang saya sayangkan adalah kenyataan bahwa para agamawan kebanyakan selalu terlambat dalam mengikuti gerak jaman, terkungkung dengan nostalgia masa lalu, dan cenderung mengutuk perubahan. Yang saya sayangkan adalah harga mati yang mereka patok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang ingin saya tegaskan dalam tulisan ini. Pertama, kebertuhanan adalah hasil budaya—sebab agen yang memiliki kesadaran terhadap diri sendiri dan dunia luar hanyalah manusia, maka yang “memiliki tuhan” hanyalah manusia. Kedua, bentuk kebertuhanan sebuah masyarakat dipengaruhi oleh banyak hal terutama oleh hasil interaksi kompleks antara manusia dan alam sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam bagi saya adalah agama yang paling canggih, dengan dua alasan. Pertama, karena memang secara historis Islam adalah merupakan "hasil akhir" dari perkembangan agama-agama samawi sebelumnya. Islam, secara evolutif, berhasil mengambil pelajaran dari agama-agama sebelumnya, mengkombinasikan unsur-unsur yang menguntungkan, dan membuang yang merugikan bagi kelangsungan hidupnya sendiri (unsur tauhid, misalnya, sangat menguntungkan, maka dipertahankan, sedangkan unsur kekerasan pada Yahudi dan kelembutan pada Nasrani dibuang karena tidak menguntungkan dalam masyarakat Makkah-Madinah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua adalah kuatnya unsur fleksibilitas dalam Islam, sehingga memungkinkan para pemeluknya untuk bisa terus mengaktualisasikan nilai-nilai Islam sesuai lokalitas dan keadaan masyarakatnya. Dalam tulisan ini saya ingin menitikberatkan perhatian pada meriahnya perbedaan bentuk kebertuhanan pada para pemeluk agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita telusuri, perayaan atas perbedaan bentuk kebertuhanan dalam Islam pertama kali "diselenggarakan" pada akhir jaman kekhalifaan "rasyidin". Setelah perbedaan bentuk kebertuhanan hanya tampak samar dan tidak dihiraukan pada masa rasul dan kepemimpinan khulafa rasyidin, berkat adanya dinamika progresif yang tercermin dengan meledaknya perang Jamal dan Shiffin, akhirnya orang-orang merayakan perbedaan tersebut dengan pesta pora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncullah untuk pertama kalinya beberapa orang Islam yang secara terang-terangan mengumandangkan keberbedaan bentuk kebertuhanan mereka dari para pemeluk Islam mayoritas dan mengumumkan pada khalayak bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan Gaib tempat seluruh perkara harus diserahkan dan dipasrahkan. Muncul juga beberapa pemeluk Islam lain yang memilih Tuhan mereka sebagai Tuhan yang memerintahkan mahluk-Nya untuk tidak cuci tangan terhadap apa yang terjadi, untuk ikut ambil peran dalam menegakkan ajaran-Nya, kalau perlu dengan cara paling keras sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pemeluk Islam yang melihat Tuhan mereka sebagai Maha Penyayang, dan asal percaya kepada-Nya, mereka akan masuk sorga. Ada juga yang memandang bahwa Tuhan mereka adalah Maha Adil, yang akan menghukum yang bersalah dan memberi pahala yang beramal saleh. Ada sekelompok pemeluk Islam yang memandang Tuhan mereka sebagai Personal yang Maha Tahu, ada yang lebih memandang Tuhan mereka sebagai Personal yang hanya mau tahu “kulliyyat” dan menyerahkan sebentuk kebebasan memilih pada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kelompok-kelompok pemeluk Islam tersebut tak muncul dari ruang hampa, tentu saja. Ada dinamika di sana, kemelut, kondisi khusus/khas, dan kepentingan yang tak lepas dari sifat kemanusiaan. Seluruhnya memberi kita pemahaman bahwa bentuk kebertuhanan adalah hasil budaya yang patut kita apresiasi, dan karenanya tak perlu kita anggap sebagai tabu. Sikap yang seharusnya kita dukung adalah sikap penerimaan kenyataan ini. Sudah sepatutnya kita tinggalkan cara pandang sempit yang hanya mampu melihat satu sisi kebenaran dan menganggap sisi yang lain salah. Sudah waktunya kita merayakan perbedaan bentuk kebertuhanan kita dengan suka cita tanpa huru-hara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2450940271859784564?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2450940271859784564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2450940271859784564' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2450940271859784564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2450940271859784564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/08/warna-warni-bentuk-kebertuhanan.html' title='Warna-Warni Bentuk Kebertuhanan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4232837541321774320</id><published>2008-08-12T20:32:00.000+03:00</published><updated>2008-08-12T20:48:36.234+03:00</updated><title type='text'>Kampung Halaman</title><content type='html'>"Kota mana yang paling indah menurutmu?" tanyanya suatu saat ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kampung halaman," jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang yang kucintai dan mencintaiku ada di sana," jawabku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4232837541321774320?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4232837541321774320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4232837541321774320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4232837541321774320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4232837541321774320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/08/kampung-halaman.html' title='Kampung Halaman'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4468714576364571007</id><published>2008-02-07T07:17:00.000+02:00</published><updated>2008-02-07T07:45:56.204+02:00</updated><title type='text'>Mati Rasa Mati</title><content type='html'>Orang Meksiko itu, saya masih ingat, suatu saat pernah bilang, "Lebih baik mati berdiri daripada hidup bertekuk lutut." Orang-orang Palestina memiliki idiom yang serupa, "Mati oleh kelaparan sama rasanya dengan mati oleh bom bunuh diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau kita memperhatikan lebih seksama, ada perbedaan jelas antara dua idiom milik orang Meksiko dan Palestina di atas. Mati berdiri atau hidup bertekuk lutut jelas tidak sama (walau seakan-akan serupa) dengan mati kelaparan dan mati oleh bom bunuh diri. Ya; orang Palestina tidak memiliki kesempatan untuk menang. No way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang membuat saya bangga atas diri orang-orang Palestina: mereka tak pernah berhenti berharap yang terbaik! Dan bekerja untuk mewujudkannya! Kemarin saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Ulrike Putz di www.spiegel.de tentang orang-orang Palestina yang kerjaannya membikin rudal Qassam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu saya bangga atas diri saya, walau pada dasarnya dia tetap seorang ibu," kata seorang Palestina pembikin rudal saat diwawancarai Putz. Dengan imajinasi yang saya miliki, saya bisa meneruskan, "Ibu saya berkata dia bangga atas apa yang saya lakukan, walau dia yakin akan merasa kehilangan saat suatu ketika nanti berdiri di pemakaman saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain Putz menulis, "Membuat Qassam sudah seperti membuat makan malam. Semua anak kecil di wilayah sini bisa membuatnya dengan mudah. Hanya butuh dua jam teori."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu tahu mereka tidak akan menang. Tapi mereka tidak mengeluh. Mereka memang lapar. Tapi tidak mengemis. Sementara itu, saya masih ribut minta kemewahan-kemewahan kecil dari siapa pun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4468714576364571007?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4468714576364571007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4468714576364571007' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4468714576364571007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4468714576364571007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/02/mati-rasa-mati.html' title='Mati Rasa Mati'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-7001009951449159774</id><published>2008-02-02T01:50:00.000+02:00</published><updated>2008-02-02T02:28:30.521+02:00</updated><title type='text'>Bukan Ucapan Selamat Tinggal</title><content type='html'>Kau tak perlu memaafkanku. Biarlah kesalahan itu jadi sejarah yang tak terhapus. Suatu saat nanti, kalau aku lupa diri, kau bisa mengingatkanku di mana letak sejarah itu kita simpan, biar kubaca ulang, biar kuingat ulang, biar kusesali kembali, biar kupelajari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Pertama, aku memang sedang menghindarimu. Kau seperti horor masa lalu yang sedang aku elak. Bukan kesalahanmu. Kau lebih semacam tumbal. Itulah kenapa sesalku berlipat. Itulah kenapa menghindarimu jadi begitu masuk akal bagiku. Aku butuh waktu. Dan butuh cara untuk meludahkan racun yang selama ini selalu aku simpan di bawah lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Kedua, aku sudah bisa memahami apa yang telah terjadi di antara aku, kau dan dia. "Suatu saat kita akan tertawa mengingat hari ini," katamu. Ya. Aku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Ketiga, aku tahu kau hanya cari alasan saat itu. Kesalahan paling besarku padamu adalah pergi ke rumahmu. Aku seharusnya tak perlu tahu di mana letak perkebunan tebu itu. Aku seharusnya tak boleh tahu manisnya hidanganmu. Berkali-kali, kita hanya berdua di atas kursi. Kesalahan paling krusialku adalah menginterpretasikan kecantikanmu dengan tidak adil. Nomor telepon genggammu masih aku simpan, juga beberapa suratmu. Entah kapan akan aku bakar. Aku belum sempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benci mendengar apa yang keluar dari mulut wanita itu, Kau. Aku juga benci melihatmu menunggu. Katanya kau menangis lama. Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Keempat, oh, muncul juga kau akhirnya. Tak jadi kita bikin pengumuman orang hilang. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Tentang hari-hari kita, tentang kerja-kerja kita,kesamaan-kesamaan antara kita, tentang perbedaan-perbedaan antara kita, tentang pondasi yang ingin aku ratakan untuk kemudian aku bangun pondasi yang baru. Kau tahu, pondasi yang aku bangun untuk bisa kita duduki bersama ternyata selama ini rapuh. Mungkin bisa diperbaiki. Tapi aku ingin menghancurkannya. Proyek penghapusan sisi gelap, katakanlah seperti itu. Biar semuanya benderang. Seratus Cara Hidup Senang-mu pasti hanya bualan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Kelima, sudah sampaikah ke Weimar? Kubaca berkali-kali Wanita Hujan-mu, sambil bertanya-tanya kapan aku bosan. Sampai ke Weimar, jangan lupa naiki pohon siwalanmu. Dari atasnya, intiplah arah Barat. Kalau kita beruntung, kau bisa melihat pelangi yang kucat putih kemarin. Hari ini semoga catnya sudah kering. Coba tebak ada tulisan apa di atas putih pelangiku? Ya, ya, tulisan itu untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau Keenam dan Ketujuh, jangan tunggu apa yang akan aku katakan. Karena aku tidak akan mengatakan apa-apa pada kalian berdua. Janji butuh bukti. Bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, semua, beri aku selamat! Aku sudah tahu apa yang aku inginkan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-7001009951449159774?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/7001009951449159774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=7001009951449159774' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7001009951449159774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7001009951449159774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/02/bukan-ucapan-selamat-tinggal.html' title='Bukan Ucapan Selamat Tinggal'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-3491864884118127068</id><published>2008-02-01T22:41:00.000+02:00</published><updated>2008-02-01T23:13:39.710+02:00</updated><title type='text'>Januari 2008</title><content type='html'>Saya menulis dengan buru-buru, menyadari bahwa kereta sejarah tak pernah berhenti menjarah hari ini untuk disikat habis. Yang tertinggal hanya masa lalu--yang tak pernah bisa kembali. Ada rasa kejut. Seperti dihantam bidadari dengan godam. Ditampar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;malaikat pencabut nyawa &lt;/span&gt;yang datang lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari saya di jalanan gelap, tanpa lentera agama, tanpa obor pengetahuan, berakhir pada sebuah hari di mana saya jatuh tersandung reruntuhan beton tembok perbatasan Gaza-Rafah yang habis diratakan orang-orang lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bising mesiu membuat saya panik. Saya ingin segera pulang rumah. Lari. Ngacir. Terkencing-kencing. Terbirit-birit. Serabutan takut dikejar rasa sesal takut tertangkap kesia-siaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngos-ngosan sampai di rumah. Dan ajaib, rumah saya lebih ajaib daripada jalanan gelap daripada Gaza daripada Rembang. Saya ingin menangis, tapi apa itu bermanfaat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;suwung&lt;/span&gt;. Tak berpenghuni lima ribu tahun. Tak ada artefak yang menunjukkan adanya sebuah peradaban di masa lalu. Tak ada tanda-tanda berkembangnya tulisan. Tak ada tanda-tanda berkembangnya pemikiran. Tak ada tanda-tanda berkembangnya kedewasaan hidup. Gelap. Belum ada filsafat di rumahku. Belum ada ilmu pengetahuan di rumahku. Yang ada mitos yang berseliweran, animisme yang rapuh, dogma yang tampak menakutkan, tahayul yang bergentayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates dan Plato dan Aristoteles tak pernah mampir di sini. Ibn Rusyd dan Moses Maimonides enggan berkunjung. Spinoza dan Leibniz merasa jijik. Nietzsche dan Naguib Surour sama-sama berakhir di rumahku, dalam keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik bangkit sudah lama terdengar santer sebulanan ini. Lepas dari siksa ujian term pertama Al-Azhar, ada rencana untuk merenovasi rumah. Rumahku sendiri. Tapi aku belum bikin jadwal. Ada tempat sembunyi yang nyaman di Zamalek. Tadi siang seseorang memberiku kabar perekrutan jurnalis baru Terobosan akan diadakan pertengahan bulan depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tobroni beberapa hari yang lalu menangis di kantor konselir. Nanang menanyakan kabar Di Bawah Nol-ku. Faizin mengumpulkan uang untuk beli Don Quixote. Abou Trika melakukan hal atraktif di lapangan hijau saat melawan Sudan. Matahari bersinar lumayan lama tadi siang. Om Midud kirim offline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersih-bersih rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-3491864884118127068?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/3491864884118127068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=3491864884118127068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3491864884118127068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3491864884118127068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2008/02/januari-2008.html' title='Januari 2008'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-1699466471987213107</id><published>2007-10-29T06:21:00.000+02:00</published><updated>2007-10-29T06:26:35.216+02:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fragmen'/><title type='text'>Malam-malam Kita</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Ada beberapa orang yang sangat membenci malam, aku pikir. Mereka tidak mempermasalahkan kegelapannya, atau udaranya. Mereka hanya lebih mempertimbangkan untuk tidur daripada harus tiba-tiba terkejut mendengarkan suara gaduh-tengah-malam yang biasa timbul akibat ulah-ulah kita. Aku tidak menyalahkan orang-orang macam begitu. Aku bisa memahami sikap mereka. Aku bisa membayangkan bagaimana harus jadi seorang tua yang tak lagi punya jiwa muda dan semangat untuk bertahan hidup menantang petaka. Aku sering melihat orang-orang macam begitu di banyak tempat di sudut &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bangsat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Mereka semua takut pada kekacauan, huru-hara, ketidakteraturan. &lt;st1:place st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt; jadi orang renta. Semua serba jadi kelabu. Mereka menginginkan ketenangan; lucu sekali. Ya, aku pikir itu sangat lucu sekali. Kalau kau butuh tenang, Pak Tua, pergilah ke pekuburan, gali lobang makammu malam-malam sendirian, tanpa menimbulkan suara, lalu sayatlah nadi di lengan kirimu. Kusarankan kau pakai silet yang tajam, begitu kataku suatu saat pada Pak Tua penjaga pintu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Orang yang satu ini sangat memuakkan. Dia seperti tidak punya otak. Tidak bisakah dia membayangkan apa sebetulnya pekerjaannya? Apa dia tidak tahu untuk apa dia dibayar? Jam sembilan sore dia sudah menggedor-gedor (aku bertanya-tanya, siapa jadinya yang bikin ribut?) pintu apartemen kita, berteriak tak keruan, mengatakan sesuatu tentang tutup mulut, matikan musik dan bubarkan pesta. Dia bilang kita akan mengganggu para tetangga. Oh, kau pikir aku ini anak muda tak punya otak, Pak Tua? Kau mengingatkanku pada wanita tua tetanggaku di kampung dulu, yang seringkali meminta makanan dengan alasan anaknya lapar, padahal semua orang tahu dialah yang kelaparan. Wanita tua itu memang rakus. Sama seperti Pak Tua yang satu ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Tapi aku tidak marah. Aku bisa memahaminya. Sebagaimana aku selalu memberi wanita tua tetanggaku di kampung dulu makanan yang dia minta, aku pun memberi apa yang diminta oleh Pak Tua; kututup mulutku, kumatikan sound systemku, dan kusuruh kau mengenakan baju luarmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Pak Tua itu pasti masih saja mengomel-ngomel saat menuruni tanggal. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku tidak mengeluh, walau semua orang tahu siapa sebetulnya yang bikin gaduh. Nyatanya, hanya orang-orang renta saja yang menyalahkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Dan aku tahu mengapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt; ini memang bangsat. Tapi aku tidak marah. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ini telah memberiku banyak hal; vodka tradisional yang hangat, marijuana yang harganya murah dan mendapatkannya sangat mudah (kita tinggal bertanya pada polisi-polisi yang nongkrong di perempatan-perempatan jalan), gadis yang enak diajak bicara dan bertukar pikiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Kau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Terakhir, Sayang, suatu saat akan kulanjutkan tulisanku ini. Malam sudah habis. Cahaya pertama hari ini sudah muncul. Sudah saatnya bubarkan pesta. Kau tampak kelelahan, seperti biasa di saat subuh. Baiklah, baiklah. Lelaplah kau lelaplah. Sini, sini, di pangkuanku. Kita tak boleh mengganggu orang-orang tua yang mulai bangun itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;Maka lelaplah kau di pangkuanku dan aku di pangkuanmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;29 Oktober 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-1699466471987213107?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/1699466471987213107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=1699466471987213107' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/1699466471987213107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/1699466471987213107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/10/malam-malam-kita.html' title='Malam-malam Kita'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-6370596358202248973</id><published>2007-06-04T14:00:00.000+03:00</published><updated>2007-06-04T14:02:27.988+03:00</updated><title type='text'>Bandel</title><content type='html'>Sampai mana batas rasionalitas manusia? Dan, sebelumnya, apa itu rasionalitas? Apakah hanya manusia yang memiliki rasionalitas? Bagaimana dengan rasionalitas Tuhan, yang menyentuh kehidupan manusia dalam wujud aturan agama? Agama punya aturan, jadi? Apa alam luar juga memiliki rasionalitas, hukum alam, fisika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa segala rasionalitas yang sudah saya sebut, tidak potensial untuk berbentur satu sama lain? Standar nilai apa yang bisa kita jadikan pegangan untuk menilai rasio mana yang paling kuasa (karena lantas tidak ada benar-salah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian: bagaimana kita bisa menjelaskan rasionalitas seseorang yang sedang jatuh... cinta? [Halah, ujung-ujungnya, Dif, Dif!]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar! Saya sedang sekuat tenaga untuk melawan kematian! Rasionalitas saya mengijinkan saya untuk melakukan apapun (yang tidak berbentur dengan rasionalitas-hak orang lain) agar saya tetap hidup. Karena saya masih ingin hidup. Karena saya masih punya banyak keinginan yang belum tercapai. Saya ingin mati dengan senyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya rasionalitas saya sendiri. Dan saya hanya sesekali memintamu untuk memahami rasionalitas saya. Hanya sesekali. Seperti saat ini. Saat di mana saya tak mampu mengejar caramu berpikir. Tak mampu menelusuri lekuk caramu merasa. Saat di mana saya tak mampu hidup tanpamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat lelah. Saya sangat lemas. Saya shock. Tapi saya tetap tak mau mati. Saya mungkin bandel. Sudah saatnya mati tetap tidak mau mati. Tapi saya punya rasionalitas sendiri. Saya tetap tak mau mati. Saya tetap tak mau kehilanganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin bandel. Saya masih bandel. Saya tetap akan membandel. Sampai nanti. Sampai saya mati tanpa ingin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Juni 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-6370596358202248973?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/6370596358202248973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=6370596358202248973' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6370596358202248973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6370596358202248973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/06/bandel.html' title='Bandel'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2339903758644636545</id><published>2007-05-24T16:43:00.000+03:00</published><updated>2007-05-24T16:44:49.610+03:00</updated><title type='text'>Seseorang Menulis</title><content type='html'>Seseorang menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang hebat bagi saya adalah orang yang bisa melakukan sesuatu, yang saya tidak mampu melakukannya. Bush hebat bagi saya, karena saya tidak bisa menyebarkan teror yang begitu sistematis dan paling tidak kentara dalam sejarah umat manusia. Para peminta-minta sedekah hebat bagi saya, karena saya tidak mampu meminta barang pada orang lain. Para pemuka agama hebat bagi saya, karena saya tidak mampu memanfaatkan kesakralan agama untuk kepentingan bawah sadar saya. Farah hebat bagi saya, karena saya tidak bisa siaran radio. Faizin hebat bagi saya, karena saya tidak bisa memendam perasaan pada seorang gadis tanpa mengutarakannya. Seorang pembunuh hebat bagi saya, karena saya tidak mampu membunuh orang... [s]aya tidak punya standar etika, tak tahu benar salah, baik buruk..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya selalu ingin duduk saat naik bus kota menuju kampus, atau menuju ke mana saja. Bukan saya malas berdiri. Tapi membaca lebih enak sambil duduk daripada sambil berdiri. Dan saya lebih suka jalan sendirian. Duduk dalam bus kota sendirian. Kalaupun sedang bersama kawan, saya selalu berusaha 'secara tidak sengaja' mencari tempat duduk sendirian. Kalaupun tak bisa sendirian, selalu cari tempat duduk di samping orang tak dikenal. Bukan saya asosial. Tapi membaca lebih enak sendirian daripada..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang kawan lelaki saya pernah bilang, 'Semua lelaki pembohong'. Apa yang bisa saya simpulkan dari ucapannya? Yang jelas, ucapannya bermasalah. Kawan saya itu sendiri adalah lelaki. Kalau ucapannya benar, berarti dia pembohong juga. Kalau dia pembohong, ucapannya berarti bohongan. Kalau ucapannya bohongan, berarti perkataannya semua lelaki pembohong adalah bohong. Dari ucapan seorang lelaki "Semua lelaki bohong", kita otomatis bisa menarik kesimpulan bahwa ada lelaki yang tidak pembohong....[s]aya teringat sebuah permasalahan kalam kuno. Kalau Tuhan maha kuasa dan bisa melakukan dan membikin apa saja, bisakah Dia menciptakan batu yang amat berat yang kalau ditimpakan tak bisa dipikul Tuhan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang menulis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengen mati deh gue rasanya. Gue gak kuat kalo lama-lama kayak gini terus. Gue ngerasa di dunia ini gak ada lagi yang bisa ngertiin gue... Ada racun murah gak yah? Eh, mending pistol aja deh. Ada yang jual bekas gak yah? Bonus satu peluru gituh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Mei 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2339903758644636545?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2339903758644636545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2339903758644636545' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2339903758644636545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2339903758644636545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/05/seseorang-menulis.html' title='Seseorang Menulis'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5922632548952797004</id><published>2007-05-17T09:14:00.000+03:00</published><updated>2007-05-17T09:19:18.710+03:00</updated><title type='text'>Prime</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;sup style="font-weight: bold;"&gt;132049&lt;/sup&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;−1 &lt;/span&gt;=&lt;/p&gt; 5127402762693207238127857636203402218800465862270699268312403841858231274305620361077749499092908732&lt;br /&gt;1255570932004515961858054915337915698134599340043014034209638765030513959311020153149235398042745823&lt;br /&gt;9674399280795047471922595649354975511373108425586819779691843458193759823771944969383075829555852798&lt;br /&gt;8434483984402926845375042397676916772484150646410917772519028191260065794740179769324698367726983862&lt;br /&gt;1511897039598424889000612720760244591123408781095464573464915541439258426851459490230675515467717759&lt;br /&gt;5479326043275294548180609880292900090742744504295665244001768682173964234228393783404284429130909934&lt;br /&gt;7969102747457019190141964862487369125287232304120180671718300574342513576699411857774313395067287653&lt;br /&gt;0748505883249371034082824131952564383837872072789637642175859892976521303760430037437537388557450909&lt;br /&gt;9246481454599605064319358131340473550548458943072309379882335985627252266833638525995267775655285655&lt;br /&gt;1289009892928585351817997597030498514888896397853351107117298797441034194477559304372109097290724770&lt;br /&gt;9475304159516529712389023178159170386806037676796210509511437806659337836920449665650735287852670308&lt;br /&gt;9545090220941654908751575549709553931290430952265766257337991023733366784907984922042384076288497373&lt;br /&gt;9500200127298974934830066840393158838988914961956695510930546945980827951096112962664643335992487280&lt;br /&gt;5601349008866797641811905845275355963099931033440292824253646399531566635446821074548049312562389555&lt;br /&gt;3311349601881685418219554333053108090632344507831625096734893963851836439776915425665985617348000388&lt;br /&gt;3657206670525805339385205102031809817585314840602972682019418846238655285164004752145812574629347496&lt;br /&gt;1471878602558363995477125722717636522259007245477824846352895474264518057593855992669738897957342322&lt;br /&gt;9047922033211589160976815628834245793590912091400732390919643838179432645676829349050764518804913985&lt;br /&gt;6490695855921347239667106058599730403070475897761777384876428450587345819993007719724539699098055541&lt;br /&gt;6797298736555045767090099056032590309206279589930422663974240515977833600503348969227271412714786990&lt;br /&gt;4508215222802717638724225892679553679746808513452862510697609534519157791347637102841064674203767405&lt;br /&gt;1628455878000216377265397452084015240867090868867221753597264076182115949014522094557935332115678514&lt;br /&gt;0998179703290916885262347193854665594946533735378990033231661071494788771170063927429323145592900848&lt;br /&gt;3577709466760602978045893403638697603927478126855584499551261496443993292494031284833364584488779751&lt;br /&gt;6295800024064774185402159078978805168601770447303316431713617130234794350541866792806893003400689202&lt;br /&gt;9631764702633520230620897308765270432304630148791445219526612177036777994411876576629733847379664025&lt;br /&gt;8103874796104599569569105234854376664049937226144544259716060625905396606873251115100517429793107247&lt;br /&gt;6442070654725728997312468606997496262806957417754746116751611888607847520118238695988605632005765040&lt;br /&gt;1164524830037382221088831826454009277483759918513164800413781397975014302259109177782837390886103314&lt;br /&gt;8152700715517181053385635004661051904375976373528760831772075829204364783609033658069016057030546867&lt;br /&gt;3327908088769346820644202222370805567789924652533710283013623161521566452434952081959455776793645596&lt;br /&gt;4334491912418757798045688881341303840527370385814820232459577271027742697902684836233978498773076655&lt;br /&gt;6636007764242468643152136233153553862523614720701047772645271460857663921692951366840845262560770635&lt;br /&gt;3883532950870370035801874995812813451432008448947266393601762979801361580687909591815579389477766834&lt;br /&gt;7532519402875578010665517226779799631484124669369422808732775957196907713252148567888114240357934339&lt;br /&gt;6339899333103111944138388295538939015165747639719383631447125840940466784960470829082327604421196811&lt;br /&gt;0911567811341262080360778790865947551395744817070583824061150098445032835197917407298691261013378898&lt;br /&gt;6535793215220786403680480709845010867943950423307823903967518454715250309200574161685782364204866224&lt;br /&gt;2637876758688388389348943381301135345557310122112838440654574139403358109443763176941213029466172410&lt;br /&gt;6175181125398050027695112993430023630323675490992939496504744805578635472179788333768200664819607284&lt;br /&gt;3409173227555318697092300208281925385630167223639535687150310248073269981421814731357981166191253086&lt;br /&gt;7291253025668319905148059685561912264425168681223252113340261966922258566846590691113683257251456200&lt;br /&gt;9274392880973584373798361547406479432084329403349301000394827230213855184882751071528067261670154680&lt;br /&gt;0720537888152827474105747374537036375636305704351176281959785738594417390213146396091945706174683809&lt;br /&gt;6431298489805101580853124952017398145187916499941474367574980423477472961172341905264939370358790824&lt;br /&gt;8649035483760388377673954593219972520460512648135037493641716623026507566948568177612501099277675842&lt;br /&gt;0197733330908949238291001100763098679691510810525889826079518654712133131832450605970022726931102457&lt;br /&gt;8596552757201621758818218061154240758756781573115426593383250723188409957759149014505857436343085513&lt;br /&gt;2369561744047149760935326046633080596172554087268798000846691309970043155701905733040446549921630716&lt;br /&gt;5577148578514352957382447397111792222592272487951004881265947392218356037496003149346333440763530282&lt;br /&gt;8757858602459883912682206971310175059847467081275869329265916182802616695034674881514346333470454217&lt;br /&gt;6784521435388672817578619278494672228806465126368945625182069538753150748681827976974516834491919682&lt;br /&gt;4474995954793764738300539314310147251955303450103742652993324891041324102719777801021764408346254460&lt;br /&gt;1286666534719448501449819221390671246157155846185621554409424331577855251200214095067082524142648559&lt;br /&gt;9659881554353612591403867412422460776539555531219070870630305526323467724773070119652811134935638289&lt;br /&gt;7462927982293788568883631349409267081148806195991163945788190440205324689815218191760252070147491618&lt;br /&gt;3828832314949025852387517524828015169975022146702440791172997049722173410904385851196554901887794319&lt;br /&gt;8319459589401737280330407518862630051588881613569562108842459004760199605403801598397565491823651148&lt;br /&gt;3269014005206610661942410359825183450690967936189812824575584274974829570086750107201837744374357850&lt;br /&gt;1757570049273662620461241920670650771096163564217020527455047359751183667592542038136830901570993893&lt;br /&gt;5891601621321760036916411311681516123297874975915480198703078663419458804402864305516787820345985693&lt;br /&gt;4289272059416040621749615453716792123088345528261217159323925401073795771543618268184911375295267380&lt;br /&gt;4938390357565185510364232641363012113915548416488824337750016340723304562246697680012427194495031928&lt;br /&gt;5079471209642615721698927302762004348567984609484332582529312222882172855754718970819602949196772520&lt;br /&gt;2144630945959003546499554097891753177921732699678900291422712054944493452178736712822956125877293051&lt;br /&gt;0399997992974348157936907062251582711022704331161862793704748923701508273401646614312308874237478017&lt;br /&gt;8674664214517749524379311269583238249276515231135759218285766054677815440082858362452031356522322619&lt;br /&gt;4649719087517413999205174853559311542767604530826514399383245576596787598613254998041907226149436944&lt;br /&gt;0718600700155384567612168190071855150015938591639484710520905063576672822902671715968653660591184364&lt;br /&gt;9165365766883524827564881177864241764581029132488129076507527512109503449158438453841719282138558162&lt;br /&gt;5212993279138627815619565457912467530341278619419341672498869265954453274501313225177137701794904443&lt;br /&gt;0991794917425763599027261893744959578381869309546641762568516106443532699939110601589951123503720733&lt;br /&gt;8465950393219711649816456256986656953206680202126257859098323891799580888242623952863477848461113235&lt;br /&gt;2889216594453194447465393721747142665519260110867849630867278866000491415661779608513885427911841570&lt;br /&gt;2743663476581025824516788205758462582694622059841509803100672873105703648279178267666874449863669029&lt;br /&gt;4917146323352239119119476127803088758287801924080759106903028128733032620998436991415227372083907001&lt;br /&gt;1403866251447764733346165374978116273513171617667541527556291835789659140576127788986163332536800769&lt;br /&gt;8972313296309626784361966584073810089181850449761308748056368969669632533883625775284876905955689515&lt;br /&gt;5023387467272471217438559297270422443240859193295885964922612907992528516329523860022414077126468190&lt;br /&gt;3501156757042629967129245557385060870656545383341870942651975912372638398771250453163526832840568780&lt;br /&gt;3145895184936271305086441633489719931521113185740898006988868166077768153814646485367230731815746733&lt;br /&gt;5972918696262359877612191264299497306856928716507175880622392842467165074998385165181483505794499544&lt;br /&gt;8139063473432049429242891372561845148800182730664327262775771802607468007792699388819103073238206039&lt;br /&gt;2938047952942187601504947669132098669969594211589756848320824479197951990124037500059119501676501712&lt;br /&gt;6144548505799030998701713970033915814767773118132358804291265033958409755369127853957231962590141743&lt;br /&gt;4615695367797496342356397983536195724502588477594596948469059944775251563392732469133467599567449901&lt;br /&gt;1149633498180590523080204100471592742734464793692775587649329012416707816450534556476634855812946260&lt;br /&gt;9116510782224937228880155892729769415562471445769931140855391511378624368263540127686675911547708352&lt;br /&gt;1098181756440390113697495658583728123006898540482470488051690515273180822764795967628875557750882565&lt;br /&gt;7011817970533103176174733496961595037736679831106106901561131879211865148063226939479627499260144552&lt;br /&gt;9601919756015744946861111012022886714161161147773931868702869884490852860743828823027319235368138865&lt;br /&gt;9923432662887902463720103128739174337189979575130439061636043614650606343864747485375824007305301597&lt;br /&gt;2294093982604819160542927012433698127577033813897357761659397162183358236031798014429866553311595714&lt;br /&gt;1788600721470250658181066937770192408683344698511389924513540955385986068357670703852792679139167249&lt;br /&gt;3045836807966434163586004405200722808630380815921545442707470377154988511684756075606111389639668889&lt;br /&gt;8365628444917123332663121637740066080612054038644424463832305737617160163797189964965972109399936839&lt;br /&gt;0685082260546366837300067443401507588760007711224203876302325977304818038603718630000255840302557459&lt;br /&gt;4951790755493635828403549877906433285027143681044352590860327846332199819507142883652757951693444424&lt;br /&gt;1798695357144508466725764577990342068695003523637363599779724178443364175239391413734195339275977143&lt;br /&gt;5249910732345729142592917959066205535292598448687723249119889046284453689168476265364011033941647276&lt;br /&gt;9719208393645925801343738884215033907065411318543364588687155734631684689467081157459482728130552990&lt;br /&gt;2659267559273143968012115395733700800764796835899807482538488574867195901998349473804977980737797705&lt;br /&gt;1152964806091449794192972501083985674996443156468519126946644957077909219434127902644367394435341912&lt;br /&gt;8287196687522551669858525535073680744811994190676237673695912128734735942022320441561743314730809679&lt;br /&gt;4159480647255370755501233111374521270958976395536191912288201130468667691065545737986899997158919121&lt;br /&gt;6488216541751852793814911404750535949300187484925837437651804785616959019881309984056548806270456116&lt;br /&gt;4533704052194353725475959426013651464415805380578554316201254474861247800998942306524482793967825652&lt;br /&gt;3873930170712185093098380007962867835129930178770445661154153732134394753710610135119319593634360293&lt;br /&gt;0122992360748087753981993233084344411733223639183219773778074034559366785608989524181683442408953819&lt;br /&gt;3245209069406373868584031980207016628896810768749753087190041491661092237193685256195295102611108075&lt;br /&gt;1630729719017584596211055563005298530265146251165672984922350414865049070685671163507488833570158947&lt;br /&gt;8377973269819398739998660727569675811617042408102778253624533207908630722333533136304860833953319141&lt;br /&gt;1875210240465337859927137757246852024012710737080885567141218001832453522922416597383926643074955459&lt;br /&gt;9777299542165804128832120009355237582414171773188434363699760171744001720137742920913021421726918159&lt;br /&gt;1888763203788884971870727424396746714711131361876200606993333760112725521182626737279646463631025145&lt;br /&gt;5462551894650914423579764938370023619569192558344522427033056967684561873044487900076176138445788496&lt;br /&gt;6361687147513185020459057709102733597769687526384489699734094220828117144008494298747005107082056969&lt;br /&gt;7809935528409206580581607716209090646554078181617114977629081540094839829501444013894578773866686079&lt;br /&gt;5973833701929853367617296087338786312385936353684174173748812635535688893053078881895724885253371417&lt;br /&gt;6218671951557446122683867714710808349166041382705275505058610608911693816006947766772315519937392530&lt;br /&gt;2340373549874172842390854711784841049290196888419132584703452626866057692381247929148657227857819802&lt;br /&gt;3195387306336074545356852887054429806447718465846745109011244207069040892763431029167399501328883302&lt;br /&gt;0949122073388950420566883052391942097661549074759415032756103211097792358555794729734533077327753118&lt;br /&gt;4439891775723764406464342485914416226166364694249554479287406623303522282581319216588937074375846411&lt;br /&gt;9669055138600371533233227689294840500855249144840996630723961444662785343498461225248399449316076236&lt;br /&gt;0792890886791993101189383800036503667458550515779729341652763975841513126387402687822183767421782359&lt;br /&gt;7295757639756335103814510257672715794434384633052687849789385892570677414345734175030422842519440702&lt;br /&gt;5057603077421904222756273472385434609002168796369969895564283601181119980854311237744528541943950284&lt;br /&gt;4534859478900701576439260815441217338656167141707742539283727463089645481718774828504838957431073008&lt;br /&gt;9929036737448134777095875585574516422081878258837443867710221930271840446455849884515717983251647725&lt;br /&gt;8769696369127348504434351643460550339175168796318812710656209612647414048220950263626673326821858753&lt;br /&gt;6459812521361676495367610112768116428806213342030958578999521918624147079742339163421370183010868223&lt;br /&gt;7186526491146808990228632983011212126242739170016294559949113413729541382740831559822863555356273751&lt;br /&gt;0980386336800131286608718538201893423660245532483144511606778182030273345492912352165668475937354071&lt;br /&gt;4168188807549663417111754107526439066615417191518376810230956808571546603156176055919316918384777068&lt;br /&gt;0748160024719617594042164298308850480956705556130577080764636389115122851488596840790111460370614861&lt;br /&gt;1064918567316879571730566371213079231373948127144679706567853031994803691062906850759644529232383173&lt;br /&gt;5579193299321216948006172597807023611533524026426661944260834876172913996622819794762141245812181826&lt;br /&gt;1366535187484801871758603078959673472550852239251049417056007219534821681352241405278386673200132642&lt;br /&gt;7699546048247533755253321710118272290274852914047805786052040917105424697765156195004789497818260133&lt;br /&gt;7184211688190895439188097780826689827143717122279940541122021512400619398113446542438638851447913957&lt;br /&gt;7993094752553950490748505910554576569031891925771090501147497594818927053935402002458054741587143409&lt;br /&gt;2607269659604976422179186897144501840250858943955640676919972097737987358341305472708801772851212161&lt;br /&gt;3184131409497141079131573036876653954929786701814588908647247041884380206591015943647829620894412002&lt;br /&gt;4165178018299849011692869626363429989884067672619117200954976010545718563777178411908517397923976244&lt;br /&gt;9231441004032195994377041174404637341092810984489124753407203407650849319511469718561317340356857531&lt;br /&gt;1210698320264880074682133864229859735157316834194433204936721095757679729223025042278825229759313053&lt;br /&gt;5812079513511857793706745510711688963473953815018563233128202280984168557302045451514098025859347390&lt;br /&gt;4390760589183758929507033526872366432450812824709385639037880517532202146210177611545342194779432827&lt;br /&gt;7170816438336394215044581446081527301885922404943477846383556452561473137915693526453405239910738974&lt;br /&gt;8317220917723962187042585637902676099779681343315586041988654576797590005713777635747705766048956047&lt;br /&gt;1678642102443656111225298301872772580681038249136663859011989166111736622516459598049952190508452280&lt;br /&gt;7155267307843953749065075568497283304567619367255821006677447613185189139364819050113977653153681051&lt;br /&gt;5005442074916415468874055835769896673562682217599658026991924624441652350908785301948627693734467992&lt;br /&gt;7781378878444182596281992438147207992683057739866885806783787883968405066371257234428345628089139214&lt;br /&gt;6883467219455058148047086697680276967091783389142066635598954929327444592228298096675794614345399624&lt;br /&gt;5344251567096725883299323244172602737239870789343028278268708575986883090609998824653415906820291573&lt;br /&gt;3889537543757590879226879486066077555818538295853117025358209878489007596397724760785142127081177809&lt;br /&gt;0864074439705758090768398954162056219655187590236871745313378232959671377921137155641241661055565078&lt;br /&gt;5062634085118672208488655147743406157729923150158390249202696746329681647740899734646173725445978270&lt;br /&gt;4034301771196972660245400749861114565982385721704959740768899438096239711129604935133443902021816479&lt;br /&gt;9629898531708656468757988277178545294817032337846855545497322950030142982702697866801478630997056002&lt;br /&gt;5780805972658866028473107898264331484367737684871316172119935309665901532295565911998796748977682150&lt;br /&gt;9229658233781005672232891187857650418158582351283428247304510053700408215531346102591430344665313704&lt;br /&gt;7922907578919722511469971039973536989080381648464109530020905393718025144451046608502647392841334914&lt;br /&gt;0845751190224484462062291833120232242119827413671527908234705284888232043409394504783728124551995427&lt;br /&gt;4113822523983446384041613879022901796401952594938204274399304369492329279134128960775302298850377452&lt;br /&gt;9452147635803833418260412699865861441599279722439065153198269472130291184175438065212129004198118219&lt;br /&gt;0641805621797038759903157777354250158550478140622451354393422822228576476061565487646550051732231043&lt;br /&gt;6012173179764671813573122275409683931875614512530547894317441097343884470743779976283914425897124728&lt;br /&gt;4228249659985555959405313145571678439188995823592455212430052389860796931774554563116043135376641716&lt;br /&gt;4227418766893320532256866734917630326252918291838905455016191584020146682530755163011902032819311309&lt;br /&gt;9600958042468735104245842640963946993066700880132990765485387999730321459991368407827370116476572008&lt;br /&gt;8829279258327539364450775679446551099853832070278795086574570443555758173218006635867658733600108830&lt;br /&gt;8072635841068793487992957731712602027373353956185468182032224148187974219776973615768075194975248907&lt;br /&gt;2152603421476126997396403939354361905569691208781583572078951008536139871101336844598994864356235037&lt;br /&gt;4538779986629921110249802863914824643222599264740579333508242370925686187694161077531767513360115084&lt;br /&gt;6659691926749923242738391469711159116336381915434424593014185114830017352541943311618935141791223901&lt;br /&gt;4222594278388159075394324776146923810229442873064811767146205590099878302212599306247116728480032548&lt;br /&gt;5988871075840607996271917859772838582928732845010535894245447132649685817150876095903721363373192620&lt;br /&gt;0466920495722994212284028000190751610599489876728366432841413993713650041386286765432469503718837950&lt;br /&gt;9515716188826357700071551603134248499522869629523029046130855076816992821393594447059429955930197943&lt;br /&gt;0957550896079514733706135905056554186510179307303814487401276589597400408167057188009726708649006693&lt;br /&gt;2356937441408800921761738915793270737169601644359173050007391399659705319944823320155135839490332700&lt;br /&gt;2215477107385760217257001315970072111179155491734350843660299391877231409563983800804277988987973529&lt;br /&gt;4638643078720402799474439740281160477545111861147491026971305190808416766977594498601182268021829195&lt;br /&gt;1261995876080342404819648137906879686707610972347150947814892260373597006195059478367088616245054986&lt;br /&gt;5449690602835626918367979993318425012334302920581585668393525748145186241038687138104397501154674932&lt;br /&gt;3022861212857579630785694698782251033829927177542211247145941649634082438009140657234735812767088362&lt;br /&gt;6316161870987168837437685071525250057715566983806993021021849909356128273394072107305646500011543871&lt;br /&gt;5153885891851882741604229523037937321834819701541089975992877602434594654919062272048936574371310357&lt;br /&gt;3414949514522121632867757513219433344650634566717663121559762097483469563704174320515554873358810079&lt;br /&gt;3788247206562741596735771079053326488979348054445699333806531340854298532422890121033686305427486377&lt;br /&gt;2484249689958831233095831504476128256419365141364889087786627666658241626142851038517727576961176399&lt;br /&gt;4450184705073991619021432862184019023824604950871685367237572275753976818485156558034910588192802322&lt;br /&gt;1584608563306808385742748297643746416576917013326835257160065833397054130274017870411302466098844864&lt;br /&gt;0938356452525850268071534559395000563767978622318356124187918832573368826765443769916988921300542807&lt;br /&gt;4774276405261352572717159225611427721695041623008274261371266634059784045313953636814968985091083006&lt;br /&gt;9213431355758086557065006361770564081111164406953318424427410344140141460372152570305387961548218181&lt;br /&gt;0716523651920243891785442833372906440901102837171898091413060596912543289928648016601807501170659057&lt;br /&gt;2319983952771519324084697782354400007535136844991145736948636580658504142180966230772733335294327012&lt;br /&gt;7454014650325140746827456414064952153607161802846013128422257793801728856210698051081608034556943203&lt;br /&gt;0478810691090531663848297405834549653390807598551706853468564804589870885974716362718040610656789219&lt;br /&gt;8659554841399165198394647932635855130799484626111605690620707692178983379364108576993806699209713866&lt;br /&gt;0245522369376362224530810707486604715910514835913440555702891614082341854686142785069296533109321661&lt;br /&gt;2255837243678221161673558829814123803582322033440011981786749601932271947558577981046062639835901331&lt;br /&gt;0234732001599372930816991883102166917747401721092254980928689916771899019702876435513070916879529280&lt;br /&gt;7275154892799928244718867246314359846113067759657209021825749265213618474869485027239088496489779227&lt;br /&gt;9670475512067574234738837083987953226898886475000080700757733970181232049762576297454381331404351898&lt;br /&gt;6399523890034816501021945740611169359387716031434034250329195031480395338390093376680511712387084956&lt;br /&gt;3197973607706904863219606125289675353238108885970756071955719063645320389823277627450941118299149736&lt;br /&gt;1380577894388016158738132195802940616437542057013742284224934367240196023759865408460296268076016506&lt;br /&gt;9701473207528150273374949282918912658099195096892082944642977655493821643544366744612230357238083400&lt;br /&gt;8875806340387258562089875690132134331844910322908793759539285036832837329602020159758375540313165102&lt;br /&gt;6217928571848620985662696226482359744943888999551327155065480504065145638609483867306606737329171954&lt;br /&gt;4412294693866612645198144267650946860003533583010685461593420638125896432654663299267043883669231164&lt;br /&gt;5980886579939856286384418158270062548942913120553573604058011673221575559744067473786602038850956613&lt;br /&gt;0232135080107121575773609489730186046884506189916632394378179652949940486080426942409871490068346009&lt;br /&gt;7187672764286321769301415167554480925810436552545376357009454991004152504438193099885100434727142692&lt;br /&gt;2795095018746532529426694858747324226586896367368454510276829527700894763084602086670507305016587563&lt;br /&gt;2106471566836422167637497252148556169262177553547297226289212112273564886924471471141186833381229053&lt;br /&gt;2724200773794788630796892218831092610007355338936288721113694098514890717563964853526860190690443644&lt;br /&gt;0829058007283841598871951769800017561623140578817319387968271309600971313614204008888997905484661557&lt;br /&gt;9683887741623373591208906825825511968820826096826495608620417436763471624808196276161487376593969280&lt;br /&gt;5453980057079532436037312669705907984768196370914017939971509394198129732054418170200060465683176809&lt;br /&gt;4383342026265342355112248052813792877679448920633195607207963302654961442325652308384793884759082143&lt;br /&gt;2511676532016462466436371438623128284006666819792138480059652925899067930987838835511130588423011405&lt;br /&gt;8595800232020421792277839189120708062623396210689394635858516811767531728938093412634950461530845247&lt;br /&gt;5980002444815584766117088314522552264788917355046642446034005982911164852865260130758721567195663065&lt;br /&gt;0618928619988402804520359675383285145471984626426471074641854699817039407732785552909660313049453201&lt;br /&gt;1649016618852674122175581970081566833135764635865334239137556752595565967631971796368733564129062010&lt;br /&gt;4348571872207365407845623105045972052990918978887058535838041196115104315915915195706888527789998582&lt;br /&gt;8716007907426616563980567124096241690479605069886533843309244777551978565647965558006318248296847519&lt;br /&gt;3720597548174420171521907295487640358045928854384083612109334603395047473960326889959146036035897855&lt;br /&gt;5598527025766909458633822943206403572439684659265234327367979568792867116515445746634935861794700811&lt;br /&gt;6933935392194272337752250020412037289540530663893355105244806435113563657797138612632810349832064927&lt;br /&gt;6593984095638784638482860638240096198577265705752841963749453512450162949222065737418107154852875262&lt;br /&gt;3113826029232854341389273772333319324917938530732756647048463899619461947350750615334425264414973770&lt;br /&gt;7267456602967891575989908952182450789051442096081582940831530202698734782892433782700165063231893550&lt;br /&gt;9935216572625512021096745809869228167668084566725940353997585766639258755658054063394364505274280296&lt;br /&gt;4773043400364057874697235587183178682571096440248304986510725580349657520465293619901953866394544015&lt;br /&gt;8858602830675671338778409812257862044033201963859038952779670948075535130057471331252960612021148111&lt;br /&gt;8202180269270812314555156561403704848886390736815579136068622840691567391915212643125189172855060342&lt;br /&gt;0418822621002802382001181068136211287973016133579100374511377754112183979439460117010625462731791365&lt;br /&gt;7106087072333644095588782585595602719892747592456670189664447998439334118383592718962653248817051070&lt;br /&gt;2267319310024675672950210737821967157339600671729032724896184413435899267794647140126041375148031038&lt;br /&gt;1424925275214567958294630811315585631585510012730450881793826682820765394336932233653373828686133168&lt;br /&gt;2147590084637870365149591981086009472798060343416107535076748026707257906417165374402518218731981692&lt;br /&gt;8189608892652602874274994050564577077375336287395692981008273221835454420080545810203302104691428169&lt;br /&gt;0642704923706092723028966609631506023252375439255456288252117541321471507562876105154285080355527148&lt;br /&gt;2894521309555251581644240820281017906937967293018301438041486264608265614947180593310730431816932310&lt;br /&gt;3361004485567433035580502605272505592087472714806033862306974129394329825699050322068677173836691280&lt;br /&gt;6459427212127384664995994019293953930788786178545674814809294962848711978633164198912777299190547831&lt;br /&gt;4689512765797040664089509154008248426978901756049920633379941074589201440805573049903792193919184865&lt;br /&gt;9752999770793385054613818056838408020068455635699356023566881763858366602475938480269527705003632043&lt;br /&gt;1673107398871251171577396682141242768269823140256115508880691498163457084801604098724265897940276501&lt;br /&gt;2244361060299034023127081876760293230222398240250928176645869069264859808518568985181295814047089397&lt;br /&gt;3517873263389473262461187907290697453980164930004495510750809818190004514914231135243979824427693154&lt;br /&gt;4059064333985786237067602587927333115887774081435129867915326819023230458906075384635596318973567605&lt;br /&gt;4631501900792738432896841188585560371125469727582393758138497391494214611184916879716536330519306693&lt;br /&gt;6277100078398716605862315905242344184973206202398684439160071382034803559082019087066974958711800551&lt;br /&gt;4010633050224555292880722764224389633339168109749548065272413153392133516012504126961520487664067372&lt;br /&gt;5315327669144325021418964635953459915179322589058095920442629806761245177476808252187075952886246671&lt;br /&gt;1450670501755325261395459442275006325866527239901078093058174273118023030345714613284615704917470933&lt;br /&gt;8950532721507730383905854210117538711849328951748295866047496785983411644185352883548074539342728948&lt;br /&gt;1536203214613286076657476780588130114337115822093689812307944342200742686076621171741683390179362786&lt;br /&gt;9557056077220242082027093907915947462794035029691474124802827220157183469576295963277206742474569624&lt;br /&gt;2592018843404897154782747460396763999200173057476972239971745935224807536090656350156484146190760102&lt;br /&gt;3006699614657207762620967331264047942346295558406977560955320190760739845995697238662662169855192620&lt;br /&gt;3985755053698168933777776313943449207373993321959493112387314535743628660556999702567793326674815517&lt;br /&gt;7527498611247861224791236201541466423658853840170229304252551041261898915687504234943082125689802109&lt;br /&gt;2980984223386374507073082462385475754089937059523453895116962815588295750985843349140612068711033006&lt;br /&gt;2082474148299686381747152308844152845611808371807228497299258063380577958371889467534146182808344209&lt;br /&gt;9384570882012994900700651994240722296022097485865075021157872052697914727351829909629830573732117236&lt;br /&gt;3539340936009191992123630004542027476292262112625135481428963032200552861757963286403906950171002923&lt;br /&gt;7975505363525157474286944963218833437770408906142462173294222811940876439545535169202118146269691286&lt;br /&gt;1155028148673525261822956306039849479255751124086613447907279189108206447370905796098627213778607050&lt;br /&gt;5712844165392102101364793238702875383594897675073044171893490501453606166471341577638762155692349701&lt;br /&gt;9818744279642215227959155154500302547271898968102247283340938813111695257337614033147448580944665849&lt;br /&gt;0429378562397613028703937942296701460133659138796188682641865294137760753206622874122366777428849338&lt;br /&gt;2099151176597760034048894549914937721249769200744270611279208731565257974754313409179460472033826257&lt;br /&gt;1713932335843783408305317861163869245989924784587070311084543064193096870765510753559999277032386831&lt;br /&gt;3026620440463991542402854153124351608973909148655543318773765808990711489993823658747308292435497266&lt;br /&gt;2191203205374907463232941392034011444209155275449611631842000116884619435989428095280104335183916824&lt;br /&gt;9936261100907071907444454688495238670649516626542681007738411957214273701367018168822763165126884791&lt;br /&gt;0110027594360263796302118678944440930868499771944818604720697414184352292875032316817359209496671786&lt;br /&gt;8082978554071254470759031516382570699566302980862677517649554830383080441662757011700367357685725677&lt;br /&gt;1920796477283422454504497235089464815588783844841933173119043435173363623417211694642313698899364841&lt;br /&gt;7944578030831938948721343313037054126564900675363079731943532033245942181203960853408284809092630520&lt;br /&gt;7407243216077758877130014230268517055004581693653696428451776244878692889520017649110050057375110514&lt;br /&gt;3324193840466716921412275102232795124642298508179028432771605989190790951237965762279962681657402140&lt;br /&gt;1348002754244981900237598506469991269354345293308346312779442404732961037135236870771883563613556254&lt;br /&gt;2999053289104714595521983636366542350080668877053511195682268021908537590766665060796453850115731866&lt;br /&gt;3303760694185415793926243780497088480268378419080836088647918634837938989215540061065996984457288887&lt;br /&gt;2567174753444363634040846731032989752557217103548883830302135942112865570067881183348927808678548700&lt;br /&gt;6010540867492522148837958639398992094727025338685448570147056748939328433714688847256288346637264286&lt;br /&gt;5778953580978518459393086704983766756442777250508982774902970010709535410064641624992358856783029052&lt;br /&gt;5927570180838506647803987770721553148449073730463152546276823936042880473369459153311368107791787656&lt;br /&gt;5800396665664521862118984250115413576632769575809074643286673387296080429560618136505056229126054612&lt;br /&gt;3962975625966244195191927923327467017121698452434460139693728916031899776327496230081996803350410739&lt;br /&gt;6205800553462116146510176250416826699377058115710350859415885623245034611000287783849758178421476442&lt;br /&gt;1158170609634156067225810892598313154312640498063463397439653291110932905136215607433542858616169159&lt;br /&gt;7285629840058650813022928883884272395672715040460351991596733484201266331264641720958693120754414304&lt;br /&gt;0017803650054775188772591843326008849159574965753461182557783116266448136033469890564045961721824740&lt;br /&gt;3814185470027295883607281042450344006959764579244084000011582193545274645215272067641331960374414039&lt;br /&gt;2127883262460146111226712530915993177623457297948211433898581956457442930538145329016798888575092048&lt;br /&gt;4971056850434139692244745590821544515378070148835486352052114656125596770851717365127822318261668377&lt;br /&gt;1804260307791711500839721181793801309944616358074636689563859290070881663293106843888142782259674785&lt;br /&gt;4030653712380985950079639113021532796089089155816837166471354755835006455278979687456469514492057899&lt;br /&gt;5493137502980473909467243887442611132247938853686048160727977690671132917286824877746713309966009823&lt;br /&gt;8912461634248092238454248417639233555245211919282784296083702134079807296371771783696018521861398852&lt;br /&gt;3521741205916602659619048603392587831777159347259065082230321341477287017770598450910222097334983400&lt;br /&gt;1384426686135009682324917071975642465820709473526917956595982554553267108280096299628956996192108146&lt;br /&gt;2727594005056469290007439220434903557789487262895612058399635808477364890908508877428284900750426615&lt;br /&gt;6530518010416356497662876987355138538588494337999151959269096104718322549304211014386456078048977890&lt;br /&gt;7145299804692105384034373548858828997143565504902290729247935832983124432348474935174954809372486748&lt;br /&gt;0249912881493148869154391846784357168106210122239624654710622017356668036373398446181030729648138984&lt;br /&gt;0297136805892149030943961246411915893516791929876115589901891099241290419876934481826283455581688281&lt;br /&gt;5428623158360993283676237940137510498386097144443575894880325984989602490300949101722286684277176448&lt;br /&gt;6552189628911014633814732699316881553277507714850189703335229972548965708829279436689298631408195411&lt;br /&gt;1863459213704816180287135520098283504778066303812201606359304113208919712228322618312823825536950907&lt;br /&gt;9847301190466459977277767468958394211977507761670595850176987682312331993944042601921304285845068244&lt;br /&gt;4364745820898639742006398522565109857193517647678342422512783172157385815172933952901180784695038479&lt;br /&gt;5223315305451829810919057452143788917191338113808383204732594782146120875625110482428854914853666325&lt;br /&gt;4924807884600027250768514005435284372096831678814734633674405473643965922899495093564671966549590084&lt;br /&gt;4915200394329279400908507246067221658544789059743760643410427403540954858335350704677278236973458459&lt;br /&gt;8418251640367739473623073012019800642434079137471389797370531824570392164882284324655122250360257584&lt;br /&gt;6803140959991599795013789395136968803402791902190836957722371516235298116828993351588249181636895617&lt;br /&gt;2204164083290898871220966515283950770247495872100451404738230851953929198718588903086288624738565170&lt;br /&gt;1171007710383162857186250184340585307805002200179841366054194090602281090861998196296922013181753853&lt;br /&gt;8459364450349651870362815323380487973898860505277007077382111101654026745715544225102755466782354183&lt;br /&gt;8231055703393347067016627440854872616999634349055176614382881856206421521556048919269689815947021799&lt;br /&gt;0197113027766838397227932956569554555545989435108034157139515296868410413647899760140598071282910709&lt;br /&gt;8261108846711871289678973244215239378360360028811120390740423415502625054676577416789626349787778079&lt;br /&gt;2526598247404215762113858624624778280422920502039456987599397207885795492860462585643249600197635809&lt;br /&gt;4974159955030699569456430423981547598656244069186337200822259149939420439029228818808513755864401144&lt;br /&gt;6684322904395924941761938457580849532062256847940999756296742957456574275604145061028094367704701905&lt;br /&gt;7397199042961039252679957643978346420659094503093209157677286944632178338093696791301039799178415329&lt;br /&gt;2125615352752243073959398702298197134253333763587770983331730264996240021983390400985319470085890432&lt;br /&gt;6776981262392457790375314420107703969973421417494974835547745568592013609976739162581150136125684678&lt;br /&gt;6558510232147395051438437567709550359686839758030204352782246950793398236233928244598916788317694972&lt;br /&gt;3771057204118204669747691004167909848008567446234294039130072814759713245226645606676163543063932150&lt;br /&gt;3494491981573236310143698881878873442212652748447779883255777153233432496542717898806391507602669569&lt;br /&gt;6875200542310630230830676110306479541130745443077779362005279744843743921408927574796842100109122114&lt;br /&gt;7357583516814883030188169725452302914853610951678206476950292266179839323855510568340044129458375458&lt;br /&gt;9214652103528631278730887820902899709668722417608442618722120774728336460428932365025168080511160598&lt;br /&gt;1431811609276370672209346676735530560643666733447206209666918609072625997685392528778408486710198126&lt;br /&gt;0276234325978492215324025065328292268598058421950692506199097568121306836548187172316314528339774026&lt;br /&gt;6776569320880699371703385332158394333940214674039277780519329602571060531363182299350183275999986860&lt;br /&gt;4612430634182122416321609655322513169720608539998058092819947314150750603318275733697739785647016169&lt;br /&gt;9060844694056896688924315153343153917737421620855384896762318951087460392881425950274806744502997950&lt;br /&gt;7017602987428350275471689040129019627696139234813642860348959185773128873428714959905456403820142414&lt;br /&gt;0552222905724236380334854990500853634167658054126079066609482026088003019994108737594597926362751968&lt;br /&gt;0484680659925598228597454257740101087903260688016362170892060288499761020412555965989451256095394804&lt;br /&gt;2869009552030978404650129171356899054263131269851460124836991457415735186296986041194577515702140842&lt;br /&gt;5448334751810602314427730437885615622716366499582429714313417182803319656313634810669748192209402681&lt;br /&gt;8010828516083257787786747280856992845623316206267732122286607638069570130695242712893272002205064394&lt;br /&gt;4425719193413868536412515009048386223072337307412369317793972653087053817074826368595009243324228922&lt;br /&gt;1342827504129597603080586780826719766690916059171085574025331902033431699553832473382873738359678856&lt;br /&gt;4854213437371395957325831474578833099747357667838907789488277200438455694987136384688241565836067447&lt;br /&gt;5897457828012916636334688515255541722870451152586484849928085364587535006790032879468766968546329018&lt;br /&gt;6819886919553828149621919576823850746078378465289028417923169082778547410220931772248040064949741690&lt;br /&gt;5511957627676940660218890733192574523561422334487096985554816428342090261277657452084828524903914572&lt;br /&gt;6717343124064188888210752714869289301000762617566038222560131326368874713825813740793415066256467539&lt;br /&gt;9688255654931759162376200877072956457843407604021576836065692152230477920413521947828482104725997686&lt;br /&gt;9108998846305643532679150877523559843168833266131283317506772129350527309387270720339232695336694376&lt;br /&gt;5627911902812836479905563681158843622677701168470851330464767702823477220972578048975012840729693368&lt;br /&gt;0212209381982121978544679476061649583193372717794702918358708430058317235593578920563910643962755293&lt;br /&gt;9461955903835606087850887969939681921054504307091191908590174860766609452109087657360133408272526489&lt;br /&gt;6082245897735264781248898450913756231649315068990064506351034984308245942019629997091101283106483669&lt;br /&gt;9362109971893840718118668926974815441294842768079837480232698225075005022565586051232315293895651649&lt;br /&gt;5545246099053047943872480165786087459869783418999103170647352972924797848600627960934890530472230324&lt;br /&gt;1864150178128207690735431555841639536570364592068609222085550855804357159395012987321194572782287747&lt;br /&gt;2145583473856340809804510166741133713798123989777437572855303058607274523706305099481030576061366564&lt;br /&gt;8248860333670132801896669428321446999856909605146398292366755311731473421140591784450757211317813198&lt;br /&gt;8478355486497583223190745542628484861307908433324102395544462765576695753382657060109684388168533854&lt;br /&gt;8431235329164939490341555516778338501582365141522542318637549826624444098088294989941826041884069992&lt;br /&gt;7870877730806845159912747316343016190843084494934498223465010463246232593749760299073894274128668607&lt;br /&gt;0820840548053506540171059384312484580917154953005791231115622362084050027871767502291120255511244823&lt;br /&gt;4898739072570344289738393660177422089458645734287599038201457427580128530184940268977720476280295766&lt;br /&gt;1074507474595235461260533073660606830813698902891630278524864450584708733234691771495952397799102696&lt;br /&gt;5389696016649425230489789492762503600391795734146395657570883119168159085594882185103559650094357375&lt;br /&gt;4358956005699127537237267886075845287875995337333205446548741180206995285820907784022721103816195471&lt;br /&gt;0275471248173933538332254337221235425893255791496069588126200528000464899737539374969622841514938618&lt;br /&gt;2687221683383343209925915204993964262910036605937014097444618151977818958898647908946939651817174012&lt;br /&gt;0686669619433881851291624706374042579705028478541352255727949589479111587165625774430702620595230737&lt;br /&gt;4376209665431939964226475253086723462020317048862730541258844302603602606325776986820438429569351034&lt;br /&gt;7027855901781477166577959058790387692172277188231994125770974490388398785326225913964134982043700815&lt;br /&gt;1834542265737118082705099529951463044604466534865414885549150010040690109930703166596908746395039866&lt;br /&gt;7863705390371497694712230842323121202453343241283440812492355089512296946050902300337482666275069949&lt;br /&gt;1224356244524729603078144465758271288304432686017537606032976431307211850708947254130783687660383444&lt;br /&gt;4863977214957820316799774115655566026371919773389960933802560072391913214377602228907681959032170131&lt;br /&gt;3909366285557832285291544118740210343339794843248785539883300940172476541916547282799878632042910294&lt;br /&gt;5424906196584785499513217711273013288607348012368268493279260403717058658594894184249773083050086907&lt;br /&gt;5427501338343253749718544599570712923244154186152477640102890109682185040792330998538965004936957667&lt;br /&gt;8110501603550136324588652431522439404697535674443604615139643318420648424078358570990230617213849139&lt;br /&gt;8542760432741212755677381153053892561883906376602193683236736730822711678956149432532644153240796400&lt;br /&gt;485109329883378631644703566339852138578455730061311&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5922632548952797004?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5922632548952797004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5922632548952797004' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5922632548952797004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5922632548952797004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/05/prime.html' title='Prime'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-523176745362672380</id><published>2007-05-15T15:11:00.000+03:00</published><updated>2007-05-15T15:13:01.771+03:00</updated><title type='text'>Bisikan</title><content type='html'>Seringkali ada tembok penghalang yang memisahkan teori ilmu pengetahuan sosial dengan realitas kehidupan. Dan seringkali tembok itu kasat mata. Tak bisa diraba. Karena, tembok itu tak lain adalah bagian dari diri kita sendiri, yang paling dalam: bisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya-tanya, apakah keadilan dan kepentingan rakyat, misalnya, masuk dalam materi kajian ilmu politik Indonesia. Lalu saya melihat pada diri saya sendiri; saya tahu apa definisi salat. Saya hapal rukun-rukunnya. Saya diluarkepala syarat-syarat sahnya salat. Saya ingat beberapa hal yang membatalkannya. Saya tahu betul apa hukumnya salat bagi seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa lantas semua itu otomatis bikin saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sregep &lt;/span&gt;salat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan. Dan entah dari mana datangnya bisikan itu. (Tentu saja bukan dari bisikanmu dalam tidurku, Jack).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebetulnya teringat orientalisme. Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel tentangnya di Wikipedia. Lalu saya sedang membaca terjemahan bahasa Arab beberapa artikel Orientalisme dari awal abad keduapuluh. Tapi saya akan terlalu gegabah kalau berani menyimpulkan apa-apa dari bacaan yang hanya beberapa itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik saya ambil potongannya saja, yang dari Wikipedia, "Their [Eastern] political and economic systems were generally thought to be feudal "oriental despotisms" and their alleged cultural inertia was considered to be resistant to progress. Many critical theorists regard this form of Orientalism as part of a larger, ideological colonialism justified by the concept of the "white man's burden". The colonial project, then, is not imagined as a process of domination for political and economic gain, it is figured as a selfless endeavor carried out to recuperate the Orientals from their own backwardness and self-mismanagement."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa saya katakan adalah, saya curiga ada bisikan dalam hati para orientalis jaman kolonial, sehingga usaha mereka tak murni untuk ilmu dan rasa haus pengetahuan belaka, tak melulu untuk tujuan mulia yang terkonsep dalam "Beban Kulit Putih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu masa lalu. Tapi itu bagian kecil. Tapi itu hanya "kasus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Mei 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-523176745362672380?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/523176745362672380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=523176745362672380' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/523176745362672380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/523176745362672380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/05/bisikan.html' title='Bisikan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-3086462381859596570</id><published>2007-04-29T19:55:00.000+03:00</published><updated>2007-04-29T20:05:18.553+03:00</updated><title type='text'>Mohon Diri</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Musim t'lah berganti. Semi hilang. Panas datang. Ujian menghadang. Dan tibalah saatnya untuk memohon diri.   &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Istirah sejenak. Memalingkan muka dari lelah untuk kemudian mulai berpikir soal hidup-mati. "Kangennya ditunda habis ujian aja," katamu. O, ada perkenalan dariku untukmu, Jack. Suatu waktu kau perlu membacanya, mungkin sebagai pengantar tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Tadi pagi aku menuliskannya. Aku mulai memikirkan bahan-bahan bacaan. Aku tak mau rugi hidup cuma sekali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Tapi aku harus mohon diri. Bahkan kangen pun harus aku tunda sampai ujian usai. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Tabik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;29 April 2007&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-3086462381859596570?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/3086462381859596570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=3086462381859596570' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3086462381859596570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3086462381859596570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/mohon-diri.html' title='Mohon Diri'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-8654469444962614536</id><published>2007-04-22T19:32:00.000+02:00</published><updated>2007-04-22T19:34:48.405+02:00</updated><title type='text'>Senang</title><content type='html'>Ada dua alasan mengapa hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku. Pertama, duktur Mu'thi Bayyumi mengejek para Syaikhul Azhar dengan memperkenalkan Duktur Musthofa Abdul Raziq sebagai "Salah satu dari sedikit Syaikhul Azhar yang benar-benar bukan hanya sekadar pegawai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berani sombong dengan mengatakan bahwa akulah orang sekelas yang tertawa paling keras. Ada beberapa mahasiswa Mesir yang juga tertawa. Tapi yang lain tetap menoleh padaku dengan pandangan tersipu. Aku yakin Imam Wahyuddin juga senang. Tapi aku tidak melihatnya ikut tertawa. Mungkin karena dia duduk di depanku dan aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya yang kegelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aku senang karena aku bisa bertanya iseng pada Duktur Mu'thi apa beda antara berpikir bebas [tafkir aqli hurr] dengan anarko [tafkir aqli faudhowi]. Aku sempat berdebat sebentar dengan beliau [aku jarang menggunakan kata ganti ketiga ini].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku ketemu Ismail, kawan mahasiswa Mesir yang baik itu, dan pada akhirnya bisa berkata padanya bahwa aku ingin belajar darinya. Kataku, menjawab pertanyaannya, "Aku ingin tahu bagaimana orang Mesir berpikir. Maka pertama-tama aku harus jadi orang Mesir. Aku butuh bantuanmu, kalau begitu, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami janji ketemu besok. Katanya dia akan menunggu di depan kelasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku pulang. Tapi sebelumnya, seperti yang sudah aku duga, aku merasa perlu untuk mampir minum teh di kafe Zebdia [ini tulisan yang benar!].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelas teh panas, Hookah, dan sisipan Al-Araby Ilmy: menyenangkan! Sesekali melihat orang-orang berlalu lalang tanpa bisa mereka lihat: menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir, itulah alasan-alasan mengapa hari ini begitu menyenangkan. Tapi, saat aku berada dalam bus 24 J yang membawaku menuju Sabi', aku bertanya-tanya, apa benar hanya karena itu semua hari ini menjadi begitu menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau aku tadi pagi tidak bertemu denganmu? Bagaimana kalau seharian tidak ada kabar darimu? Apa hari ini akan tetap merupakan hari yang menyenangkan? Kau membayangkan aku yang bertanduk seperti dalam foto dulu. Aku membayangkan kamu yang berjoget gila dengan musik disko di kamarmu yang kaukunci dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya; hari ini hari yang menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-8654469444962614536?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/8654469444962614536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=8654469444962614536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8654469444962614536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8654469444962614536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/senang.html' title='Senang'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-6812077961898303036</id><published>2007-04-15T22:21:00.000+02:00</published><updated>2007-04-15T22:26:10.475+02:00</updated><title type='text'>Invincible</title><content type='html'>Aku tak akan mengaku lelah. Tak mau lagi menyebut kata capek. Apa yang sudah aku kerjakan seharian ini, hingga bisa memberiku pembenaran untuk mengeluh lelah? Cuma bangun agak kesiangan, mandi, salat, berangkat ke kampus, beli buku, ketemu Adon dan mas Aulia, nongkrong di kafe Zabdey, pulang, salat, kencing, menyedu Nescafe, berbaring sebentar, keluar ke sekretariat IKBAL, menunggu, yang ditunggu tak datang, sms-an denganmu [iya, aku mbalasnya pakai nomor Falah], main poker, salat mahrib, makan malam di Pasifik, pulang, baca-baca, nulis. Cuma kayak gitu, masak lelah? Seharusnya tidak perlu mengeluh lelah, walau tulang punggung terasa sedikit nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku merasa perlu untuk mendendangkan lagu ini untukmu, Jack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Follow through&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Make your dreams come true&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Don't give up the fight&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You will be alright&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cause there's no one like you in the universe&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Don't be afraid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What your mind consists&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You should make a stand&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stand up for what you believe&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And tonight&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can truly say&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;During the struggle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;They will pull us down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But please, please&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lets use this chance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To turn things around&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And tonight&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can truly say&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Do it on your own&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;It makes no difference to me&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What you leave behind&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What you choose to be&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And whatever they say&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Your souls unbreakable&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;During the struggle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;They will pull us down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But please, please&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Let use this chance&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To turn things around&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And tonight&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can truly say&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;During the struggle&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;They will pull us down&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Please, please&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Let use this chance&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To turn things around&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And tonight&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can truly say&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Together we're invincible&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenanglah, tenang. Walau tadi aku sudah sempat membisikkan lulabi kesayanganku padamu, tak apa kalau sekarang aku sempurnakan lagi, "Rest in peaceful sleep/ Yang nyenyak/ Seperti bayi/ Mungil/ Imut/ Wangi/ Tenang/ Damai."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-6812077961898303036?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/6812077961898303036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=6812077961898303036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6812077961898303036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6812077961898303036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/invincible.html' title='Invincible'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-8707946254912291017</id><published>2007-04-13T15:57:00.000+02:00</published><updated>2007-04-13T16:07:20.123+02:00</updated><title type='text'>Anak Jaman</title><content type='html'>"Pekik jaman seperti ombak. Tidak akan ada samudra tanpanya, dengan arusnya yang berduyun-duyun dan geloranya yang tanpa henti," kata Syeikh Sabah, pemimpin Kuwait, suatu saat. Lantas aku teringat sosok Pram, yang jelas-jelas "Takkan berhenti jadi anak jamannya. Sampai mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga teringat ayah, yang telah bersedia membiarkan aku menjadi anak jamanku sendiri, tanpa harus jadi terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku teringat pada diriku sendiri: apa yang sudah aku lakukan dan apa yang seharusnya sudah aku lakukan. Kulihat sekeliling kamar: tiga buah pigura yang terpajang di dinding, pakaian-pakaian yang tergantung, jendela yang tertutup, kursi putar yang tertutup jaket dan tas, meja tulis dengan buku, asbak, telpon genggam, dompet dan laptop di atasnya, meja samping ranjang dengan mangkok kosong, cangkir berisi kopi yang tinggal separo, mp3 player dan rokok LM merah di atasnya, ranjang yang tak rapi, selimut yang bergeletakan, komputer yang mati, lemari pakaian yang semrawut, rak buku yang tak tertata dan lantai kayu yang tak mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat diriku lagi: sebuah tubuh coklat kerempeng dengan tulang-tulang menonjol yang tertutup celana sport Reebok dan kaos oblong Slank Lagi Sedih. Jam tangan dan gelang kain bermanik-manik yang melingkari pergelangan tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering aku berkata pada ayah, bahwa "Aku punya dunia sendiri, Bah. Dan aku selalu berusaha untuk yang terbaik. Untuk mewujudkan apa yang ingin aku wujudkan. Cita-citaku mungkin tidak sama dengan cita-cita abah. Seperti cita-cita abah mungkin tidak sama dengan cita-cita kakek. Aku anak jamanku sendiri, sebagaimana abah anak jaman abah sendiri. Semua memiliki waktunya masing-masing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu teringat pesan ayah kepada kawan-kawanku (Mamak, kau masih ingat?), "Jagain Nadhief. Dia anak muda yang tak sabaran. Dan sedikit berlebihan dalam menilai dirinya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pesan ayah kepadaku, "Tunjukkan kalau kamu bisa. Kau tentu ingin abah bangga dengan anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diluar sedang hujan. Udara dingin. Membuat diriku makin mengkerut. Mengecil, dan terus mengecil.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-8707946254912291017?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/8707946254912291017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=8707946254912291017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8707946254912291017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8707946254912291017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/anak-jaman.html' title='Anak Jaman'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4947153793652357464</id><published>2007-04-13T11:28:00.000+02:00</published><updated>2007-04-13T11:30:20.371+02:00</updated><title type='text'>Senator, Presiden dan Mafia</title><content type='html'>Aku pernah membaca naskah skenarionya beberapa tahun yang lalu, saat masih berada di Indonesia. Dan tadi malam, untuk yang kesekian belas kalinya, aku menonton kembali film garapan Mario Puzo dan Coppola yang diluncurkan tahun 1972 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Godfahter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku selalu tertegun menyaksikan adegan percakapan Michael Corleone bersama Kay Adams saat bertemu pertama kali setelah berpisah lebih dari setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sekarang bekerja pada ayah, Kay. Sekarang dia sakit parah. Amat parah," kata Michael.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pernah bilang, kamu tidak suka pada ayahmu," komentar Kay keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah saya tidak ada bedanya dengan orang kuat manapun yang memiliki tanggung jawab melindungi orang-orangnya. Seperti senator. Atau presiden," kata Michael.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betapa naifnya kamu, Michael," kata Kay sambil menatap kedua mata Michael. "Senator atau presiden tidak menyuruh orang membunuh," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael menatap kedua mata Kay, lalu berkata, "Sekarang, siapa yang lebih naif?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa yang lebih naif?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyakitkan bagiku, setelah aku nonton, aku kemudian tidur-tiduran sambil membaca sebuah artikel di majalah Al-Araby bulan ini, yang membicarakan soal budaya demokrasi. Settingnya beda, memang. Yang satu di Amerika yang satu di Timur Tengah. Tapi hal itu justru lebih menyakitkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak bagi para penduduk negara dunia ketiga yang melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4947153793652357464?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4947153793652357464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4947153793652357464' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4947153793652357464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4947153793652357464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/senator-presiden-dan-mafia.html' title='Senator, Presiden dan Mafia'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-17881778158925523</id><published>2007-04-11T16:51:00.000+02:00</published><updated>2007-04-11T16:52:16.039+02:00</updated><title type='text'>Hidup Baru</title><content type='html'>Pahit atau manis, masa lalu berhak dikenang; karena darinyalah kita memiliki identitas. Tapi, seperti kata Goenawan, sekali seseorang terjebak masa lalu, sekali itu dia akan hanya berpusing pada masa lalunya. Tak bergerak ke depan, dan hanya berputar-putar terpenjara masa lalu--yang takkan berubah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingin seperti itu; maka yang kuurus bukan masa lalu. Seseorang pernah mengaku padaku dia pernah melacur dulu. Kutanya dia, "Apa hubungannya dengan masa depanmu?" Andai masa lalu bisa dipilah dan dipilih, aku pun memiliki bagian-bagian yang tak hendak aku simpan dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masa lalu bukan perandaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku memilih untuk merancang masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mencoba menutup pintu kemungkinan rancanganku menjadi masa lalu yang tak kuinginkan. Maka aku bersihkan kamarku. Aku pak buku-bukuku untuk kukirim ke kampung halaman. Aku baca diktat. Aku bikin secangkir kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-17881778158925523?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/17881778158925523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=17881778158925523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/17881778158925523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/17881778158925523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/hidup-baru.html' title='Hidup Baru'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-7345699612064745357</id><published>2007-04-09T15:34:00.000+02:00</published><updated>2007-04-09T15:35:25.154+02:00</updated><title type='text'>Tebakan</title><content type='html'>Aku sering menebak, dan salah. Aku sering menebak, dan, kebetulan, betul. Sialnya, masa depan, seperti banyak hal, hanya bisa ditebak. Padahal aku selalu penasaran akan masa depan. Maka, aku sering salah dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku masih kecil, aku pernah menebak hidup itu sangat mudah: sekolah, berbicara di depan massa, bekerja, berkeluarga, dihormati, mati. Tebakanku salah. Hidup ternyata susah. Aku juga pernah menebak akan jadi dokter. Jadi fisikawan. Jadi sopir bus yang penuh petualangan. Jadi pendaki gunung yang gagah. Semuanya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada saatnya aku betul. Kutebak hidupku akan sunyi. Jitu. Kutebak aku akan hidup jauh dari kampung halaman. Benar. Kutebak aku akan terus muak pada dunia. Tak salah lagi. Kutebak aku akan sangat mencintainya... tak kusangka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku masih kecil, aku selalu tertantang untuk bermain tebak-tebakan. Bagiku, permainan yang satu ini amat bergengsi. Yang bisa menebak akan dianggap pintar. Dan aku amat suka orang menganggapku pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu. Sekarang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa diriku tidak pintar. Aku tahu aku goblok setengah mati, ternyata. Prek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, betapa tidak terarahnya tulisanku ini. Keruh, keruh. Benar-benar menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-7345699612064745357?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/7345699612064745357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=7345699612064745357' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7345699612064745357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7345699612064745357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/tebakan.html' title='Tebakan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5931389098241363991</id><published>2007-04-03T02:20:00.000+02:00</published><updated>2007-04-03T02:27:37.613+02:00</updated><title type='text'>Dua Puluh Tujuh SMS yang Lalu</title><content type='html'>Seharian ini, tidak ada aktifitas yang menarik sama sekali. Tidak ada. Keluar menghadiri acara kecil-kecilan yang diadakan kawan-kawan asal Rembang. Bertemu Faizin yang kemudian aku goda habis-habisan. Mengambil sedikit uang di mesin ATM di bank Wathony. Mampir ke rumah mas Agus. Menunggu bus berjam-jam di halte KFC, sambil membaca buku Masa Depan Kebebasan-nya Fareed Zakaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hiburan: Mamak sms, memberi kabar UIN Jogja bisa menerima transfer mahasiswa dari Al-Azhar--juga kabar dia amat rindu padaku. Tapi berita di akhir bulan Maret itu memang benar-benar tsunami. Dan efek penghancurannya masih tampak berserakan di dinding-dinding kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kawan yang berusaha membantuku merapikan kembali serakan akibat bandang hebat itu. Tapi tidak begitu efektif. Paginya aku masih linglung, setelah tidur seranjang dengan om Solah di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku pulang setelah lelah menggelandang empatbelas hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami di akhir Maret seharusnya bisa bikin aku lebih gila lagi menggelandang. Tapi aku tak lagi punya uang. Dompet yang kosong memaksaku pulang kandang. Bergelap-gelap lagi dalam kamarku yang kosong dan tampak lapang. Dan usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, nyatanya, setelah dari mesin ATM di Rob'ah pun, aku tetap tak punya gairah untuk kembali menggelandang. Malah ada rencana besok aku jalan-jalan ke kampus. Sudah lama tidak minum teh di kafe Masyrubat El Hussein di depan kampus. Sudah lama tidak berjejal dalam bus kota jurusan Darrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, paling tidak aku masih punya harapan. Kata seorang kawan, aku tak boleh menyebut "sisa harapan". "Kalau tidak sesuai dengan yang kamu impikan, Nad, itu berarti bukan harapanmu. Harapan tidak memiliki sisa." Aku punya bahasa lain: "Begitu peristiwa berjalan ke arah yang melenceng, itu sudah bukan lagi menjadi harapan." Atau bahasa yang lebih lugas: "Begitu meleset, segera lupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tipe pemuda yang penuh angan-angan, yang terkadang bisa disebut sebagai ambisi, rencana-rencana, atau cita-cita. Seringkali, memang, aku menyerah. Tapi tidak kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, paling tidak aku masih punya harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms-sms yang masuk setelah sms ke-27 seluruhnya bernada menghibur, walau aku tak sempat mendendangkan lulabi kesayanganku, karena dia lebih dulu mengirim "Aku tidur dulu, nyenyak, seperti bayi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5931389098241363991?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5931389098241363991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5931389098241363991' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5931389098241363991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5931389098241363991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/dua-puluh-tujuh-sms-yang-lalu.html' title='Dua Puluh Tujuh SMS yang Lalu'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4781748142901066036</id><published>2007-04-01T12:17:00.000+02:00</published><updated>2007-04-01T19:19:33.956+02:00</updated><title type='text'>Lulabi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Far away,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This ship is taking me far away&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Far away from the memories&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Of someone who cares if I live or die&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Starlight, Muse)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata perahu selalu mengingatkan aku pada orang gila itu: Neitzsche. Aku masih hapal--di luar kepala--kata-katanya, yang aku pelesetkan menjadi kata-kataku sendiri: bahwa hidup adalah "Perahu rapuh, yang kita tahu suatu saat akan tenggelam ke dasar samudra yang luas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari, kita rayakan kekerdilan kita! (Sebetulnya bukan kita; tapi aku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit kemarin sore begitu gelapnya. Berlapis-lapis. Cuaca kemarin sore begitu bingungnya. Tak tahu musim. Dan aku kemarin sore begitu gobloknya; kelayapan cuma pakai kaos oblong duka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkasa menampar-nampar. Angin mendung. Dunia berwarna merah-kuning-jingga. Pelangi lupa. Mobil kerlap-kerlip sebelum waktunya. Bintang lalu-lalang di balik selimut yang menghalang. Seorang serdadu sehabis salat memergokiku mengusap kedua mataku yang kemasukan berjuta-juta jarum galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Allah aku tak boleh bunuh diri. Tapi aku seperti tikus dalam kotak perangkap; dipaksa ketidaktahuan dan naluri, untuk melahap sepotong keju yang tergeletak di sana. Tidak perlu menjadi pintar untuk tahu apa yang bakal terjadi setelah si tikus menjamah keju itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisiknya dalam sms: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Itulah takdir, Nad."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu tergagap kalau dihadapkan pada persoalan takdir. Bagaimana orang-orang bisa memercayainya? Apakah mereka semua sedang tidur? Apa hanya aku yang terjaga untuk melakukan sesuatu, dengan kedua tanganku sendiri, dengan risiko yang aku ambil sendiri? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa aku sendirian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa justru aku yang kafir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebetulnya ingin menulis sajak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suer&lt;/span&gt;. Tapi tiba-tiba kedua lenganku jadi ngilu. Jemari tanganku jadi kaku. O, paling tidak aku semalam masih bisa membisikkan lulabi kesayanganku padanya, yang ditutup dengan sebaris kalimat "Tidur yang nyenyak, seperti bayi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4781748142901066036?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4781748142901066036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4781748142901066036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4781748142901066036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4781748142901066036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/04/lulabi.html' title='Lulabi'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2408820037025726521</id><published>2007-03-30T14:33:00.000+02:00</published><updated>2007-03-30T14:34:41.728+02:00</updated><title type='text'>Bahaya dan Permainan</title><content type='html'>Aku iseng baca buku diktat. Lalu kutemukan apa yang pernah dikatakan Neitzsche tentang perempuan. Katanya, "Lelaki sejati mendambakan dua hal: bahaya dan permainan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya. Dan permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Neitzsche meneruskan, "Dan perempuan adalah permainan yang paling berbahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering merasa nyaman dengan semangat dan corak berpikir Neitzsche. Manusia Unggul. Kehendak Berkuasa. Nihilisme Aktif. Penghancuran budaya dan nilai-nilai. Rasa keterasingan. Kesunyian. Kesakitan. Ketidakwarasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini enggak dulu deh. Mikir-mikir, lah! Aku tak mau main-main. Aku sedang menghindari bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku ketakutan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuatir minta ampun&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2408820037025726521?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2408820037025726521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2408820037025726521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2408820037025726521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2408820037025726521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/bahaya-dan-permainan.html' title='Bahaya dan Permainan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4524754181951741321</id><published>2007-03-29T21:22:00.000+02:00</published><updated>2007-03-29T21:25:39.027+02:00</updated><title type='text'>Do or Die!</title><content type='html'>Sudah sepuluh hari aku tak ingin apa-apa. Tak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa akan begini terus? Ada satu kata yang harus kupertegas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-family: verdana; font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;STOP!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4524754181951741321?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4524754181951741321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4524754181951741321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4524754181951741321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4524754181951741321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/do-or-die.html' title='Do or Die!'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-6724718493905763605</id><published>2007-03-28T03:15:00.000+02:00</published><updated>2007-03-28T03:35:19.411+02:00</updated><title type='text'>Siren</title><content type='html'>Aku teringat pertanyaan Seno, yang sering diulang om Solah: Terbuat dari apakah ingatan? Pertanyaan ini, mengingat keadaanku sekarang, boleh aku lanjutkan: Apakah ia memiliki massa? Kalau tidak, mengapa bisa begitu berat terasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga aku tak kuat menanggungnya. Hingga tenagaku hampir habis terkuras untuknya. Dan sisanya, tak cukup untuk bikin aku memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang lain. Bahkan sekadar untuk ingin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku membaca sebuah dongeng tentang Siren, bidadari-bidadari laut yang memiliki kemampuan untuk menggoda pelaut mana pun yang mendengar lagu mereka tak kuasa untuk tak menceburkan diri ke dalam laut hingga menemui ajal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, aku tak mau jadi Ulysses, yang kemudian mengikatkan dirinya di tiang kapal erat-erat agar tak bisa mencebur diri ke laut. Tidak! Aku menolak jadi bodoh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku justru akan bersiap-siap mencebur ke laut begitu mendengar dendang para Siren; dengan baju selam dan tabung gas yang kira-kira cukup untuk seumur hidup bercinta dengan salah satu dari mereka: NH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-6724718493905763605?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/6724718493905763605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=6724718493905763605' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6724718493905763605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6724718493905763605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/siren.html' title='Siren'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-7619700935963813899</id><published>2007-03-25T21:30:00.000+02:00</published><updated>2007-03-28T03:30:16.191+02:00</updated><title type='text'>Nabrak Tembok</title><content type='html'>Aku bayangkan aku sedang berjalan di trotoar sejarah, dan di depanku berdiri sebuah tembok besar yang kokoh tak hendak roboh. Aku pilih tembok batu, tua, warna tanah, tebal dan berdebu, biar tampak natural dan meyakinkan. Kemudian kubayangkan masa depanku berada di balik tembok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada pintu. Tak ada sisi lain dari trotoar. Tak ada balik kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku pasti akan berhenti. Mengambil napas. Beberapa detik mengeluh. Lalu, apa akan terus begini? Pasti aku kemudian akan berpikir untuk mencari jalan bagaimana bisa sampai ke tujuan: masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku akan benar-benar menabrak tembok besar ini? O, tak ada waktu untuk bertanya siapa yang sempat-sempatnya iseng membikin tembok besar menghalangi jalan kakiku ini. Tapi masih ada waktu untuk bertanya-tanya apakah akan sakit saat tubuhku yang goyang ini membenturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah rasa sakit itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu cara untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap-siap. Mundur tiga langkah (dalam sehari saja, lah, aku ini, paling, kuatnya), untuk kemudian lari ke depan berjuta-juta langkah. Sampai nanti. Sampai aku tahu apa itu sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit itu baik, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebetulnya masih ada satu lagi pertanyaan yang, bahkan lebih penting: apakah aku mampu merasakan sakit sekaligus gembira?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembira untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat! Tembok itu pada akhirnya akan roboh juga! Tak peduli betapa akan bonyoknya tubuhku. Karena, apalah arti sakit, demi melihatmu bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-7619700935963813899?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/7619700935963813899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=7619700935963813899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7619700935963813899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7619700935963813899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/nabrak-tembok.html' title='Nabrak Tembok'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4324132381798073424</id><published>2007-03-24T15:05:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T15:07:16.960+02:00</updated><title type='text'>Bosen</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oleh BIP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang aku alami&lt;br /&gt;Mungkin dapat pencerahan&lt;br /&gt;Atau keajaiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitu saja terjadi&lt;br /&gt;Aku tak bisa jelaskan semua hingga&lt;br /&gt;Aku begini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, o, o&lt;br /&gt;Udah gak mau lagi nakal&lt;br /&gt;O, o, o&lt;br /&gt;Udah gak mau lagi bandel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan udah nggak setia kawan&lt;br /&gt;Bukannya sombong&lt;br /&gt;Tak mau berangkat lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga udah bosen&lt;br /&gt;Nggak smangat lagi&lt;br /&gt;Cukup sampai di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorry gara-gara gue cabut&lt;br /&gt;Bukan gara-gara gue takut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu udah banyak yang nyuruh gue brenti&lt;br /&gt;Dari orang tua sampek guru tapi gak didenger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, o, o&lt;br /&gt;Tapi kini udah ogah nakal&lt;br /&gt;O, o,o&lt;br /&gt;Tapi kini udah ogah bandel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capek! Capek! Gue udah capek!&lt;br /&gt;Lelah! Lelah! Gue udah lelah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu udah banyak yang nyuruh gue brenti&lt;br /&gt;Dari temen, tante sampek pacar semua gue boongin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, o, o&lt;br /&gt;Bosen jadi anak nakal&lt;br /&gt;O, o, o&lt;br /&gt;Mentok udah gue bandel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4324132381798073424?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4324132381798073424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4324132381798073424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4324132381798073424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4324132381798073424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/bosen.html' title='Bosen'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2906913922169533733</id><published>2007-03-24T03:17:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:19:03.192+02:00</updated><title type='text'>Scene yang Buram</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Baru kali ini aku memesan segelas kopi di kafe. Biasanya teh. Dan hanya teh--tentu dengan hookahnya. Pernah beberapa kali dulu aku memesan nektar mangga. Enak, memang. Tapi tidak pernah matching dengan hookah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi. Humam dan Noris mengerjakan PR Bahasa Perancis mereka. Aku tak sempat bikin minuman hangat. Hanya makan buah pisang dan jeruk. Segelas air putih. Lalu memutuskan untuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam aku tak bisa tenang tidur. Nyenyak, memang. Tapi jam tiga pagi aku terbangun tanpa kemauan sendiri. Aku, yang setengah sadar, sedikit heran: Noris tidak ada di sampingku. Biasanya memang Noris dulu yang tidur. Tapi tadi malam aku dulu yang tertidur. Aku benar-benar kalut tadi malam. Tak hanya tubuh yang lelah. Maka saat beberapa menit aku rebah, langsung lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur di mana Noris? Batinku. O, ternyata di sofa panjang coklat muda. Tertutup selimut merah muda. Kubangunkan dia, "Adek, tidur di kamar." Kubuka selimutnya. Kugoyang-goyang tubuhnya. Tak bangun. Kupandangi wajahnya yang lelap. Langsung teringat NH. Langsung gusar. Cepat-cepat kembali ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rebah. Menyerah pada terserah. Tak bisa tidur. Sampai mbak Nur masuk membangunkan Humam. "Bangun. Salat Subuh." Aku beranjak ke kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi, wudhu. Salat subuh di ruang depan. Lalu, masih bersimpuh di sajadah, bengong. Aku tak boleh begini. Harus cari sesuatu untuk dikerjakan. Makan pisang. Lambat-lambat. Habis. Ngapain lagi? Makan jeruk. Lambat-lambat. Habis. Masih bete. Beranjak ke dapur. Malas bikin minuman hangat. Ambil segelas air putih. Ke depan lagi. Bengong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah. Silahkan bengong. Tapi jangan di sini. Tidak enak bengong di ruang tamu rumah orang. Kalau mau bengong, enaknya di balkon. Oke. Aku mencoba memperhatikan perubahan warna dunia saat fajar digantikan pagi. Gelap-remang-terang-makin terang. Tapi hatiku masih saja gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan bengong, aku beranjak. Ngapain lagi, yah? Aku masuk ruang depan. Kulihat Humam dan Noris sibuk mengerjakan PR Bahasa Perancis mereka. Pada siapa aku bisa mengeluh? Tidak pada salah satu dari mereka berdua. Humam dan Noris takkan pernah tahu apa yang sedang aku rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mbak Nur? NH pasti tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jancuk! Aku tak bisa terus begini. Pagi hari seharusnya menyenangkan. Ya sudah. Pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelumnya aku harus mampir ke kafe. Menghirup hookah pagi hari. Siapa tahu aku bisa lupa pada diri sendiri. Oke. Kucium rambut Noris. Pamit ke Humam. Keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di perempatan Sabi', menyeberang, jalan lurus, lalu belok: kafe Layaly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kali ini aku memesan segelas kopi di kafe. Biasanya teh. Dan hanya teh--tentu dengan hookahnya. Pernah beberapa kali dulu aku memesan nektar mangga. Enak, memang. Tapi tidak pernah matching dengan hookah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak enak, kopi itu. Lebih enak teh. Kupanggil pelayan. "Teh satu. Hookah satu. Kasih gula yang banyak. Ambil saja kopinya. Aku sudah." Lalu mulai meneruskan bacaanku: The Wisdom of The West.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Aku ingin tidur selamanya. Tapi Bunda selalu membangunkan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2906913922169533733?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2906913922169533733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2906913922169533733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2906913922169533733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2906913922169533733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/scene-yang-buram.html' title='Scene yang Buram'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4856854955763057690</id><published>2007-03-23T14:26:00.000+02:00</published><updated>2007-03-23T14:28:30.796+02:00</updated><title type='text'>Saat Katameya-Sabi'</title><content type='html'>Aku tak hendak bicara soal jarak ruang. Tapi jarak zona waktu lima jam yang terpaut emosi bergejolak yang membludak dari pedalaman dada saat Katameya-Sabi'. Apalah artinya lari kencang mengejar tramco seakan itu jaminan kenyamanan masa depan? Apalah artinya tak bersepatu, terburu-buru, dan hanya memakai sandal jepit untuk menyeberang jalanan Gami' yang penuh debu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada telepon genggam yang bergetar. Ada pesan-pesan. Ada gugup. Ada lari. Ada debu yang masuk kuku jempol kaki. Ada gedor pintu. Ada menunggu. Ada dering panggilan di telinga. Ada isak tertahan. Ada kisah yang menyeramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa jeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa hela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tenggelam dalam sofa coklat yang sudah rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lari lagi. Gugup lagi. Menyeberangi pasir pasar mobil lagi. Debu yang menyelip lagi. Gedoran pintu lagi. Dan, kali ini, sofa hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai aku tak peduli pada mukaku yang kusut dan tubuhku yang penuh kelut. Aku bisa tak tahan kalau sudah begini. Lebih baik aku lari lagi daripada nekat menabrak dinding yang begitu angkuh dan bisu ini, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ke Sabi'. Tidur nyenyak ditemani resah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4856854955763057690?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4856854955763057690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4856854955763057690' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4856854955763057690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4856854955763057690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/saat-katameya-sabi.html' title='Saat Katameya-Sabi&apos;'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-7746671230665315317</id><published>2007-03-22T15:34:00.001+02:00</published><updated>2007-03-22T15:34:55.290+02:00</updated><title type='text'>Little Miss Sunshine</title><content type='html'>Tidak. Film yang satu ini bukan 'drama Hollywood'. Tidak ada adegan sinetron. Lalu: apa yang ingin saya sampaikan? Tidak, kok. Tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segini saja. Terima kasih. Habis ini saya mau ke rumah Noris. Hari Kamis. Waktunya maen. Oya, saya harus mampir ke rumah di Kampung Sembilan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-7746671230665315317?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/7746671230665315317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=7746671230665315317' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7746671230665315317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/7746671230665315317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/little-miss-sunshine.html' title='Little Miss Sunshine'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4258909218447391065</id><published>2007-03-22T01:20:00.000+02:00</published><updated>2007-03-22T01:25:16.974+02:00</updated><title type='text'>Hai!</title><content type='html'>Masih ada sisa ketakutan dalam dada yang terselip, sampai malam ini. Kejadian juga, pada akhirnya; bahwa aku sampai pada sebuah titik tanpa jalan kembali. Sebuah segi empat di mana tiga dindingnya tertutup rapat; hanya ada jalan lurus ke depan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A point of no return.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kemudian aku mencari jalan yakin, di atas batu besar di pinggiran sungai Nil yang bermandi cahaya kota yang memantul di permukaannya, di atas perahu yang bising berkeliling, di mesjid kecil yang terselip di antara berjajar kereta kuda dan garasi gedung tua, di Citedal Resto di pucuk Azhar Park yang redup dan permai, di antara dua cangkir kopi Mocca dan seporsi sandwitch La Thon, sebuah rambu-rambu warna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di jalan-jalan. Di kafe-kafe. Di pesan-pesan singkat. Di gelombang-gelombang suara. Di larut malam. Di raut emosi yang lalu lalang. Di sebuah rumah yang kebanjiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di studio tiga. Tak juga ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada sisa ketakutan dalam dada yang terselip, sampai malam ini, sampai di sini. Dan suatu hal yang sebetulnya tak perlu terjadi pun terjadilah: sebuah kekeruhan. Aku memang salah. Sepertinya sudah berkali-kali aku mengutuk diri. Kataku sudah jelas, dan tegas: fungsi air mata adalah untuk menjaga bola mata agar tidak iritasi. Kataku sudah jelas, dan tegas: emosi yang meledak di permukaan adalah tanda kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, baiklah. Biar kucoba lagi mencarinya. Jalan yakin itu. Rambu warna hijau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4258909218447391065?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4258909218447391065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4258909218447391065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4258909218447391065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4258909218447391065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/hai.html' title='Hai!'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-5351681846216075098</id><published>2007-03-21T14:56:00.000+02:00</published><updated>2007-03-21T14:58:05.509+02:00</updated><title type='text'>Desert Night</title><content type='html'>Seharusnya yang ada adalah beberapa ekor domba, api unggun, kemah lusuh, teko yang berisi air mendidih, dua cangkir teh panas, dua hookah, dan aku dan Nanang yang duduk menggigil di balik selimut mengitari cahaya api yang berbias sinar rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi malam ini tidak. Seperti malam yang kemarin, kami tetap memilih Nescafe sebagai hidangan. Tak ada beberapa ekor domba; yang ada beberapa buku yang terserak. Tak ada api unggun; yang ada seperangkat komputer dan laptop. Tak ada kemah lusuh; yang ada kamar keluh. Tak ada hookah; yang ada dua bungkus LM merah. Cahaya rembulan pun tak diijinkan mengintip lewat celah jendela. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Malam tak bisa masuk kamar Nanang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku merebahkan diri dan mulai bercerita tentang keluh kesahku. Dan Nanang mendengarkan dengan kesabaran seorang pemancing ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami menunggu waktu fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms-sms masuk. Sms-sms keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hati yang resah. Dan nafas yang mendesah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia tak tidur malam ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-5351681846216075098?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/5351681846216075098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=5351681846216075098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5351681846216075098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/5351681846216075098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/desert-night.html' title='Desert Night'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-8950017016697805998</id><published>2007-03-19T02:03:00.000+02:00</published><updated>2007-03-19T03:19:36.048+02:00</updated><title type='text'>Usaha Melawan Lupa</title><content type='html'>Sepertinya aku yang mengatakannya. Sepertinya aku sendiri yang mengucapkannya padamu suatu saat dulu; bahwa fungsi air mata adalah untuk menjaga kedua bola mata kita agar tidak kering dan terhindar dari iritasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terkadang manusia lupa pada perkataannya sendiri. Terkadang manusia di saat-saat tertentu tak hendak menggubris ucapannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya manusia tidak hanya terdiri dari jasad. Tak cuma daging. Manusia juga memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ingatan&lt;/span&gt;. Dan identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harapan. Dan kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, maafkan aku, Jack. Ibuk (ya, dengan "k") pasti tidak senang melihat aku kelimpungan begini. Katamu aku tidak boleh menangis lagi. Katamu aku tidak ada manisnya kalau lagi menangis. Katamu kamu akan baik-baik saja di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katamu aku harus baik-baik saja di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-8950017016697805998?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/8950017016697805998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=8950017016697805998' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8950017016697805998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/8950017016697805998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/usaha-melawan-lupa.html' title='Usaha Melawan Lupa'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-4535244095169385805</id><published>2007-03-16T14:09:00.000+02:00</published><updated>2007-03-16T14:10:27.300+02:00</updated><title type='text'>Topi Terbalik</title><content type='html'>Barusan aku salat Jum'at di mesjid dekat rumah. Tidak ada yang menarik, memang, kalau saja kedua mataku khusyuk dan tidak melihat tulisan berbahasa Inggris yang terpampang di topi terbalik yang dipakai jamaah yang salat di depanku pas: "Saya tidak melakukannya. Tidak ada orang yang melihat saya melakukannya. Biarkan saya menghubungi pengacara saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku melamun, mengira bahwa aku sedang salat Jum'at di New York atau Washington DC. Tapi saat aku kembali mendengar bacaan Qur'an sang imam yang serak-meleot-leot-tak-enak-didengar, aku tahu kalau aku masih berada di Asyir, Nasr City, Cairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 16 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nb: Malam ini, entah apa yang bakal terjadi di pinggir (amat pinggir) sungai Nil di kawasan Tahrir, nanti. Bisa saja aku akan menangis; tapi untuk apa? Bisa saja aku tertawa senang; tapi apa sopan? Lepas dari urusanku, aku tak menemukan banyak alasan untuk tertawa di dunia yang penuh tragedi ini. Hanya alasan untuk menangis, hanya alasan untuk menangislah, yang kerap aku temukan bahkan di pinggir jalan paling terpencil di sudut kota tua yang rapuh ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-4535244095169385805?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/4535244095169385805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=4535244095169385805' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4535244095169385805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/4535244095169385805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/topi-terbalik.html' title='Topi Terbalik'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-2490604379929653420</id><published>2007-03-08T10:49:00.000+02:00</published><updated>2007-03-08T10:50:09.332+02:00</updated><title type='text'>Ejakulasi</title><content type='html'>Matahari baru saja nongol di pojok jendela kamarku yang dingin saat tiba-tiba Nanang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt;. Kusapa dia, "Selamat pagi." Dibalas, "Pagi." Lalu dia bercerita tentang ejakulasinya semalam yang sampai empat kali. Plus sekali lagi tepat sebelum subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus mengomentarinya coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-2490604379929653420?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/2490604379929653420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=2490604379929653420' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2490604379929653420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/2490604379929653420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/ejakulasi.html' title='Ejakulasi'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-6036692204956620462</id><published>2007-03-08T04:55:00.000+02:00</published><updated>2007-03-08T05:18:20.578+02:00</updated><title type='text'>Komedi Mahasiswa I</title><content type='html'>Ayahku orang biasa, tapi dia yakin bahwa membimbing orang-orang kampung sekitar rumah agar bisa berjalan di jalan yang benar adalah tugasnya. Hampir setiap sore, sepulang dari mengajar di madrasah, dia sempatkan diri untuk berjalan menyisiri satu sisi dari pelabuhan, bercakap-cakap dengan para nelayan kasar, menyimak bagaimana mereka berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku orang biasa, tapi dia tahu bagaimana menghadapi anak-anak muda pemabokan dan orang-orang tua penjudi. Ayah biasanya mendatangi mereka di warung-warung penjual minuman keras, mengajak mereka bercanda, dan menyelipkan teguran-teguran halus di sela-sela leluconnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah orang biasa, tapi dia tak kenal lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku heran karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah hanya cari musuh saja," kataku padanya suatu saat di meja makan, bertahun-tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah hanya mengusir musuh, Dif," komentar ayah sambil tetap meneruskan makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah anggap mereka musuh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayah mencoba mengusir musuh, keluar dari jiwa mereka." Kali ini ayah menatap lurus ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tugas kita mengingatkan orang-orang yang lalai, Anakku," sela ibu. Aku menoleh ke arah ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tugas siapa, Bu?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tugas orang-orang yang ingat. Tugas kita," tegas ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dif, suatu saat nanti, kau akan menggantikan ayah mengingatkan mereka," kata ayah sambil mulai mengunyah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi orang-orang itu jadi tidak suka pada ayah," kataku, menatap piringku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya sebagian saja, Dif," kata ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada dasarnya jiwa manusia itu suci dan bersih," kata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau punya musuh, Ibu," kataku merengut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang baik selalu punya musuh, Dif. Orang jahat," kata ayah. "Ingat itu," lanjutnya sambil menatap tajam ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku mengingat kata-kata ayah itu bagai jampi-jampi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai aku sudah besar dan kini belajar di universitas Al-Azhar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir aku tidak akan bertemu banyak musuh di salah satu negeri Timur Tengah ini. Tapi, bahkan di hari pertamaku di Kairo, aku bertemu dengan salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kawan lamaku di pesantren Al-Amien Prenduan di Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nadhief! Selamat datang di Kairo!" sambut Ryan saat aku sampai di sekretariat Fosgama di Masaken Ostman. "Ryan! Apa kabar!" balasku menyambut. Kami berpelukan dua detik. Lalu kami berdua saling bertukar kisah-kisah lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian mengajakku menginap di rumah sewaannya di Abbas Aqqad. Aku terima ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya, setelah makan malam khas Arab, Syawarma, di sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;math&lt;/span&gt;'&lt;span style="font-style: italic;"&gt;am&lt;/span&gt;, aku disuguhi pemandangan yang menyedihkan. Seorang mahasiswa Indonesia kawan sekamar Ryan sedang asyik bermain game strategi di komputernya. Seorang mahasiswa Indonesia lainnya, serumah dengan Ryan, sedang chatting di komputer yang lain di kamarnya. Seorang lagi, mahasiswa Indonesia juga, serumah dengan Ryan juga, sedang menonton film biru dengan santainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaghfirullah," batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, sudah, sudah. Nonton bokep terus. Gak malu apa? Ada kawan baru, nih," kata Ryan menatap salah satu kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, aku yang malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beranjak malas-malasan, tersenyum seadanya, menyalamiku satu-satu sambil menyebut nama masing-masing. Anton. Budi. Anwar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak tau diri, mereka ini," kata Ryan padaku, menyadari kekagetan yang coba aku sembunyikan tapi tak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak apa-apa. Biasa, anak muda, Ryan," kataku, masih malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo masuk kamar, Dif," ajak Ryan. "Udahan maen game-nya, Ton. Ada tamu, nih," lanjutnya, setelah menatap Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku duduk di lantai kamarnya yang berkarpet, Ryan bertanya, "Kau hendak tinggal di mana, Dif?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak siap menghadapi pertanyaan ini. Maka kujawab, "Tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tinggal di sini saja, lah. Rumah ini ada tiga kamar. Satu tidak terpakai. Biar Anton pindah ke kamar yang tak terpakai. Kau sekamar denganku. Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku berkomentar, Anton yang menyadari ketidakenakanku, menyahut, "Iya, Dif. Kau tinggal di sini saja. Di kamar ini. Aku santai kok. Biar aku pindah kamar yang gak terpakai itu. Tinggal bersihin dikit, beres. Gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk tanpa pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keesokan harinya, aku menjadi salah satu penghuni rumah Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, setelah menunggu Ryan bangun, aku bertanya padanya, "Ryan, kampus jauh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kampus, aku bertanya pada Ryan, "Mengapa Anton, Budi dan Anwar tidak bareng sekalian ke kampusnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud kamu?" tanya Ryan tampak bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu penyebab kebingungan Ryan. "Mereka tidak ada mata kuliah hari ini?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Ryan sedetik sedikit gusar, tapi kemudian dia menjawab, "Entahlah. Aku tidak sekelas dengan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, di sini masuk kuliahnya tidak setiap hari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryan menghela napas panjang. Lalu menjawab, "Kau akan tahu sendiri, Dif. Jangan kaget. Aku tak mau kausalahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryan benar. Hanya butuh waktu tiga bulan untuk tahu dengan sendirinya jawaban dari pertanyaanku itu. Ryan juga benar, mengingatkan aku untuk tidak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak setuju kalau Ryan menganggap dirinya tidak bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa kau tidak pernah masuk kuliah, Ryan?" tanyaku padanya saat kami ngobrol santai di kamar, setelah menimbang-nimbang apakah aku layak menanyakan hal ini padanya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masuk kuliah tidak wajib, Dif," jawabnya santai sambil mengambil sebatang rokok yang tergeletak di depannya. "Kita cuma butuh baca muqorror sebelum ujian. Selesai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setengah bulan lagi ujian. Mengapa kau tidak baca muqorror?" tanyaku lagi, setelah memutuskan bahwa aku pantas mengingatkannya, sebagai seorang kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagi males aja," jawabnya sambil menyulut batang rokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas, bagaimana kau akan bisa menjawab soal ujian?" tanyaku lagi, sambil meletakkan buku muqorror yang aku pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau cepat-cepat lulus kok," jawabnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Indonesia busuk. Siapa yang betah hidup di sana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau tidak prihatin dengan kondisi Indonesia sekarang yang terus dilanda musibah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, amat prihatin, Dif. Musibah di mana-mana. Beruntun. Yang satu menyusul yang lain. Yang lainnya lagi menunggu giliran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau tidak tahu, Ryan? Sebagai mahasiswa kau tidak belajar sungguh-sungguh, itu juga merupakan musibah bagi Indonesia, bukan?" Aku bertanya sesopan mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia tidak menjawab. Dia hanya menatap kedua mataku. Aku bisa melihat sorot tidak suka pada tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ryan, apa tujuanmu jauh-jauh ke sini?" tanyaku lagi, dengan nada paling sopan yang aku punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dif, apa tujuanmu ngomong seperti ini?" tanya Ryan balik, dengan nada paling dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin mengingatkan, Ryan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bukan orang tuaku, sayang sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton, apa kau tidak bosan main game terus tiap hari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton menggeleng jemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sisa umurmu dimakan game."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diam atau kau yang kumakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Budi, chatting sama TKW Hong Kong lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nadhief, mau ceramah lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anwar..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ganggu orang lagi horny! Tidak suka, minggat sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-6036692204956620462?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/6036692204956620462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=6036692204956620462' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6036692204956620462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/6036692204956620462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/03/komedi-mahasiswa-i.html' title='Komedi Mahasiswa I'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-540783304459887757</id><published>2007-02-27T15:41:00.000+02:00</published><updated>2007-02-27T15:51:19.694+02:00</updated><title type='text'>Posisi Subjek</title><content type='html'>Tadi pagi aku datang telat setengah jam. Dan aku, oleh dosen, tak diperbolehkan memasuki ruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhadoroh&lt;/span&gt;. Aku tak mau memohon lebih jauh. Nyatanya, perutku belum terisi. Kulihat jam tangan: sepuluh. Makan setengah jam, minum teh di kafe setengah jam. Cukup. Warung makan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ammu Muneer &lt;/span&gt;jadi tujuan. Seporsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eggah &lt;/span&gt;yang hangat dan nikmat. Lalu buru-buru menuju kafe depan gerbang kampus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Masyrubat El Hussein. &lt;/span&gt;Secangkir teh panas, kuhabiskan sebagai teman baca buku Rekonstruksi Pemikiran Agama-nya Sir M. Iqbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kulihat lagi jam tangan: sebelas. Sudah waktunya masuk ruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;muhadoroh&lt;/span&gt;. Materi: Tauhid. Tak lebih dari semenit aku duduk, dosen datang, dengan segala keeksentrikannya: kopiah hitam persegi yang mirip peci, kacamata hitam yang lebar, dasi dan setelan jas yang rapi, senyuman kanak-kanak, jenggot yang tak rata, rambut yang tak lagi hitam. Dan tongkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah pertama kali aku melihat penampilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;duktur &lt;/span&gt;Hasan Muharram. Sedetik aku terpana, sedetik kemudian aku tertegun. Detik berikutnya otakku berputar kencang mencoba mereka apa yang bakal disampaikan oleh orang tua bertongkat dan berkacamata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu apa yang pertama-tama ia lakukan setelah duduk di kursinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kau tebak. Beri paling tidak dua macam kemungkinan yang kaupilih. Dan aku berani jamin semuanya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, tidak ada di antara kalian yang menebak bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah menaruh tongkatnya menyilang dari kiri ke kanan di atas meja. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amat menarik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang aku tak begitu paham secara keseluruhan apa yang ia sampaikan dalam kuliahnya. Aku hanya bisa meraba-raba. Menerka apa yang ia maksudkan. Maka penggalan-penggalan kalimat aku tangkap. Cuplikan-cuplikan pemahaman yang spasial aku coba rangkai dalam usaha memperoleh gambaran umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, selalu, setengah-setengah. Tapi aku masih merasa beruntung mendapatkan yang setengah itu. Bukan informasi dari dosennya yang aku perlukan dan aku cari. Masuk kelas bagiku adalah usaha untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan otak. Biar ada bahan untuk diperbandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar ada bahan untuk disalahmengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar ada pihak yang bisa disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kali ini: Duktur Hassan Muharram memulai kuliahnya, setelah diam yang terlalu lama, seolah mengulangi apa yang sudah jutaan kali ia hapal dan ulangi, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maslak &lt;/span&gt;Keempat Penulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Mawaqif&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sang dosen menerangkan bagaimana si penulis buku yang dibahas membuktikan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wajibul Wujud&lt;/span&gt;. Aku langsung teringat perkataan Ibnu Rusyd, bahwa para mutakallimin hanya bisa menempuh jalan jadal untuk suatu pembuktian. Ingatanku kemudian melompat pada Muhammad Iqbal, yang berpendapat bahwa argumen kosmologis seperti yang dipakai Al- Igi (penulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Mawaqif&lt;/span&gt;) hanya bisa meraih kesimpulan paling banter bahwa Sebab Tertinggi itu ada. Tanpa pernah tahu apa dan bagaimana Sebab Tertinggi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lama muhadoroh makin membosankan. Aku seperti sudah bisa menebak hendak berakhir di mana uraian panjang lebar dan diulang-ulang tersebut. Akhirnya, hanya satu yang aku keluhkan: mengapa sang dosen menyampaikan materinya dari sudut pandang seorang insider?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih suka kalau sang dosen memilih posisi sebagai outsider dalam menyampaikan materi, sebagai pihak luar, hingga secara psikologis ada jarak antara aku dan pendapat yang dibahas, yang mana dengan jarak itulah aku bisa menilai benar-salahnya pendapat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, seolah-olah aku sudah dipilihkan oleh sang dosen pendapat yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah aku hanyalah mesin print.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah aku tak punya pertimbangan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah-olah aku anak tk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 26 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-540783304459887757?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/540783304459887757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=540783304459887757' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/540783304459887757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/540783304459887757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/02/posisi-subjek.html' title='Posisi Subjek'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-3169819483662391820</id><published>2007-02-13T22:09:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:34:30.590+02:00</updated><title type='text'>El Tramco yang Macet</title><content type='html'>Tunggu sebentar. Aku masih ragu dengan ejaan El Tramco. Jangan-jangan Eltramco. Aku masih kesulitan menemukan ejaan baku tulisan latin untuk bahasa Arab. Bahkan orang-orang Mesir pun, tak ragu lagi, juga mengalami hal yang sama. Ejaan untuk Muhammad saja beraneka ragam: Mohammed, Muhammed, Muhamad, Muhammad, Mohamed, Mohamad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau masalah ejaan tak lagi mengusik, maka sudah saatnya aku menuliskan kisahku: hari Senin, 12 Februari 2007. Sore-sore. Aku tak jadi ke rumah Ansori. Sebagai gantinya, aku ke Tsamin diajak Siroj mencari karpet dan cd blank dan keyboard dan mouse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan keseharian yang hampir tak memilik arti apa-apa. Tapi, hidup kita yang 'berarti' itu terdiri dari partikel keseharian yang kita anggap hampir tak memiliki arti ini, bukan? Lantas mengapa kita jarang menemukannya dalam lembar-lembar buku yang berat? Mengapa hanya sedikit orang/penulis/ilmuan/budayawan yang mau memperhatikan hal itu dan mengangkatnya sebagai objek kajian/tulisan/cerita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Neitzsche, Derrida, dan Foucault tidak menganggap remeh keseharian. Begitu juga aku. Maka saat aku berangkat ke Tsamin dan Tramco yang aku tumpangi tiba-tiba macet tepat di persimpangan Tsamin, aku merasa geli dan berhasrat untuk mengenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku saat itu begitu tertarik untuk ikut membantu para penumpang mendorong angkutan tua yang macet itu agar bisa melanjutkan perjalanan. Aku, dengan kegembiraan kanak-kanak, ikut berteriak-teriak dan mendorong dengan sepenuh jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa gembiraku memuncak saat aku merasakan beratnya mobil yang harus kudorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siroj, yang hanya tersenyum melihat tingkahku, kuteriaki, "Hei, Roj, sini mendekat, biar kuberitahu kamu, bahwa aku ini calon presiden Indonesia! Ingat, ya! Ingat saat ini! Lihat aku, lihat calon presiden ini, mendorong mobil bobrok sialan ini suatu saat di negeri Mesir ini. Lihat! Lihat, aku mendorong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakku meracau. Tapi Siroj memahami maksudku, hingga dia terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, semua orang juga tahu aku cuma bercanda saat berkata bahwa aku ini calon presiden Indonesia. Sampai saat ini, aku masih punya keinginan untuk jadi petani yang sejati. Petani beras. Petani sayur. Petani garam. Petani cabai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Februari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-3169819483662391820?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/3169819483662391820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=3169819483662391820' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3169819483662391820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/3169819483662391820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/02/el-tramco-yang-macet-tunggu-sebentar.html' title='El Tramco yang Macet'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116839535714224152</id><published>2007-01-10T03:59:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:35:11.026+02:00</updated><title type='text'>Slow Cheetah</title><content type='html'>Ini hanya sebatas catatan yang, bagaimanapun,  kecil.  Dan,  meski kecil, itu hanya diukur dari panjang-pendeknya tulisan. Ada semacam keharusan yang mendorongku berusaha, dalam waktu yang sebetulnya tak mengijinkan, menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibilang oleh seorang kawan (ini kedok saja, biar ada tokoh nyata-nya) tak lebih dari seekor Cheetah yang lamban. "Seperti slow Cheetah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lo tuh. &lt;/span&gt;Quick to start, but slow to finish," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutnya, "Seperti Pram saat sudah tua: optimis berkehendak, pesimis dalam berpikir. Tidak ada untungnya, kalau tak diteruskan dengan doing something, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meen!&lt;/span&gt;" lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, janjiku, aku masih dililit waktu, nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba, apa yang bakal kaulakukan sepanjang tahun ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendak kujawab, tak diberinya kesempatan. "Belum ada planning, kan? Juh, juh juh!" Dia membuang ludah di depan hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku terbangun dari mimpi mengawini seorang gadis jelita yang kukenal suatu saat dulu. Rambutnya yang terurai panjang, sinar matanya yang jernih menyusup kesadaran, dan bayi yang dijanjikan, semuanya menggodaku menutup cerita cita-cita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 10 Januari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116839535714224152?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116839535714224152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116839535714224152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116839535714224152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116839535714224152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/01/slow-cheetah-ini-hanya-sebatas-catatan.html' title='Slow Cheetah'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116802972359215552</id><published>2007-01-05T22:29:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:36:02.602+02:00</updated><title type='text'>Catatan Awal Tahun Baru</title><content type='html'>Suatu ketika di tahun 1947,  Bertrand Russel pernah berkata, "War does not determine who is right. Only who is left."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah enampuluh tahun, aku mengulangi perkataan Russel, kini dalam bahasa Arab, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-harbu lan yu'akkida man huwa haqq. Al-harbu yu'akkidu faqod man huwa lam yuqtal."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nb: Mak, sori, aku belum bisa memenuhi keinginanmu. Harap maklum, kalau aku hendak menulis surat untukmu, aku perlu waktu yang banyak, hal yang belum ada saat ini. Kau tahu, dalam dunia seperti sekarang ini, susah sekali mengumpulkan banyolan-banyolan, lelucon, makian, kutukan dan serapahan untukmu. Ngomong-ngomong, jaga dirimu baik-baik; politik praktis kampus, aku tidak tahu macamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116802972359215552?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116802972359215552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116802972359215552' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116802972359215552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116802972359215552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/01/catatan-awal-tahun-baru-suatu-ketika.html' title='Catatan Awal Tahun Baru'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116770466429032892</id><published>2007-01-02T04:22:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:36:31.632+02:00</updated><title type='text'>Saddam</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangkar besi&lt;br /&gt;takkan merubah rajawali&lt;br /&gt;menjadi seekor burung merpati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksekusi&lt;br /&gt;takkan merubah lelaki sejati&lt;br /&gt;menjadi banci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hening cipta dimulai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku masih SD. Saat makan malam bersama keluarga, di layar tv aku melihat sebuah adegan perang: Irak lawan Iran. Aku ingat ayahku menggumam seorang diri, mengatakan sesuatu tentang kegilaan Saddam dan kekeraskepalaan Khumeini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku bertanya pada ibu, dengan lugu dan imutnya, "Mengapa mereka perang, Buk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menjawab tak jelas. Dan aku tak puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka sama-sama Islam?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," jawab ibu, lalu menambah lekas-lekas, "Tapi yang satu Sunni yang satu Syi'ah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang benar, Buk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sunni, lah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Irak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak menjawab. "Jadi Iran yang salah, Buk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah memotong, "Mereka sama-sama gila."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Syi'ah menyimpang dari ajaran asli Islam," kata ibu. "Karena itu harus diperangi," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perang pun ajaran yang menyimpang," kata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingat apakah ayah dan ibu pernah menyebut-nyebut Amerika. Tapi aku ingat Lek Nur memasang poster Saddam Hessein di kamarnya, dengan ukuran yang sangat besar. Aku sering diam-diam memandangi wajahnya yang gagah. Aku juga ingat Lek Nur sering menyebut-nyebut "Rudal Skud!" dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini penghujung tahun 2006. Bertahun-tahun setelah semua itu lewat. Aku, seorang diri, kini mengembara meniti hari yang datang dan pergi. Sudah dua tahun aku tak bertemu ayah, ibu dan Lek Nur. Aku tak tahu komentar mereka tentang tiang gantungan Saddam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Simpson, editor BBC News, menulis, "Tiang gantungan itu mengingatkan kita pada saat-saat dulu, abad 18-an, atau abad-abad sebelumnya, abad-abad kegelapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagiku kini tiang gantungan Saddam tidak penting lagi. Dia sudah mati. Tak ada yang bisa membawanya hidup sekali lagi untuk melawan sekali lagi. Yang bisa diharapkan adalah lahirnya penerus Saddam, yang hidup untuk melawan, yang mewarisi kegagahan dan kelantangannya, minus kegilaan-kegilaan dan kesalahan langkah politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam adalah manusia. Dan seperti manusia yang lain, pernah melewati masa-masa gelapnya. Tapi lepas dari itu semua, dia adalah simbol perlawanan hegemoni yang patut diingat. Dan aku, Saddam, akan tetap mengingatmu sebagai simbol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupmu mengingatkan aku bahwa manusia, siapapun dia, akan pernah melakukan kesalahan dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi matimu selalu akan mengingatkan aku bahwa lelaki sejati tidak akan pernah tunduk pada apapun, pada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka biarkan aku sekali lagi mendendangkan puisi sunyi Rendra ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sangkar besi&lt;br /&gt;takkan merubah rajawali&lt;br /&gt;menjadi seekor burung merpati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 2 Januari 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116770466429032892?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116770466429032892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116770466429032892' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116770466429032892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116770466429032892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2007/01/saddam-i-sangkar-besi-takkan-merubah.html' title='Saddam'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116741359449848789</id><published>2006-12-29T19:32:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:37:16.649+02:00</updated><title type='text'>Badui</title><content type='html'>Aku keluar rumah tadi malam, memasuki badai. Anung tidak enak badan, dan aku harus membeli obat untuknya, sebagai seorang kawan yang baik. Dingin benar malam itu. Suhu yang rendah dan angin yang melabrak-labrak. Dan aku yang harus menggigit gigiku sendiri agar tak terlalu menggigil. Lalu sebuah sekuel:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang Badui menyalakan sebuah api unggun kecil di pinggir jalan, dekat halte bus Gami', mencoba melawan dingin sambil menjaga sekawanan domba mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cut!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tidak ada yang salah? Bukannya adegan semacam itu hanya ada di pinggiran sahara, tepi gurun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang Badui, sebuah api unggun, sekawanan domba, suhu yang rendah dan angin yang menampar-nampar, memberiku perasaan bahwa aku kini berada di sebuah tempat yang tak bisa dijamah tangan kemoderenan, sebuah tempat di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya-tanya dalam hati, sambil menggigil, "Apakah orang Badui itu mengenal Santiago? Apa mereka berdua tahu bahwa salah seorang sesepuh mereka bukanlah penyihir tapi alkemis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku makin menggigil. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Action!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan perjalanan, menuju sebuah apotek di dekat halte--juga dekat sekawanan domba yang sedang beristirahat. Kulirik dua orang Badui itu: mereka kini menyedu sepoci teh. Lalu seorang dari mereka mulai melantunkan lagi padang pasir yang keras,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"In rumta ila syarafin maruum!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fala taqna' bima dunan nuguum!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yang satu melanjutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Fa tho'mul maut fi amrin haqiir&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ka tho'mil mauti fi amrin 'adhiim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Aku mempercepat langkahku, seakan mengejar sebuah ingatan. Seperti aku pernah mendengar syair itu. Tapi ini berbeda: pemiliknya sendirilah yang mengucapkan syair itu. Dengan nadanya, dengan logatnya, dengan iramanya, dengan suasana mistisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menghilang, mencoba menelusup ke dalam sebuah kesadaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kalau kau hendak mengejar mulia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Takkan puas kau pada selain gemintang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rasanya mati demi perkara sepele&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seperti rasanya mati demi urusan agung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka, mari kita habiskan teh kita malam ini! Dua hari lagi kita takkan bisa membawa pulang domba-domba ini utuh," kata si Badui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, akan ada yang mati," jawab si Badui yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi urusan agung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi pengorbanan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak seperti kita," kata si Badui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak seperti kita, jawab yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak seperti kita," bisikku pada rembulan yang ngumpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 29 Desember 2006.&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Adha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116741359449848789?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116741359449848789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116741359449848789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116741359449848789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116741359449848789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/badui-aku-keluar-rumah-tadi-malam.html' title='Badui'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116693051641115385</id><published>2006-12-24T05:19:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:38:19.161+02:00</updated><title type='text'>Lalu Aku Pun Memikirkan Ujian</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humam minta cd Windows Xp-nya dikembalikan. Maka aku, dengan pertimbangan malam hari harus belajar, berangkat sore-sore. Pengennya, sebentar saja di rumahnya. Tapi, sebelum berangkat pun, aku sudah bisa menebak, aku akan lama-lama di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebakanku jitu. Begitu sampai di rumah Humam, Noris ngajak jalan-jalan nonton basket di lapangan belakang Thiba Mall di kawasan Rob'ah. Humam sebetulnya juga ke sana, tapi dia berangkat duluan, dan tidak mau Noris ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah. Aku dan Noris berangkat. Dan karena tidak ada jalur angkutan yang langsung dari Sabi'  yang melewati Thiba Mall, ambil enaknya, naik taksi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Thiba Mall, baru bingung. Ternyata, lapangan basketnya tidak persis di belakang Mall. Muter-muter sebentar. Kutelpon Humam, tanya lokasi lapangan. Dijawab, "Noris gak usah ikut!" Noris menelpon Dede, pacarnya. Dijawab, "Gw juga gak tau, Say. Gw berangkat ama temen-temen. Tiba-tiba aja dah ada di dalam lapangan. Duh, gimana, dong. Gw jadi ikutan bingung, nih. Lo nyari tau ke yang laen, dong! Cepetan! Gw tunggu, yah! Miss U!" (Tahu isi percakapan dari mana, Dif? Udah, baca saja. Nggak usah protes, deh!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana, dong, Om?" Rengek Noris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah. Mau gimana lagi? Kita pulang aja. Kan nanti jam enam ada kursus bahasa Perancis," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah! Kita pulang!" jawab Noris terlalu tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adek maunya gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nonton basket!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau nonton basket apa mau ketemu Dede?" godaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om diem, ah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu, pipinya kok jadi merah-merah gitu, Jack?" lanjutku menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om, aaaaaaaah!" Perutku hampir kena ditonjok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo, Om tahu sekarang. Pantesan rapi banget," kataku tak mau berhenti menggoda. Kali ini perutku benar-benar kena dia tonjok. "Om gitu lagi adek pulang sendirian gak mau diantar. Biar dimarahin Ummi," kata Noris coba mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah, ya udah. Santai dong, Jack," kataku pura-pura merasa terancam. "Kita muter-muter lagi, deh. Tapi ntar kalo gak ketemu, kita pulang aja. Gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya deh," jawab Noris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah berkeliling dan lapangan basket tidak ketemu, sebelum aku bilang "Ayo pulang", dengan sigap Noris berkata, "Om, kita ke Genena aja, yuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Busyet&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah. "Naik apa kita?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Naik taksi, laaah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jalan kaki aja, yuk!" ajakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah! Kita jalan kaki!" jawab Noris terlalu tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah, kita naik taksi," kataku menyerah. Noris: "Hehe.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di depan Genena adzan mahrib berkumandang. Aku pura-pura tidak dengar. Masuk, dan Noris langsung menunjukkan jarinya ke arah restoran masakan siap saji McDonald's.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat antri pesan makanan, aku baru sadar bahwa ini malam Jum'at. Saat di mana seharusnya kaum muslim lebih banyak memikirkan amal ibadahnya. Saat di mana nyatanya masyarakat Mesir menghabiskan waktunya di mall-mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan daripada antri lama, aku pun bilang ke Noris, "Adek, kita salat mahrib dulu, yuk!" Noris mau. Kami berdua berjalan menuju masjid Fatima Zahra, yang berada tepat di samping Genena Mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dua baris yang salat berjama'ah. Aku gamang. Orang lebih suka antri daripada bersepi-sepi. Dan selesai salat, selesai pula kegamanganku. Setelah menunggu Noris selesai salat sunnah ba'diyyah dua rekaat, kami pun buru-buru kembali ke Genena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepetan, Om! Ntar kita nggak dapet tempat duduk, loh! Adek nggak suka duduk di kursi bar. Tinggi banget, sih. Udah gitu, diliatin orang melulu deh kalo duduk di situ. Gak tau kenapa. Ayoooo!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayoooh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noris pesan Big Mac Chicken. Aku Spicy Chicken Nugget. Minta yang medium combo. Tidak pernah habis kalau pesan yang large.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar malam Jum'at di sini. Sesak. Kami berdua kebagian tempat duduk di bar. Noris menggerutu. "Tuh, lihat, Om. Adek dilihatin terus deh ama orang-orang. Gak enak banget."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menimpali, "Santai aja, Jack. Om juga dilihatin, kok. Kita berdua kan macho. Biarlah mereka terpana. Kita makan aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noris ketawa. Dan gerutuannya hilang. Kami berdua akhirnya bisa menikmati makanan. Habis tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hp-ku berdering. Telpon masuk dari Mbak Nur. Kulihat jam. 18.25. Lewat 25 menit dari jadwal kursus Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepetan, Jack. Kita pulang. Om Benny udah datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengennya aku cuma mengantar Noris pulang. Sampai di rumahnya, aku langsung cabut ke rumah. Belajar. Tapi dompetku kena disita Noris. Dan Noris janji, dia akan mengembalikannya saat kursus selesai. Aku tahu dia bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka sedang kursus bahasa Perancis, aku yang hanya tertarik setengah-setengah, memutuskan untuk beranjak ke kamar Humam-Noris. Sendirian, kubuka-buka majalah yang ada: Teen Stuff edisi bulan, ah, lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baca artikel berjudul Nirvana. Tidak nyambung dengan judulnya, isi artikel tersebut malah memuat teori Big Bang dan mitos-mitos dunia tentang asal mula semesta. Mulai dari mitos asli negeri Cina, India, Yunani, Aztek, sampai Mesir Kuno. Lumayan, dapat tambahan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursus selesai dan, apa aku bilang, Noris tidak mau mengembalikan dompetku. "Om temenin adek maen Gunbound dulu," kilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om harus belajar, Jaaaack."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belajar di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om gak bawa bukuuuu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh, apa yang di tas om?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku," kataku lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi itu kan bukan buku pelajaran, Jaaaack."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan Om sendiri yang bilang, buku bacaan lebih penting daripada buku pelajaran!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Om kan juga harus mbaca buku yang nggak penting ituuu," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya temenin adek. Sampek adek ngantuk. Om boleh pulang kalo adek udah tidur. Kalo om pulang sebelum adek tidur, om gak boleh ke sini lagi. Nih dompetnya. Apa, gak ada isinya. Hahaha... Cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rubu'&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan nih anak. Masih bisa ketawa! Jelas dia tidak tahu betapa gawatnya kondisi yang sedang aku alami. Ujian tinggal tiga hari. Aku belum selesai membaca materi. Dan aku dipaksa untuk tidak belajar malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sebelas malam, Noris mulai mengantuk, pada akhirnya. Tapi dia tak juga tidur-tidur. Kami berdua nonton film di tv, ditemani sekantong besar popcorn bikinan sendiri. Noris tidur-tiduran. Matanya mulai tinggal sebaris. Tapi setiap ada bunyi tembakan, dia langsung bangun, melotot ke tv, dan, yang bikin aku lebih sebal, bertanya bagaimana jalan ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa, Om? Itu di mana? Terus yang baju merah itu mana? Kapalnya kok nggak bocor, yah? Yang satu meledak, kok yang satunya enggak, sih? Si itu, dia kok nggak kena-kena kalo ditembak, padahal yang lainnya sekali tembak pasti kena. Natalie Portman cantik, ya, Om!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Noris tertidur juga. Aku bangkit. Berkemas-kemas. Lalu berbisik ke telinga Noris, "Jack, Om pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukecup jidatnya. Dan Noris mengigau, "Iya. Makasih, ya, Om. Ambilin selimut dong, Om."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk kamar, mengambil selimut, kembali ke ruang tamu, menatanya agar menutupi seluruh badan Noris, mengecup jidatnya sekali lagi (sambil njitak, dan dibalas, "Sialan! Awas, lo!") dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah satu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menggigil di perempatan Sabi' menunggu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tramco&lt;/span&gt;, aku baru sadar bahwa ini akhir Desember. Dan sampai di rumah, aku langsung rebah. "Tidak! Aku harus belajar! Ilmu Jiwa belum aku baca! Aku harus belajar!" teriakku dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sebelumnya aku harus istirahat. Tidak baik belajar saat tubuh lelah," bisikku lembut, sambil cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Blek. Sek&lt;/span&gt;. Lampu mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 24 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116693051641115385?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116693051641115385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116693051641115385' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116693051641115385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116693051641115385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/lalu-aku-pun-memikirkan-ujian-i-humam.html' title='Lalu Aku Pun Memikirkan Ujian'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116671455173857389</id><published>2006-12-21T17:18:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:45:21.139+02:00</updated><title type='text'>Nonton Buku dan Sebuah Pertanyaan Hari Ini</title><content type='html'>Ada yang berbeda dalam buku Khitobah tahun ini. Tak sama dengan tahun sebelumnya. Teori-teorinya, aku rasakan, lebih ilmiah, dan, karenanya, lebih bisa diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, orang boleh menganggapku masih berpikiran kuno, pikiran abad duapuluh. Tapi, memang begitu kenyataannya. Postmodernisme dalam perjalanannya keliling dunia belum sempat mampir dalam kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku nikmati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu pertanyaan yang membikinku termanyun: "Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;semua &lt;/span&gt;buku yang memuat kritik Islam yang ditulis oleh seorang muslim sendiri, mereka setuju mengakui bahwa kebudayaan Islam hari ini amat terbelakang dalam segala bidang. Mengapa tak ada perubahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku baru bisa bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku mengunjungi sebuah blog milik seorang kawan yang memproklamirkan dirinya sebagai seorang humanis, kutemukan di sana sebuah artikel terpampang di urutan paling atas, memuat skrip wawancara Dr. Wafa Sultan dengan sebuah stasiun televisi Doha. Kawanku itu memberi judul artikelnya "Dialog Islam-Barat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tak boleh melukai keyakinan orang lain, mengapa cara penyampaian orang yang mengatakan hal itu justru dengan melukai keyakinan orang Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat bertemu dengan Nanang, dia bercerita, bahwa akhir-akhir ini dia sering nongkrong di belakang kampus, nonton buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlelap, tak jadi ke kampus, dan bangun jam empat sore. Sekali lagi sebuah pertanyaan: "Mengapa tak ada perubahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini aku tak mau hanya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 21 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116671455173857389?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116671455173857389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116671455173857389' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116671455173857389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116671455173857389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/nonton-buku-dan-sebuah-pertanyaan-hari.html' title='Nonton Buku dan Sebuah Pertanyaan Hari Ini'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116665490890587093</id><published>2006-12-21T00:40:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:45:55.611+02:00</updated><title type='text'>Percakapan Singkat Kodok dan Meong</title><content type='html'>"Tapi kini aku takut mati, Sayang," kata Kodok pada Meong. "Lihat, aku belum selesai membaca," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau takut mati karena belum selesai membaca, lalu, apa gunanya bacaanmu setelah kau mati?" sergap Meong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 21 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116665490890587093?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116665490890587093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116665490890587093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116665490890587093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116665490890587093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/percakapan-singkat-kodok-dan-meong.html' title='Percakapan Singkat Kodok dan Meong'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116663906206535764</id><published>2006-12-20T20:22:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:46:22.032+02:00</updated><title type='text'>Impuls</title><content type='html'>Banyak benar impuls-impuls yang masuk otak lewat jaring-jaring neuron yang saling berhubungan secara komplek itu. Sebanyak yang keluar lewat pintu belakang ingatan: lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang menarik soal "Sekolah Impian = Sekolah Eksklusif = Sekolah Unggulan" yang sempat aku baca di sebuah majalah terbitan SIC tahun 1997 saat aku bertandang ke rumah Hasenda kemarin (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentu saja&lt;/span&gt; setelah aku lelah bermain monopoli dengannya. Aku kalah. Hasenda curang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sih!&lt;/span&gt; Duitku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diumpetin! Huh!&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menarik soal penggunaan kata yang sama, untuk arti yang berbeda, atau hubungan-hubungan antar kata dalam bahasa Arab, Inggris, Indonesia dan Jawa, yang sambil lalu aku temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ingin meneliti (wah, terlalu berat) unsur-unsur revolusioner yang terkandung dalam risalah yang dibawa Muhammad. Juga tentang materi pelajaran Al-Azhar yang bagiku tidak objektif dalam memandang suatu persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menuliskan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi sebelumnya aku harus minum air putih dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menunggu Godfahter mengucapkan kata-katanya, "Sekarang kau sudah minum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 20 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116663906206535764?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116663906206535764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116663906206535764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116663906206535764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116663906206535764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/impuls-banyak-benar-impuls-impuls-yang.html' title='Impuls'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116639085738914007</id><published>2006-12-17T23:26:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:46:55.394+02:00</updated><title type='text'>Bikin Kegaduhan: Kejar-kejaran</title><content type='html'>"Semoga yang kutulis cukup pantas untuk memberi alasan mengapa aku harus mengutip sajak Sapardi di awal tulisan ini," katamu di akhir cerita. Dan karena kau juga bilang, "Selain sama-sama dikutuk untuk mencintai kata-kata, kita sama-sama dibayang-bayangi oleh dua kata; mati muda," maka aku pantas merasa bahwa kata-katamu itu tertuju padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku butuh do'a, karena dalam do'a, bukan hanya kata yang terucap, tapi juga jiwa yang berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Nang, masih ingatkah kau, saat kita di suatu malam berdiri berdua menahan kantuk di depan gedung fakultas kedokteran? Saat mereka ramai-ramai menganggap kita sepi, maka kita pun bikin kegaduhan dengan bermain kejar-kejaran. Ingat? Kau yang lari duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, terkadang aku merasa iri pada anak-anak itu, yang begitu bebas menari-nari lepas, melompat-lompat tangkas, kejar-kejaran, saling memukul mesra tak beringas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin kau ingat bahwa kita suatu saat pernah bermain kejar-kejaran. Maka kalau suatu saat aku menantangmu untuk sekali lagi bermain kejar-kejaran, kuharap kau menerimanya dengan semangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;balas menantang&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentu saja&lt;/span&gt;, kejar-kejaran itu bisa berubah wujud menjadi kejar-kejaran dalam bentuk yang lain. Kita sama-sama dikutuk untuk mencintai kata-kata, bukan? Maka mari kita (sekali lagi) bikin kegaduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 17 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116639085738914007?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116639085738914007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116639085738914007' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116639085738914007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116639085738914007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/bikin-kegaduhan-kejar-kejaran-semoga.html' title='Bikin Kegaduhan: Kejar-kejaran'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116638452741397620</id><published>2006-12-17T21:39:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:47:28.077+02:00</updated><title type='text'>Edisi Persiapan Ujian: Wedi-wedi Piye Ngono</title><content type='html'>Barusan aku ngobrol dengan seorang kawan (aduh, aduh, seorang kawan terus). Dan sebelum dia mengungkapkan perasaannya menghadapi ujian musim dingin ini, aku buru-buru bilang, "Aku takut tidak lulus, Gus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, selalu kau duluan yang bilang. Padahal kau tahu, aku lebih takut," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, siang tadi, aku juga sempat ngobrol dengan seorang kawan yang lain (wah, wah). Sebelum dia mulai duluan, aku dengan sigap bilang, "Us, doakan aku, ya! Materi ujiannya susah-susah. Tidak ada yang gampang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia menjawab, "Baiklah, aku doakan kau. Tapi kau juga doakan aku. Nanti kita lihat, doa siapa yang diterima Allah. Kalau aku tidak naik, kau berarti tidak beriman. Kalau kau naik, yah, aku memang gadis solehah, sih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, Uus. Mikirin ujian saja sudah menggelisahkan. Jangan kautambahi beban memikirkan kadar keimanan, lah. Siapa tahu aku ini wali? Kan penampilan tidak pernah memadai untuk dijadikan patokan penilaian isi hati, kan, iya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sebuah tempat nun jauh di sana, di pedalaman Indonesia sana, di pinggir Jawa Tengah sana, seorang ibu setengah baya mengancam anaknya, "Kalau kau tidak memperbaiki nilai-nilaimu, Dif, baiklah, aku juga tidak akan memperbaiki kondisi saldo rekeningmu yang, apa bahasa Inggrisnya? Abominable? Horrible?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 17 Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Wedi-wedi piye ngono: a condition or situation between &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khouf &lt;/span&gt;and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;roja'&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116638452741397620?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116638452741397620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116638452741397620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116638452741397620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116638452741397620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/edisi-persiapan-ujian-wedi-wedi-piye.html' title='Edisi Persiapan Ujian: Wedi-wedi Piye Ngono'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116634185770511219</id><published>2006-12-17T09:50:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:48:28.802+02:00</updated><title type='text'>Nanti-nanti Saja</title><content type='html'>Aku membayangkan pertemuan selanjutnya denganmu, N-Yang-Baik. Coba, kaubayangkan bagaimana pertemuan kita nanti? Tapi, ah, ini suasana ujian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tentu &lt;/span&gt;kau sibuk sekarang, mencoba sebisa mungkin memahami teks-teks dengan huruf tak jelas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jadi, ah, aku membicarakan pertemuan kita selanjutnya. Nanti-nanti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berjam-jam aku berada di depan monitor. Lebih baik aku mengerjakan hal yang lain. Mandi? Mungkin. Udara di sini makin dingin, ya, N-Yang-Jahat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 17 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116634185770511219?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116634185770511219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116634185770511219' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116634185770511219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116634185770511219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/nanti-nanti-saja-aku-membayangkan.html' title='Nanti-nanti Saja'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116633994769267322</id><published>2006-12-17T09:15:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:49:05.613+02:00</updated><title type='text'>Doakan Amin</title><content type='html'>Kemarin, Sabtu 16/12/2006, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Jakfar Stifler&lt;/span&gt;, salah satu sesepuh dalam keluarga kami (dia ke Kairo sebelas tahun yang lalu), berangkat haji. Menurut rencana, rombongan haji akan berangkat pagi jam enam. Jadi, kalau tidak mau ketinggalan, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt; tidak boleh tidur (karena kalau terlena sedetik saja menidurkan diri, bangun ya jam 12 siang. Itu paling pagi). Dan kami pun, keluarga Stifler yang lain, yang hendak mengantar Amin berangkat (seharian Amin nangis minta diantar), juga tak boleh tidur malam sebelum keberangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun melakukan segala sesuatu asal tidak tidur. Tapi ternyata aku terlena sendiri. SMS dari N H melemahkan hatiku: dia tak jadi datang untuk mengantar titipan yang akan dibawa Amin. Ya sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt; pun berangkat tanpa aku antar (betapa sedih dan perihnya hati &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku bangun, Amin sudah berada di atas kapal laut yang bertolak dari Port Said sana. Dan aku, yang kuatir atas keselamatan barang titipanku, memohon pada para pembaca, untuk mendoakan keselamatan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt;, sang pembawa titipanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukannya aku tidak tulus memohon doa. Aku bahkan juga memohon doa untuk yang kedua kalinya: tolong doakan, semoga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler &lt;/span&gt;tidak dikaplok malaikat di Tanah Suci sana. Aduh, teringat aku akan besarnya dosa-dosa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hik hik hik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa yang ketiga, semoga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt; bisa pulang ke Kairo dengan menyandang predikat dari Allah sebagai haji mabrur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan definisi mabrur itu adalah: bawa krupuk yang banyak. Bawa sepatu dan tas baru untukku. Bawa kamera digital baru untuk &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan-jalan Jum'at Keluarga Stifler&lt;/span&gt;. Bawa dollar yang banyak buat beli parabola dan tv. Bawa rokok Indonesia yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mabrur, mabrur, mabrur. Amin, amin, amin, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Stifler&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 17 Desember 2006&lt;br /&gt;NB: Oya, dia bohong besar saat dia bilang kalau saya ngiler saat tidur. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Enak aja&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116633994769267322?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116633994769267322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116633994769267322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116633994769267322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116633994769267322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/doakan-amin-kemarin-sabtu-16122006.html' title='Doakan Amin'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116633770429015220</id><published>2006-12-17T08:39:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:49:37.890+02:00</updated><title type='text'>Anjing Muhammad, Anjing Ahmad, dan Anjing Nancy</title><content type='html'>Ada sebuah cerita lucu, yang aku dengar dari seorang kawan (aduh, selalu saja orang lain yang disalah-salahkan), tentang Nancy Agram, si penyanyi pop Arab terkenal asal Lebanon itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat dia diwawancarai oleh seorang wartawan. Dan Nancy bercerita, "Gue punya dua anjing lucu banget. Gedhe-gedhe dan imut. Yang satu gue kasih nama Muhammad. Yang satu lagi Ahmad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si wartawan, dengan ekspresi yang tak bisa aku bayangkan bagaimana, bertanya, "Kenapa mbak Nancy kasih nama dua anjing Mbak dengan Muhammad dan Ahmad?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abis, gue sayang banget ama mereka sih!" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O, begitu. Saya juga punya anjing, Mbak," kata si wartawan. Lanjutnya, "Anjing itu saya beri nama Nancy Agram. Abis, si anjing telanjang melulu sih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya: Siapa yang lebih berhak marah, umat Islam kepada Nancy atau Nancy Agram kepada si wartawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 17 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116633770429015220?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116633770429015220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116633770429015220' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116633770429015220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116633770429015220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/anjing-muhammad-anjing-ahmad-dan.html' title='Anjing Muhammad, Anjing Ahmad, dan Anjing Nancy'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116620657367166764</id><published>2006-12-15T20:15:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:50:34.221+02:00</updated><title type='text'>Sebenarnya Aku Tidak Ingin</title><content type='html'>Saat yang aku tunggu datang juga; akhirnya ada orang yang mengeluhkan sikap lakuku dengan semangat tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku punya kesempatan untuk berargumentasi, memaparkan pertimbangan-pertimbangan, risiko-risiko, kesakitan-kesakitan yang potensial. Maka aku punya kesempatan untuk menyatakan dengan lisan, ekspresi bahasa yang paling dimengerti, bahwa aku, melakukan ini semua, bukan dengan tanpa sayatan di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku merintih, Nu. Aku menusuk-nusuk jantungku sendiri. Aku menjerit. Tapi mengapa aku tetap melakukannya? Inilah harga yang harus aku bayar, untuk sebuah perubahan, untuk sebuah keseriusan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Usahaku bukannya tanpa efek samping. Aku tahu itu. Dan aku bersedia mengambil efek samping itu. Biar kutelan mentah-mentah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kami saling meminta maaf. Tapi itu tidak penting. Yang penting: pada akhirnya ada orang yang terang-terangan mau mencoba untuk mengerti kegelisahan dan kebelingsatanku. Maka untuk itu, aku menghargaimu, Nu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau harus tahu, sebenarnya aku tidak ingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 15 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116620657367166764?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116620657367166764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116620657367166764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116620657367166764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116620657367166764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/sebenarnya-aku-tidak-ingin-saat-yang.html' title='Sebenarnya Aku Tidak Ingin'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116620557155816697</id><published>2006-12-15T19:57:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:55:12.777+02:00</updated><title type='text'>Ucapan Perpisahan</title><content type='html'>Ucapan perpisahan siang itu adalah: "Tunggu aku pulang. Jangan mati dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at, 15 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116620557155816697?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116620557155816697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116620557155816697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116620557155816697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116620557155816697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/ucapan-perpisahan-ucapan-perpisahan.html' title='Ucapan Perpisahan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116611998392707276</id><published>2006-12-14T20:10:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:55:44.157+02:00</updated><title type='text'>Tidak Belajar Itu Gaya</title><content type='html'>Barusan, saat aku enak-enakan baca Moses Maimonides, aku ditegur oleh Anung, kawan serumahku. Katanya, "Belajar, Dif. Gaya gitu, filsafat, gak belajar." Aku hanya mampu menjawab dengan sebuah cengiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kulirik rak buku besar di samping ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada buku-buku diktat tertumpuk (kalau buku bacaan, terjejer) di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa harus melakukan sesuatu dengan buku-buku itu. Tapi sebelumnya, aku juga merasa perlu untuk bermain Needforspeed dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku pun beranjak menuju laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak belajar itu gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 14 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116611998392707276?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116611998392707276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116611998392707276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116611998392707276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116611998392707276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/tidak-belajar-itu-gaya-barusan-saat.html' title='Tidak Belajar Itu Gaya'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116611047572904679</id><published>2006-12-14T17:32:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:56:09.179+02:00</updated><title type='text'>Janji Mati</title><content type='html'>Aku sedikit menyesal telah memberitahu ustad Hamzah bahwa aku akan mati muda. "Aku akan mati umur 25, Ustad," kataku padanya. Saat itu aku berumur 16 tahun. Dan aku memperkirakan, pada umur 25 tugas-tugasku sebagai manusia akan rampung sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, setelah umurku 21 dan aku hidup di 'tempat yang jauh', perkiraan itu jadi tampak sangat konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku pun merubah rencana, mati kuundur, nanti saja di umur 35. Sepertinya masuk akal untuk mengalokasikan waktu 14 tahun untuk memahat monumenku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sial, ustad Hamzah tak tahu perubahan rencanaku. Maka dalam setiap kesempatan dia bisa menghubungiku, lewat sms, email atau salam, dia selalu mempertanyakan, "Kau masih hidup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, "Kapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nih &lt;/span&gt;mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kesempatan, "Tinggal 4 tahun lagi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dong."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati seakan-akan menjadi sebuah janjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku pun tergagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 14 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116611047572904679?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116611047572904679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116611047572904679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116611047572904679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116611047572904679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/janji-mati-aku-sedikit-menyesal-telah.html' title='Janji Mati'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116610505268655403</id><published>2006-12-14T16:01:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:59:09.635+02:00</updated><title type='text'>Sebuah Awal Cerita, yang Belum Lekas Ingin Aku Selesaikan</title><content type='html'>NH, aku ingin bercerita padamu. Aku tidak berharap kau akan menikmati ceritaku, karena cerita yang akan kututurkan bukanlah cerita istimewa. Bagaimanapun, inilah ceritaku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa, hiduplah seorang pemuda tanpa nama, yang tampan. Seperti pemuda-pemuda yang lain, ia memiliki impian-impian tentang masa depan. Seperti pemuda-pemuda yang lain, ia memiliki harapan. Dan seperti pemuda-pemuda yang lain, ia pun memiliki kekurangan. Ia memiliki bisul di bokongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, pemuda tampan itu nongkrong di Fosgama. Ia tak tenang dalam duduknya--bisulnya meraung-raung. Ketidaktenangan dirinya itu menjadi-jadi saat tiba-tiba ia melihat seorang gadis berwajah bidadari dengan pakaian bidadari--rok putih berenda yang menambah kecantikannya--muncul entah dari mana dan berkata merdu pada seseorang, "Kak, aku pulang dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamitnya tidak ia tujukan pada sang pemuda tampan. Tapi sang pemuda tampan--yang sama seperti pemuda-pemuda yang lain itu--merasa hari itu adalah hari istimewa, karena ia bertemu dengan seorang bidadari yang sedang berdendang merdu walau bukan untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda tampan tanpa nama itu, sampai hari ini, tetap menjaga ingatan tentang hari tersebut sebagai suatu hari yang indah, karena ia telah bertemu dengan seorang bidadari yang indah, dengan wajah yang indah dan gaun yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu pun memupuk mimpi untuk memiliki sang bidadari. Sampai hari ini. Sampai ia menulis surat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NH, aku tidak bisa melanjutkan cerita ini. Maka aku berharap kau bisa melanjutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutunggu lanjutan cerita ini darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian, NH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116610505268655403?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116610505268655403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116610505268655403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116610505268655403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116610505268655403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/sebuah-awal-cerita-yang-belum-lekas.html' title='Sebuah Awal Cerita, yang Belum Lekas Ingin Aku Selesaikan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116604497940709971</id><published>2006-12-13T23:21:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:59:51.535+02:00</updated><title type='text'>Menyesuaikan Diri</title><content type='html'>Kejadian ini sudah lama berlalu, memang. Tapi aku masih tak bisa menemukan jawaban mengapa hal ini bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu musim dingin awal tahun 2005. Ada International Bookfair di Ma'rad. Aku ke sana, menelusuri stand-stand penjual buku loak (mengapa aku lebih suka dengan aroma kertas loakan daripada aroma kertas baru, itu pertanyaan lain yang tak hendak kupikirkan jawabannya sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kukira sebelumnya, aku bertemu dengan seorang tua berperawakan bule, berkacamata dan berkepala botak. Dia pun, sama denganku, melihat-lihat buku loak, lalu bertanya pada si penjual dengan bahasa Arab yang bagus, "Berapa harga buku ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si penjual menjawab dalam bahasa Inggris dengan logat yang menggelikan, "One pound and half." (baca: wan baon en haalb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bule tidak bereaksi aneh, tapi aku tidak punya kearifan yang dimilikinya, hingga tak bisa menyembunyikan geliku mendengar bahasa Inggris logat Mesir. Ada suatu hal yang lebih dalam daripada sekadar tanya-jawab di sana. Aku menangkap sebuah bentuk karikatural interaksi antar budaya, yang berbeda, jauh berbeda. Beda ruang, beda waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat perkataan seorang kawan, bahwa kita tidak hanya bisa melakukan perjalanan menempuh jarak tempat, bahwa kita ternyata juga bisa melakukan perjalanan menempuh jarak waktu. Katanya memberi contoh, "Dari Perancis, ke sini, paling jaraknya ..... kilo. Tapi dalam ..... kilo itu, kau menempuh jarak waktu berabad-abad, Kawan. Mundur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ketawa mendengar lelucon kawanku itu. Tawa kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Bookfair, si bule itu ternyata seorang professor bahasa Arab di sebuah universitas Australia. Aku mengajaknya bicara, seperti si penjual tadi, dalam bahasa Inggris (kali ini logat Rembang). Dan si professor selalu menjawab dalam bahasa Arab yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fusha, &lt;/span&gt;bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir cerita kami berdua, aku dan si professor, berpisah. Dan karena kami janjian ketemu di hotelnya di kawasan Attaba, untuk memudahkan aku mencari tempatnya, aku pun minta nomor handphone-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kusangka, ia menjawab, "Aku tidak bawa hp ke sini. Seorang pendatang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ini negara Arab, maka tak kubawa handphone-ku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 13 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116604497940709971?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116604497940709971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116604497940709971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116604497940709971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116604497940709971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/menyesuaikan-diri-kejadian-ini-sudah.html' title='Menyesuaikan Diri'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116588441112287337</id><published>2006-12-12T02:45:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:00:33.189+02:00</updated><title type='text'>Sekali Lagi Syubra Khaima (Barisan Tak Kusangka)</title><content type='html'>Tak kusangka aku akan berada di Syubra Khaima lagi secepat ini. Kali ini bukan untuk menikmati goyangan Metro sambil baca buku (juga sambil menghayal menikmati goyangan blablabla..). Tapi aku, Anung dan Amin ke Syubra Khaima untuk shopping (busyet!) kristal di Asfour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusangka, di sebuah kawasan sebiasa ini, se-tak-begitu ini, ada sebuah pusat belanja perhiasan kristal yang (bagaimana aku mengatakannya?) modern. Begitu memasuki showroom, kita akan menyaksikan pertunjukan mewah penataan indah bermacam-macam perhiasan yang berbahan pokok kristal. Dan aku kembang-kempis, sebagaimana keadaan dompetku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak kusangka pula, di antara keindahan bermacam perhiasan kristal yang rapi tertata itu, aku bertemu dengan keindahan yang melebihi semuanya: NH. Dan aku kembang-kempis, kali ini lebih dahsyat daripada keadaan dompetku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sumpah, aku tidak sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngibul&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pula sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggombal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya: "Sedang melakukan sesuatu dengan tulus dan niat baik." Lalu akan kuberikan sepucuk mawar merah itu padanya... suatu hari nanti... di saat yang tepat, di saat semuanya bisa menerima dengan senyuman, di saat rembulan purnama di atas aliran sungai Nil yang meliuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116588441112287337?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116588441112287337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116588441112287337' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116588441112287337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116588441112287337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/sekali-lagi-syubra-khaima-barisan-tak.html' title='Sekali Lagi Syubra Khaima (Barisan Tak Kusangka)'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116587869764465244</id><published>2006-12-12T01:10:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:01:26.988+02:00</updated><title type='text'>Jalan Tempuh</title><content type='html'>"Aku merasa, terkadang kekejian bisa jadi merupakan jalan menuju kebaikan," kata Muhammad Mahzanji (atau, bagaimana sih cara bacanya?) pada Ahmad Ali Fadhil. Itu dia ucapkan setelah lelah berjalan menyusuri Port Said dan Ismailiyyah, dua kota yang takkan pernah ada dalam peta Mesir seandainya tidak ada Terusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ahmad Fadhil pun menjawab, setelah memandangi aliran Terusan yang tenang melalui jendela kantornya, "Ya. Terkadang kekejian merupakan bala tentara kebaikan, bagaimanapun juga. Saya tentara, tahu benar akan hal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di situlah politik memainkan perannya yang paling besar. Seorang kawanku, Nanang yang baik (O, jadi ada Nanang yang jahat, dan bukan kawanmu?), mengistilahkan hal itu sebagai "wilayah abu-abu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian makalahnya yang lain, yang dimuat Al-Araby edisi Desember ini, Muhammad Mahzanji (atau apalah namanya) bertanya(-tanya) entah pada siapa, "Mengapa dalam membikin mukjizat, manusia sering melewati jalan tempuh pengkorbanan manusia lain? Jalan darah, jalan air mata, jalan nyawa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun teringat pada mukjizat bikinan manusia yang lain: Taj Mahal, Piramid, Jalan Raya Pos Daendels (O, apa yang satu ini termasuk mukjizat? Ya. Jalan raya ini, pada jamannya, bisa disejajarkan dengan Autobahn di Jerman)....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pertanyaan Mahzanji, aku tak punya jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku punya alasan untuk merasa ngeri dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenyataan&lt;/span&gt; bahwa kekejian terkadang bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Aku teringat Afganistan dan Irak. Bagaimana kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenyataan&lt;/span&gt; itu kita baca dengan cara begini: "Kekejian (pada orang lain) bisa menjadi jalan menuju kebaikan (bagi diri kita sendiri)"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116587869764465244?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116587869764465244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116587869764465244' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116587869764465244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116587869764465244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/jalan-tempuh-aku-merasa-terkadang.html' title='Jalan Tempuh'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116553070266868056</id><published>2006-12-08T00:30:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:02:05.373+02:00</updated><title type='text'>KSMB Tak punya Buntut</title><content type='html'>Jauh dari perkiraan kawan-kawan, cerita pendek Ke Spanyol Mereka Berpakansi tidak memiliki buntut. Tidak ada panggilan. Tidak ada tanggapan (O, kata seorang kawanku, Bu Diana menanggapinya dengan 'kepala dingin'). Sepi-sepi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentram-tentram saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak ada yang tahu sebabnya: apa karena ini merupakan penegakan demokrasi dan kebebasan berekspresi, atau karena mereka yang dicubit tidak merasa sakit (mati rasa), atau karena malas-malasan karena menganggap soal ini tidak ada pengaruhnya dengan kenyamanan mereka, atau karena mereka, yang coba dicubit itu, terlalu cerdas hingga tak gegabah untuk sekadar kebakaran jenggot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apapun alasannya, aku tetap mengeluh: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak jadi terkenal di seantero Masisir deh gue&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Desember 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116553070266868056?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116553070266868056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116553070266868056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116553070266868056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116553070266868056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/ksmb-tak-punya-buntut-jauh-dari.html' title='KSMB Tak punya Buntut'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116553007869346740</id><published>2006-12-08T00:19:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:02:36.893+02:00</updated><title type='text'>Beda</title><content type='html'>Apa bedanya Yahya Zaeni dengan aktor film porno? Kalau aktor film porno, dia dibayar. Sedangkan Yahya Zaeni tidak. Jadi, jangan sembarangan menyama-nyamakan anggota DPR RI yang terhormat dengan seorang aktor film biru yang hina. Itulah beda antara skandal dan profesi: yang terhormat dan yang dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: uang bukanlah segala-galanya, N. Jadi, maukah kau menerima lamaranku yang sederhana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116553007869346740?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116553007869346740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116553007869346740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116553007869346740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116553007869346740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/beda-apa-bedanya-yahya-zaeni-dengan.html' title='Beda'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116545483746241283</id><published>2006-12-07T03:26:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:03:08.442+02:00</updated><title type='text'>Setengah Cangkir Kopi Malam Ini</title><content type='html'>Nanang suka sekali dengan berbagai macam jenis kopi. Maka kubayangkan malam ini aku ngopi dengannya di sebuah kafe di kawasan Hussein (atau Tahrir?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua asyik membicarakan apa yang telah terjadi, dan tiba-tiba Nanang berkata, "Yah, kopinya tinggal setengah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih setengah, Nang," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tinggal setengah," katanya ngotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih setengah," kataku tak menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bicara tentang yang sudah berlalu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bicara soal yang masih tersisa," ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kopi itu tidak akan bertambah. Hanya akan berkurang," katanya ngotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kopi itu masih ada sisanya," kataku tak mau menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Layar pertunjukan malam ini pun tertutup].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116545483746241283?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116545483746241283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116545483746241283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116545483746241283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116545483746241283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/setengah-cangkir-kopi-malam-ini-nanang.html' title='Setengah Cangkir Kopi Malam Ini'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116543528119038028</id><published>2006-12-06T21:58:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:03:46.919+02:00</updated><title type='text'>Kata Adalah Senjata</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau yang Kuingat dari Hari Kamis; Bagian Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu menyeberang jalan (sebetulnya tidak persis menyeberang jalan, tapi menelusuri lorong di bawah jalan) menuju Hussein. Ada mesjid tua di sana. Dan taman kecil di halaman depannya. Dan kafe-kafe di sampingnya. Dan penjaga-penjaga toko suvenir yang sibuk menawarkan dagangannya. Dan turis-turis dari manca negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertemu gadis Malaysia yang ramah. Ia kaget bertemu dengan banyak orang Asia di sini. Ia tak tahu ada banyak mahasiswa Al-Azhar asal Asia berkeliaran di kawasan bersejarah ini. Kami, tepatnya Anung, Amin dan Idris, ngobrol agak lama dengannya. Aku hanya mempermainkan kamera yang dibawa Anung, mencuri-curi pemandangan yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami bertemu dengan sepasang turis asal Spanyol. Anung, Amin dan Idris ngobrol dengan si gadis tentang Barcelona, Real Madrid, Valencia, Villa Real, dan semacamnya. Aku, yang ditinggal sendirian dengan si cowok, tak tahu harus ngomong apa. Tapi begitu saja aku lantas bertanya padanya, dalam bahasa Inggris yang nyaris pas-pasan, "Kau tentu tahu Basque (baca: Basque), Senor?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Basque? Aku tidak tahu. Yang aku tahu Basque (baca: Bas)," katanya berniat menggurauiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, ya, Basque (kini aku tahu bagaimana Basque diucapkan), tentu saja," kataku sambil cengar-cengir (sambil garuk-garuk kepala kali!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka orang-orang jahat. Membunuh di mana-mana. Memantik bom di mana-mana. Menghamili anak orang seenaknya," tiba-tiba berkata si cowok Spanyol itu. Kedua matanya berputar-putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka teroris?" tanyaku pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, semacam teroris. Semacam orang-orang Palestina, boleh kaubilang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik itu waktu seakan berhenti. Pergerakan berhenti. Semuanya hening. Orang-orang yang berjalan, yang sempat tertangkap mataku, seperti patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik berikutnya pecah: "Tapi, barusan Perdana Menteri NEGARA Palestina berkunjung ke mesjid Azhar. Aku bertemu dengannya, dan aku mencium bokongnya!" kataku berbohong di depan hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan muka pemuda (aku lupa tadi tak memberitahu kalau ia masih muda) Spanyol itu akan merah dan berkerut, lalu pergi dengan hati dongkol. Tapi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia malah terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"That is proverb, isn't it? Not really what you mean, eh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No. That's exactly what I mean! I suck his ass!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, you are a terrorist like him."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am, too," katanya. "Tapi aku tidak percaya kamu teroris. Tampangmu, lebih mirip mahasiswa Al-Azhar yang saleh," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alright, alright. Be honest, I am not terrorist. But tourist. Masak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lo &lt;/span&gt;juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nganggap gue gak &lt;/span&gt;pantas jadi turis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sih? &lt;/span&gt;Apa bedanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lo &lt;/span&gt;sama penjaga pintu gerbang mesjid?" kataku jengkel karena tak dianggap turis sepertinya. "Look, aku bawa kamera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia makin terpingkal-pingkal. Dan aku makin jengkel. Kukeluarkan saja bukuku, Kata Adalah Senjata, sebuah kumpulan tulisan-tulisan Subcomandante Marcos, dari tas dan kutunjukkan ke mukanya. "Look, I am a terrorist, or, if you like, call me a tourist," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terkejut, dan mulai tak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wow, kau kenal Sub," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Of course I know," kataku bangga, sambil memasukkan buku itu cepat-cepat ke dalam tas, sesaat sebelum tangannya menyambar buku itu dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami pun berpisah baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tak tahu berapa persen dari tulisanku ini yang merupakan hayalanku semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116543528119038028?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116543528119038028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116543528119038028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116543528119038028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116543528119038028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/kata-adalah-senjata-atau-yang-kuingat.html' title='Kata Adalah Senjata'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116541363723574537</id><published>2006-12-06T15:53:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:04:21.708+02:00</updated><title type='text'>Perjalanan Hari Selasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jam tujuh pagi, aku sudah mandi. Berpakaian rapi, dan mempersiapkan buku pelajaran hari ini (sejarah filsafat Yunani, Logika Modern dan Retorika; dua yang pertama aku suka, jadi rencananya aku hanya ikut dua pelajaran pertama). Berangkat, dan sialan! Sampai di halte aku baru sadar bahwa aku tak punya uang. Lalu? Ku rogoh semua saku, dan kudapatkan recehan 25 piasters dua lembar, dan 50 piasters selembar. Sebenarnya cukup untuk ongkos pulang pergi ke kampus. Tapi kan aku belum sarapan. Rokok juga habis. Jadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku naik bus kota 939, turun di halte rumah sakit Nasr di Rob'ah, ambil kartu atm di dompet, gesek di mesin atm yang ada di sekitar halte, dan ambil uang secukupnya (padahal saldo kuhabisi dan tak cukup-cukup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Lalu aku berubah pikiran. Sejarah filsafat Yunani tinggal baca bukunya, Logika Modern bisa aku pelajari sendiri, Retorika jadi makin memuakkan. Jarak ke kampus jadi makin jauh, dan bayangan kawasan Ramsis menari-nari di otakku. Goyangan Metro selagi jalan menggoda imanku. Aku membayangkan betapa asyiknya duduk di dalamnya sambil membaca buku Kata Adalah Senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah minibus jurusan Ramsis datang dan aku langsung naik. Sampai di sana, aku sempatkan diri untuk sarapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kusyari. &lt;/span&gt;Turun ke terminal subway, beli tiket, dan duduk menunggu Metro datang. Sambil menunggu aku buka bukuku: Kisah Seuntai Awan Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro datang dan tak ada tempat duduk yang kosong. Kuteruskan membaca: Mengolah Roti Bernama Hari Esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro datang dan ada tempat duduk kosong. Aku naik dan mulai membaca: Malam Hari Milik Kita. Metro berangkat dan aku mulai menikmati goyangannya yang mistis, juga suaranya yang berdebum, yang sedikit aku redakan dengan suara musik yang datang dari Sandisk-ku. Jurusan: Syubra Khaima. Setelah aku selesai membaca judul terakhir buku Kata Adalah Senjata, "Buku, Jembatan dan Kata", dan memasukkan buku ke dalam tas, aku mulai membayangkan apa yang hendak aku lakukan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata seorang kawanku (juga kata seorang kawanku yang lain), semua gadis di Syubra Khaima adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syarmutha, &lt;/span&gt;pelacur. Yang pertama akan aku lakukan adalah mencari salah satunya. Lalu, apa yang hendak kau lakukan dengan salah satu pelacur itu? Hm, ngapain, ya? Make a conversation, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tentu saja &lt;/span&gt;(kucetak miring, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengenang seorang kawan baik&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? O, aku tak berharap bertemu seorang gadis blackhole. Itu hanya ada dalam cerita. Ini dunia nyata. Jadi? Jadi aku tak membayangkan bersamanya ngobrol soal Tuhan. Dalam dunia nyata, bersama seorang pelacur, kita akan ngobrol soal harga dan tempik (disensor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak, yah?&lt;/span&gt;). Di Metro, aku jadi merinding. Aku kan tidak pernah bertemu seorang pelacur dalam dunia nyata! (O, kata siapa?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bagaimana aku menemukan salah satu dari mereka? Kata seorang kawanku (juga kata seorang kawanku yang lainnya), semua sopir taksi di Syubra Khaima tahu di mana seseorang bisa menemukan salah satu dari mereka. Jadi, sampai di Syubra Khaima aku akan naik taksi dan menanyakan di mana aku bisa bertemu seorang pelacur. Dan aku makin merinding dalam Metro yang bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Akhirnya, Metro naik menuju permukaan (bagaimana aku menggambarkannya?). Lorong yang gelap (walau banyak lampu menyala) berganti dengan siang yang terang. Mataku sedikit silau dan pada detik itu, aku memutuskan untuk membatalkan niatku mencari seorang pelacur. Aku kan seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar. Tak boleh mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan seorang pelacur betulan. Jadi, apa yang bakal aku lakukan di Syubra Khaima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro berhenti. Stasiun terakhir. Syubra Khaima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turun dan mencoba merasakan perbedaan udara Syubra Khaima dengan Kairo (lho, bukannya Syubra Khaima masih termasuk Kairo?). Tidak kurasakan. Suhu dingin yang sama. Udara lembab yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar stasiun dan mencoba mencari tanda-tanda, sekecil apapun, keberadaan seorang pelacur. Melotot sini melotot sana. Tak berhasil. Yang kulihat biasa-biasa saja. Para lelaki yang sibuk. Wanita-wanita (dengan kerudung rapat) yang bergegas. Aku yang termangun tak tahu harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngapain&lt;/span&gt;. Akhirnya, aku berjalan mencari rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syubra Khaima. Kotanya tak begitu bersih. Bangunan-bangunannya tak begitu menjulang. Jalanannya tak begitu ramai. Taman yang berada di samping pasar di dekat stasiun tak begitu hijau. Mesjid yang kulihat tak begitu besar. Gadis-gadis yang kutemui di jalan tak begitu menggoda (beda banget dengan cerita seorang kawanku dan cerita seorang kawanku yang lain, sialan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kios penjual rokok tak begitu banyak dan tak begitu dekat dengan tempatku berada. Kampret. Untuk bisa merokok saja harus jalan begitu jauh (mungkin ada yang lebih dekat, tapi aku kan tidak tahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merokok sebatang sambil jalan, aku memutuskan enakan membaca buku lagi di dalam Metro yang bergoyang. Jadi, aku kemudian masuk stasiun, beli tiket, dan menunggu Metro berangkat. Setelah duduk di dalamnya, aku berkesimpulan bahwa Syubra Khaima adalah daerah yang "tak begitu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka tasku dan mengambil buku yang lain: Panorama Filsafat Modern. Metro bergerak (jurusan: Giza suburban) dan aku mulai membaca: Homo Ludens. Saat Metro sampai di stasiun terakhir, aku sampai di halaman terakhir bab Psikoanalisis dan Fenomenologi. Hm, cepat sekali Metro ini berlari dan lamban sekali aku membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, Giza suburban memang benar-benar pinggiran. Stasiunnya (aku lupa menceritakan bahwa kereta muncul ke permukaan sebelum sampai di stasiun, apa tadi namanya?), yang bernama El-Moneeb, kecil. Berada di sela-sela bangunan penduduk yang meski lumayan tinggi tapi hanya merupakan kotak. Bahkan batanya pun dibiarkan terlihat (sampai kiamat, mungkin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak menarik untuk dijelajahi: tak ada cerita-cerita menggairahkan tentang pelacur di sini. Jadi, sebelum ketinggalan, aku buru-buru masuk Metro yang sama, yang kini hendak kembali bergerak, balik, menuju Syubra Khaima. Aku membayangkan berada di Attaba dan melihat-lihat buku loak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun di stasiun Attaba, lalu naik ke permukaan lewat pintu masuk (dan keluar) Azbakiyya Garden. Belok kanan, lalu belok kiri, dan: selamat datang di kios-kios buku loak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih suka berada di sini daripada berada di toko buku Madbuly. Entah kenapa. Mungkin soal kantong. Mungkin soal untung-untungan dan keterkejutan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semacam (kucetak miring, untuk mengenang seorang kawan baik) &lt;/span&gt;harap-harap cemas. Tidak jarang aku mendapatkan buku bagus di sini, dengan harga 'receh' kalau dibandingkan dengan harga di Madbuly. Seperti hari ini: aku dapat buku karya Albert Camus dengan harga 3 pounds, Smart Alec's dengan harga 3 pounds juga, biografi Emile Durkheim yang ditulis Kenneth Thompson dan Tales of The Alhambra-nya W. Irving dengan harga masing-masing 5 pounds, Contemprary Croatian Drawing, Moses Maimonedes-nya Oliver Leaman dan buku Don Cupitt (Creation out of Nothing) dengan harga masing-masing 10 pounds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuaskan. Murah meriah. Dan aku rasa inilah waktunya untuk kembali ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pulang dengan diam-diam masih jengkel karena seharusnya aku bisa lebih ngotot saat tawar-menawar tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116541363723574537?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116541363723574537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116541363723574537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116541363723574537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116541363723574537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/perjalanan-hari-selasa-i-jam-tujuh.html' title='Perjalanan Hari Selasa'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116534293606931586</id><published>2006-12-05T20:19:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:04:52.539+02:00</updated><title type='text'>Langit Merah Malam Gerimis</title><content type='html'>Bayangkan kau sedang berada di sebuah negeri gurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari. Langit tiba-tiba merah, dan hujan merintik turun. Kau sedang berada di jalan, dengan jaket jeans tipis. Suhu mendingin. Udara menampar kasar. Debu menari-nari liar. Pulang dari sebuah warung makan Indonesia, bersama seorang kawan serumah (bayangkan kau bermukim di negeri tersebut), perut terisi penuh sedangkan otak melompong berisi jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tugas kuliah (kau kuliah di negeri itu) yang harus dikumpulkan besok. Jam pertama. Tasawuf. Kau disuruh bikin makalah tentang pandangan salah satu "imam yang empat" tentang tasawuf. Dan kau tidak memegang satupun buku referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pilihan yang menipu: kau boleh ingin mengerjakannya, tapi kau tak bisa memulai karena tak ada bahan. Atau kau bisa tak usah mengerjakannya, tapi kau takut nilaimu tak bagus. Pilihan yang menipu; ujung-ujungnya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti warna langit malam ini yang merah menipu. Suhu yang dingin menipu. Gerimis yang setengah hati menipu. Debu yang menari menipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seburuk apapun cuaca malam ini, kau akan bertekad untuk mengerjakannya, karena, seperti kata Subcomandante Marcos tentang rumah si Antonio Tua: malam tak bisa memasuki rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116534293606931586?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116534293606931586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116534293606931586' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116534293606931586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116534293606931586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/langit-merah-malam-gerimis-bayangkan.html' title='Langit Merah Malam Gerimis'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116528261743947883</id><published>2006-12-05T03:29:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:05:29.901+02:00</updated><title type='text'>Perdana Menteri Palestina</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Atau yang Kuingat dari Hari Kamis; Bagian Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Akhir bulan November kemarin, hari Kamis, aku, Anung, Amin dan Idris, jalan-jalan ke kampus (lihat, betapa parahnya: ke kampus pun jalan-jalan). Anung membawa kamera dan kami berangkat pagi-pagi. Sampai di kampus, Anung antri beli buku dan aku jalan-jalan bareng Amin ke toko buku yang ada di belakang gedung utama fakultas teologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu beberapa kenalan, berbasa-basi, bersenda gurau, bertukar "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gimana? &lt;/span&gt;Sehat?", dan kemudian kami melanjutkan jalan-jalan ke mesjid Al-Azhar (sengaja tak kusinggung apa aku masuk kelas atau tidak. Parah, kan?). Dan di depan pintu masuk sayap kirinya, seekor anjing pelacak yang amat besar (sebesar domba, sebetulnya, jadi tak amat besar) menjulurkan lidahnya pada kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang polisi yang memegang tali lehernya menghalau kami masuk. "Lewat pintu depan," katanya pada kami bahkan sebelum kami sempat membelokkan langkah menuju pintu gerbang sayap kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan "Ngapain anjing itu?" serta merta mengusik keasyikan jalan-jalan. Penjagaan ketat yang mencolok membuat kami bertanya-tanya: ada apa di mesjid Azhar? "Ada syeikh Azhar mau ke sini paling," kata Amin. "Ada pemeriksaan mungkin," bisik Anung. "Ada apa, ya?" tanya Idris. Dan aku diam saja. Sampai kemudian akhirnya kami tahu (dari seorang wartawan asal Amerika) bahwa siang itu perdana menteri otoritas (bahkan bukan disebut negara!) Palestina akan berkunjung ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail Henayeh. (Atau, bagaimana sih tulisannya yang benar?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, di pintu utama mesjid, sempat mendengar adu mulut penjaga pintu dengan seorang turis perempuan asing karena dilarang masuk. Jadi, apa aku tidak dianggap turis oleh si penjaga pintu itu, hingga aku diperbolehkan masuk, walau setelah tas yang aku bawa ia periksa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan. jelek-jelek begini aku kan juga turis, Pak! (Tapi, mengapa kamu tersinggung? O, jadi menurutmu turis selalu lebih keren daripada bukan turis?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lalu kumandang adzan dhuhur yang kencang dan tak enak di telinga. O, bukan soal apa. Suara orang Mesir kalau adzan memang tidak enak. Mereka seolah tak punya jiwa seni. O, jadi mengumandangkan adzan itu bagian dari seni? O, ya, tentu saja. Dan bukan ibadah? O, kau salah. Seni tidak melulu harus terpisah dengan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ikut salat berjamaah (mengapa harus ada kata-kata 'ikut'? Kami kan tidak biasa berjamaah). Aku di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shof &lt;/span&gt;keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, saat salat, sempat memperhatikan sekelilingku. Dan, mari, aku kasih tahu komposisi orang yang berjamaah saat itu: paling depan, sendirian, seorang imam berpakaian kebesaran (dengan kedua maknanya: makna asli dan kiasan. Maksudku, ukurannya kebesaran, juga pakaiannya pakaian kebesaran). Di baris depan tepat di belakang imam, berjejer orang-orang yang memakai seragam ulama. Jubah yang kedodoran. Tarbus (atau apa, ya, namanya?) warna merah yang melingkari tiap kepala. Mereka sekitar sepuluh orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping mereka, berjejer orang-orang biasa, (karena) berpakaian biasa. Ada yang berjaket, bercelana, berkemeja (orang Mesir jarang memakai T-Shirt), berjubah, dan satu orang bersarung (dia orang Indonesia kali! Tapi kok kulitnya hitam legam dan tubuhnya sebesar tubuh orang Mesir?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula yang berada di baris kedua dan ketiga: orang (yang tampak) biasa (karena) berpakaian biasa (mungkin aku yang justru tak biasa: salat dengan masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyangklong &lt;/span&gt;tas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai salam aku baru tahu bahwa komposisi baris keempat ternyata sedikit berbeda: ada Ismail Henayeh sedang salat di sana. Dia datang terlambat untuk (mengikuti?) salat berjamaah, hingga ia masih menambah rekaat saat imam selesai salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leher-leher memanjang. Kepala-kepala menoleh menjenguk. Lampu-lampu kamera berkedipan dari sana-sini (tak mau ketinggalan, Anung pun sibuk memotret). Semua tertuju pada satu objek: si pemimpin bangsa terjajah itu, yang masih meneruskan salat itu. Amin berkata dengan nada mengeluh pada Idris, "Kok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak &lt;/span&gt;ada yang motret aku, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu Henayeh selesai salam, ia bangkit, dan disambut oleh salah satu dari sekitar sepuluh orang berseragam ulama itu. Mereka berdua saling berpelukan, saling bertukar sapa, yang satu memegang kedua lengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian satu-satu sepuluh orang berseragam ulama itu bergantian memeluk, menyapa dan memegang kedua lengan Henayeh (tak lupa sambil tersenyum, tentunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tak ikut tersenyum, tapi aku sempat tertawa ngakak dua kali. Pertama setelah Henayeh keluar mesjid, saat aku mendengar seorang dari sepuluh orang berseragam ulama itu bertanya (dalam bahasa Arab pasaran, tentunya) pada kawannya yang juga berseragam ulama, "Eh, siapa sih tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngakakku yang kedua, lebih keras lagi, adalah saat mendengar jawaban dari pertanyaan itu: "Aku juga tidak tahu tuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116528261743947883?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116528261743947883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116528261743947883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116528261743947883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116528261743947883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/perdana-menteri-palestina-atau-yang.html' title='Perdana Menteri Palestina'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116517902955727262</id><published>2006-12-03T22:45:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:05:58.493+02:00</updated><title type='text'>Jawaban Mengapa</title><content type='html'>Aku harus mulai sering bangun pagi, salat (uh!), mandi (tak lupa gosok gigi), rapi dan berangkat ke kampus. Di sana aku akan menyimak apa yang bisa kusimak dari dari ucapan-ucapan duktur, komentar-komentar kawan sekelas yang paham, dan pertanyaan-pertanyaan kawan sekelas lainnya yang tak paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus mulai meluangkan waktu barang satu-dua jam, di sela-sela obrolan dengan kawan serumah, membuka buku-buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah dapat jam tangan, sesuatu yang kubutuhkan untuk bisa sesekali melongok waktu. Ada piranti-piranti lain yang juga bisa menunjukkan waktu, tapi jam tangankulah, bagiku, si penunjuk waktu paling meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan kurang baikku. Aku mulai tak banyak bicara, karena aku jadi makin sadar, semakin banyak aku bicara, makin tampak kebodohan dan kedunguanku. Aku tak lagi banyak keluyuran, karena ternyata kawan terbaikku justru ada di rak besar samping ranjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku potong rambut gimbal panjangku, beli peralatan mandi, sabun cuci, parfum (ruangan, badan dan baju), dan beberapa kaos (kaos T-Shirt dan kaos kaki). Dua pasang sepatu Adidas-ku pun bahkan sesekali aku cuci. Hebat, kan? Tak perlu dibesar-besarkan. Cukup ambil kesimpulan bahwa aku sedang ingin berubah; menuju yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat ada seorang kawan bertanya padaku mengapa semua ini, aku pun menjawab: karena tak ada orang lain yang mau melakukannya untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Desember 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116517902955727262?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116517902955727262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116517902955727262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116517902955727262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116517902955727262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/jawaban-mengapa-aku-harus-mulai-sering.html' title='Jawaban Mengapa'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-116515153555342542</id><published>2006-12-03T15:11:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T04:06:46.472+02:00</updated><title type='text'>Lembar Baru</title><content type='html'>Dalam membentuk identitas, seseorang berani memilih: mana yang harus dilupakan, mana yang hendak diingat. Tidak semua kenangan indah. Ada yang buruk. Ada yang disesali. Ada yang tak diakui. Ada yang dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada momen yang bermakna, hingga tak hendak dilupa. Ada saat yang hina, hingga membuat kita mengaca: bahwa identitas kita bukanlah cerita utuh seorang manusia. Ada yang dihapus dalam sejarahnya. Ada yang sengaja disingkirkan, bisa jadi, karena merusak pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas adalah modifikasi antara ingatan dan lupa, dan aku sedang mengerjakannya. Maka sebuah lembar baru harus dimulai. Yang sudah-sudah, yang tak lagi bermakna, direlakan untuk hilang: aku tak pernah diam-diam naksir kamu, Lelly. Aku tak pernah menyakitimu, Mas Afiq. Aku tak pernah menyalahkanmu, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah tak sayang padamu, M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Desember 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-116515153555342542?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/116515153555342542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=116515153555342542' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116515153555342542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/116515153555342542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/12/lembar-baru-dalam-membentuk-identitas.html' title='Lembar Baru'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-114275027607258209</id><published>2006-03-19T08:33:00.000+02:00</published><updated>2007-03-19T03:50:57.524+02:00</updated><title type='text'>Geregetan</title><content type='html'>Justru sejak saya meninggalkan Indonesia, saya jadi merasa memiliki Indonesia. Saya jadi sedikit lebih peduli dengan keadaan Indonesia; ekonominya, keamanannya, politiknya, sosial-budayanya. Walau semua itu hanya sepotong-potong. Paling tidak, saya peduli dengan segala hal tentang Indonesia, yang memiliki dampak langsung terhadap kondisi keuangan saya. Ada saatnya, kita harus bersikap realistis, bukan? Seorang oportunis tidak selamanya salah, kalau kita melihat dari sisi baiknya, paling tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya berangkat ke Mesir, satu dollar waktu itu dihargai Rp. 9.900,00-an. Saya teringat cerita Fela, adik saya yang ikut bapak ke BNI cabang Rembang untuk menukarkan uang. Si kecil Fela bercerita pada saya, “Mas, kasihan abah, Mas.” Kedua matanya redup memandang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Ya?” Kupanggil dia dengan sebutan kesayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayangin, Mas. Abah tadi ke bank. Abah ngasih duit sebungkus, dan yang dibalikin cuma sepuluh lembar! Duit aneh lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Fela, saya ketawa. Putri cekikikan. Bapak ngakak. Ibuk tersenyum. Dan Fela cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi waktu itu saya bisa menerimanya. Indonesia memang kacau. Rupiah tidak ada harganya, wajar. Oke, saya terima. Tidak masalah. Krisis moneter bukan buatan dalam negeri saja. Bule-bule justru punya andil lebih besar dalam melahirkannya. Itu pendapat seorang kawanku yang mengaku pernah menjadi wartawan, dan akhir-akhir ini kembali menjadi wartawan. Karena itu saya bisa menerima sikap apapun yang diambil pemerintah Indonesia: mereka dikendalikan, paling tidak, ditekan. Oleh siapa? Mana saya tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tetap berangkat dengan semangat ingin mengetahui negeri lain. Anak muda selalu tergelitik dengan misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sampai di Mesir, ingatan saya tentang Indonesia tinggal sedikit. Amat sedikit. Saya ingin melupakan Indonesia, dan saya berharap, begitu saya ingat kembali, Indonesia sudah berubah. Dalam bayangan saya saat itu, Indonesia lima tahun lagi adalah Indonesia yang beda. Paling tidak, bisa setara dengan Malaysia perekonomiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baru beberapa bulan, bencana itu mengagetkan saya: Aceh digempur badai. Pertanda buruk. Seperempat juta nyawa melayang entah ke mana. Satu propinsi berantakan. Kawan-kawan mahasiswa di sini pada sibuk mengumpulkan dana bantuan. Ibu-ibu Dharma Wanita KBRI repot menyelenggarakan Pesta Amal. Kawan-kawan yang berasal dari Aceh mendapat banyak santunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia menjadi sorotan rasa kasihan dunia. Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum hilang kenangan buruk Aceh, datang bencana lain: Jember banjir lumpur. Ratusan korban. Jawa Tengah bagian tengah menyusul. Puluhan meninggal. Rembang, akibat hujan tak henti-henti, tujuh badan meregang nyawa. Rata seluruh Jawa. Beberapa Sumatra. Entah mana lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi soal pulau; berapa sudah yang hilang disikat negara lain? Natuna kisah klasik—yang kini menjadi sekadar lirik lagu. Timor Timur. Beberapa waktu yang lalu pulau Bidadari. Kalau dipikir-pikir, Indonesia itu lucu. Dulu waktu Amien Rais mengusulkan perubahan bentuk negara menjadi negara federal, yang akan terbagi-bagi menjadi negara-negara bagian, semua menuduh dia sebagai orang yang tidak nasionalis. Tapi giliran satu dua tiga sepuluh pulau dicuri orang, kita begitu hati-hati mengatai si pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya tidak bisa melupakan Indonesia. Apalagi, keuangan saya sudah menipis. Mau tidak mau, kondisi ekonomi Indonesia jadi perhatian. Sebelum ke Mesir, saya tidak pernah peduli dengan ekonomi Indonesia. Uang habis, tinggal minta. Tidak dikasih, ya sabar. Tapi sekarang, barulah terasa: Amerika memang mafia. Dollar begitu kuatnya mencengkeram perekonomian dunia. Semua harus diukur dengan dollar. Euro baru menjadi kekuatiran Paman Sam—belumlah merupakan ancaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pertama yang menjadi perhatian saya adalah Ambalat. Pertanyaan itu selalu muncul dalam otak saya yang tidak besar: Mengapa kasus Ambalat bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut berita kawan saya si wartawan itu, Ambalat hanyalah rekayasa! Nyatanya, berita soal Ambalat dimuat di halaman terakhir koran-koran Malaysia. Tidak pernah kasus Ambalat menjadi berita utama! Badawi, si Perdana Menteri cuma pun senyum-senyum saja. Sedang kita, TNI kita, pada bersitegang. Unjuk kekuatan. Otot dipamerkan. Pesawat, yang hanya beberapa, dikerahkan. Padahal, kata kawanku itu, perbandingan kekuatan militer Indonesia dengan Malaysia adalah satu banding enam puluh. Sekali kita menembakkan peluru, Malaysia akan membalas enam puluh berondongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kawanku si wartawan itu kembali menghasut saya: Ambalat itu tepatnya adalah ancaman! Dia berbisik (lewat Yahoo Messenger) bahwa Ambalat ada kaitannya dengan Cepu. “Berani potong kuku,” bisiknya, “yang memenangkan ‘tender’ pastilah Exxon.” Hal ini dia ungkapkan sebelum Exxon benar-benar terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya, bagaimana Ambalat dan Cepu bisa saling berhubungan? Dia menjawab, setelah mengejek saya sebagai mahasiswa kampungan (karena hanya bisa melihat selebar kampung saja), bahwa Exxon adalah salah satu dari Seven Brothers, perusahaan besar minyak asal Amerika. Nyatanya, keluarga Bush banyak yang merupakan pebisnis minyak. “Ada tawaran yang lebih bagus dari perusahaan minyak asal Cina, sebetulnya,” kata kawanku itu, “tapi ditolak. Dan yang dipilih adalah Exxon. Setelah penjelasan saya, kau sungguh mahasiswa tergoblok sedunia kalau tidak tahu mengapa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak percaya tahayul. Saya produk jaman serba rasional. Dan kalau penjelasan kawan saya itu memuaskan intelejensi saya, saya bisa puas dan menerimanya, tanpa repot-repot melakukan riset. Dalam hal ini, saya benci Al-Azhar University, tempat saya kuliah. Mereka tidak memberikan apa yang saya butuhkan. Bahkan, oleh Al-Azhar, saya tidak pernah diajarkan untuk kritis. Para pengajar hanya berpidato di ruang kelas. Mereka menerima pertanyaan-pertanyaan, tapi menolak sanggahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, beberapa hari yang lalu, telah diputuskan siapa operator Cepu. Lebih celaka, masa kontrak itu puluhan tahun. Habislah! Pertamanya, saya tidak habis pikir. Tapi kemudian, yang terbayang dalam benak saya adalah, betapa ringkih dan lemahnya pemerintahan Indonesia. Jakarta sama sekali tidak berdaya dan tidak punya kekuatan bahkan hanya sekadar untuk mengatakan tidak pada keinginan Exxon. Saya membayangkan kekuatan luar biasa yang berada di balik Exxon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Freeport tidak pernah bisa menjadi pelajaran. Indonesia tidak berdaya untuk belajar. Berapa milyar trilyun yang dicuri dari tanah air kita Indonesia? Bahkan kita tidak tahu! Dan lihat apa yang disisakan untuk rakyat Indonesia, rakyat Timika khususnya? Sampah! Limbah yang berbahaya dan merusak ekosistem. Kita tidak berdaya. Kontraknya masih berlaku. Seringkali, kita lebih peduli pada pihak-pihak yang tidak berdaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apa hasil dari kepedulian saya terhadap Indonesia? Rasa geregetan! Dengan penuh sesal, saya harus mengakui, bahwa hanya rasa itulah yang saya dapatkan. Kawan saya berhasil menghasut saya. Saya menjadi begitu tak berdaya memikirkan Indonesia.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-114275027607258209?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/114275027607258209/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=114275027607258209' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/114275027607258209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/114275027607258209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2006/03/geregetan-sekadar-catatan-pribadi.html' title='Geregetan'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-113406115848627018</id><published>2005-12-08T18:53:00.000+02:00</published><updated>2007-03-24T03:52:59.760+02:00</updated><title type='text'>Nenek Lampir Tak Mampu Beli Tiket Pesawat</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6324/1306/1600/witch-brew.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6324/1306/320/witch-brew.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tadi, jam satu malam, perut saya melilit, dan saya kesakitan. Harus pergi ke kamar kecil kalau mau meredakan lilitan di perut. Dan pergilah saya ke kamar kecil. Saat duduk di atas kloset, ditemani sebatang rokok menyala, entah bagaimana suatu pikiran melintas begitu saja di ujung kepala saya yang bundar tak rata: bagaimana kalau nenek lampir tiba-tiba datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti saya akan ketakutan; rokok saya akan terjatuh, mulut menganga, dan kemudian saya pingsan sebelum mampu berteriak nyaring. Paginya orang-orang akan ketawa menemukan saya tergeletak setengah telanjang di dalam kamar kecil. Huh, gambaran yang tidak menyenangkan. Tapi lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau Nyi Loro Kidul tiba-tiba muncul di pojok dan menyapa kemudian ketawa cekikikan sendiri? Apa saya tidak salah tingkah? Apa saya lantas akan malu dan berusaha menutup aurat saya? Sempatkah? Paling saya sudah semaput duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa saya jadi lupa bagaimana rasanya takut pada mereka sekarang? Saya di sini, di dalam kamar kecil, sendirian, jam satu malam, dan lampu remang. Tapi mengapa saya memikirkan semua ini sambil cengar-cengir dan dengan perasaan bercanda yang asyik? Apa keangkeran mereka, Nyi Loro Kidul dan Nenek Lampir, sudah luntur dari kenangan masa kecil saya? Atau, apa justru kenangan masa kecil itulah yang telah hilang dari keseluruhan diri saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi takut. Ya, takut kehilangan masa kanak-kanak saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk menghibur ketakutan itu, saya akhirnya menggumam pelan, “Alah, nenek lampir mana kuat beli tiket Jakarta-Kairo? Apalagi kalau ke sini cuma pengen nakut-nakutin saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya tergelak. Sebentar melupakan ketakutan saya tentang... masa kanak-kanak yang mulai terkikis..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-113406115848627018?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/113406115848627018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=113406115848627018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/113406115848627018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/113406115848627018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2005/12/nenek-lampir-tak-mampu-beli-tiket.html' title='Nenek Lampir Tak Mampu Beli Tiket Pesawat'/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14438665.post-112122410742945929</id><published>2005-07-13T06:05:00.000+03:00</published><updated>2006-12-05T20:30:44.466+02:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nil yang Binal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sehari aku meninggalkan tumpah darah dengan segala hiruk pikuk dan kegalauannya yang berkepanjangan dan tiada segera menggapai ujung. Juga segala ingatan tentang sebuah negeri: rumah yang damai, nenek yang penuh kasih, ayah yang melindungi dan bunda yang menyayangi dan kedua adikku yang amat kusayang. Memang sudah kubulatkan dalam dada: sekali hilang, hilanglah sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau suatu saat sesuatu yang hilang itu bisa kembali, itu adalah hal lain yang tidak perlu dipikirkan sekarang: bukan urusan manusia. Sekali laju, untuk apa menoleh? Toh yang kutinggalkan sebenarnya juga bukan milikku. Hei, manusia goblok, punya apa kau? Begitu sering aku berusaha menguatkan diri. Tabah. Tegar. Seperti batu karang di pesisir di desa tempat aku dilahirkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramugari memang terpilih, hanya orang yang terpilih. Tubuhnya harus berisi, wajahnya bercahaya. Juga harus murah senyum. Pokoknya, bidadari sorga. Dan karena itu semua, aku mimpi basah di atas pesawat. Brengsek. Manusia tanpa guna ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari hampir petang ketika aku sampai di bandara Jadid Kairo. Tapi matahari masih mampu menembusi kaos putih dan celana soft jeans-ku untuk memberikan rasa sengat di sekujur kulitku. Padahal bulan sudah memasuki musim dingin. Tanda jaman. Semua sudah berubah. Tidak ada lagi garis lurus. Semua lengkung, kata Einstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dijemput oleh seseorang yang belum pernah kukenal. Aku mengenalinya sebagai seorang penjemputku dari selembar kertas yang bertuliskan namaku yang dia lambai-lambalikan, dan dia mengenaliku sebagai orang yang harus dijemput karena aku menghampirinya dan mengaku sebagai pemilik nama yang dia pampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jabat tangan. Hanya senyum seorang professional. Semua serba mekanik di sini, aku mencatat dalam hati. Aku diantar ke sebuah flat tempat aku akan tinggal empat tahun untuk meneruskan studi memakai sebuah mobil VW Pollo yang kursinya masih terbungkus plastik. Tugasnya hanya mengantar, dan setelah itu, selesailah semua dan segala antara aku dan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, seorang kawan lama mendatangiku. Badawi namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat datang di sorga, Kawan,” sambutnya dengan hangat. “Ingin belajar, inilah sorga,” lanjutnya sambil membentangkan kedua tangannya, “Kalau kau ingin yang paling penipu, yang paling bangsat, yang paling binal sekalipun, inilah sorga.” Lalu gerai tawa yang sangat kusuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun ikut senang mendengar kelakarnya. Sebuah sambutan yang menggairahkan.  Tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorga macam apa kaumaksud itu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok kuajak kau ke sungai Nil, tempat Musa ditelantarkan ibunya, tempat mandi para bidadari kerajaan Fir’aun. Biar kau tahu aku tidak omong kosong. Sorga ya sorga.” Dia langsung mengajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh pagi, kami—aku dan Badawi—berangkat ke Tahrir, tepian Nil yang ramai. Dari flat, kami naik bus yang sesak dengan manusia dan keringat dan bau dan ocehan mulutnya. Logat Mesir yang kental, bau ketiak lelaki yang alami dan memualkan, segera menyergap kesadaranku bahwa aku bukan lagi di Indonesia, di Rembang, kota kecil di pojok Jawa Tengah tempat aku menghabiskan empat belas tahun pertamaku hidup di dunia yang hanya sekali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di terminal bus, Ramsis, kami ganti angkutan tramco, menuju Tahrir. Gadis-gadis berjilbab dan pemuda-pemuda berpakaian norak dengan rambut bercat menyambut kedatangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Badawi sibuk dengan gadis-gadis, aku berdiri memisah di tepi sungai bersandarkan pagar merenungi langit dan bumi dan salah satu isinya: Nil. Aku jadi teringat mbah Maemun, seorang kiai saleh dan terhormat di Rembang sana. Suatu saat dalam pengajiannya yang kuikuti, beliau pernah mengutarakan pendapatnya bahwa jantung dunia inilah salah satunya; Nil. Ada tiga lagi: Dajlah, Eufrat, dan satu lagi di Rusia. Satu saja kehabisan airnya, tamat dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, kiamat belum akan terjadi semasa kita hidup: sungai Nil masih menampungi banyak air, sedang perjalanan bumi kelilingi semesta belum ada separonya. Mungkin tiga milyar tahun lagi baru kiamat. Saat itu, namaku dan namamu dan semua yang hidup di jaman ini akan kehilangan artinya masing-masing. Yang ada tinggallah pengertian kolektif, bahwa “Inilah manusia purba nenek moyang kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang memanggilku dengan cara memanggil khas Mesir. “Sssst, ssst.” Aku menoleh dan ternyata seorang gadis arab kawan baru Badawi. Dia bicara padaku dengan bahasa arabnya yang cepat dan sukar. Aku tidak tahu dia berkata apa, tapi tahu maksudnya: bahwa aku dipanggil Badawi untuk ikut bergabung dengannya membual ini itu dengan para gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, gadis Mesir memang cantik-cantik. Dan montok. Seksi habis. Sayang sekali kecantikan dan kemontokan dan tubuh seksi mereka tertutup oleh pakaian tradisional timur tengah. Coba lepas itu jilbab, dan baju, dan apapun yang lekati tubuh mereka. Dunia akan langsung kiamat tanpa harus menunggu Nil mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ismak Ay?” Tanya seorang gadis padaku. Dan aku tidak tahu maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namamu siapa, Goblok!” Badawi menerjemahkan untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ismi Nadif,” Aku menjawab. Kutambahi, “Kamu cantik. Montok. Seksi. Pujaan dunia. Bintang hidup. Tapi sayang kamu bau! Aku tahu kamu suka aku. Tapi aku tidak!” Mengoceh sembarang terserah aku, toh tidak ada yang tahu artinya kecuali Badawi. Dan para gadis hanya tertawa. Riang. Renyah. Sambil bertanya-tanya apa artinya. Sesuatu yang sangat kusuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ramah pada kami. Terutama pada Badawi. Aku lebih banyak diam, meniru sikap Nil. Dan atas kesamaan itu aku jadi merasa memiliki hubungan entah-apa dengan Nil. Mungkin karena aku keturunan Musa. Atau Firaun. Dan angin yang datang berhembus dari atas Nil seperti menyapa, membisikiku sesuatu yang agung. Atau biasa saja—hanya perasaan seorang yang takjub. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang membelai telingaku terasa dingin. Sedang matahari menebarkan terik. Dan di bawahnya, sungai Nil melingkari Mesir dan Sudan. Yang aku bisa hanyalah merenunginya saja. Paling tidak, memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para gadis kami diajak naik kapal. Kata Badawi menirukan omongan mereka, “Ayo kita naik kapal. Mengaliri Nil, pakansi ke Qanathir, kebun bunga di ujung delta.” Jadilah kami naik kapal aliri Nil. Seorang enam pounds. Kira-kira sekitar sepuluh ribu. Aku belum menukar uang ketika itu, dan yang membayar karcisnya adalah Badawi. Gratis, karena itu aku mau saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun naik kapal bersama empat gadis Mesir yang aduhai semua. Aku jadi ingat dengan seorang kawan lain, Fatah namanya. Dia pernah berkata padaku, “Di Rembang sini, sepuluh gadis hanya satu yang cantik. Di Kairo, sepuluh gadis hanya satu yang jelek.” Sekarang, baru aku percaya pada bualan yang benar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal itu kapal biasa. Muat lima ratus orang asal berdesakan. Dan penumpangnya, kata Badawi, selalu lebih dari lima ratus. Maka itu memang harus berdesakan. “Dan justru itulah yang aku cari. Kuajari kamu bagaimana menari—tarian Mesir, Sobat! Perut harus berputar seperti gasing. Pantat harus megal-megol. Kalau kau tidak bisa, kau dianggap banci.” Begitu kata Badawi keras sekali dalam bahasa Indonesia. Para gadis terus ketawa. Dan aku terus nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal itu kapal biasa, seperti kapal manapun. Tapi ada satu yang lain. Di dek atas, terpasang seperangkat speaker besar. Dan kuperhatikan, banyak gadis dan pemuda yang duduk-duduk mengerumuninya. Pertama aku tidak paham mengapa. Tapi sepuluh menit kemudian, setelah kapal berangkat, semua jadi jelas: musik diputar sekerasnya. Ingar-bingar. Lagu padang pasir modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh pemuda bangkit menari. Disusul sepuluh lagi, sepuluh lagi. Lantas lagi. Lalu lagi. Kemudian para gadis berjilbab juga ikut menari. Kawan-kawan baru Badawi mengajak. Aku tidak mau. Badawi mau sekali. Dia kelihatan sangat gembira. “Goblok! Menari tidak mau. Cari apa kau di sini? Inilah dia tarian jahiliah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya gelengkan kepala tidak habis pikir. Menghembuskan napas panjang. Para gadis itu berjilbab, dan mereka menari begitu binal. Apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menari Badawi berteriak padaku, “Apa kubilang, Goblok? Inilah sorga. Dengar musiknya. Kata kiai inilah dia musik sorga. Dan bidadarinya? Siapa itu yang lenggak-lenggokkan perut dan memutar-putar bokong semoknya?” Lantas suara ketawa yang panjang dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih gelengkan kepala, dan kini sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Nil yang tidak pernah mengering, baik air ataupun para gadisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di atas kapal di atas air sungai Nil yang tenang dan keruh, aku pun memaksakan diri untuk mimpi basah sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairo, 2004.&lt;br /&gt;untukmu, Fat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14438665-112122410742945929?l=nadhief.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nadhief.blogspot.com/feeds/112122410742945929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14438665&amp;postID=112122410742945929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/112122410742945929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14438665/posts/default/112122410742945929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nadhief.blogspot.com/2005/07/nil-yang-binal-baru-sehari-aku.html' title=''/><author><name>Nadhief Shidqi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17276248965189597543</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_DCUAOozTsPM/R6RcHxq2xZI/AAAAAAAAADE/1LrUSL0OdYE/S220/hm4.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
